MARKET DATA

Beda Nasib Mata Uang Asia: Won-Yen Perkasa, Rupiah Tertekan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
19 August 2026 09:53
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia tampil tidak kompak pada perdagangan pagi ini, Rabu (19/8/2026). Dolar Amerika Serikat (AS) memang melemah tipis di pasar global, tetapi respons mata uang Asia masih beragam.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.17 WIB, sebanyak empat dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat terhadap dolar AS. Di saat yang sama, empat mata uang melemah dan dua lainnya stagnan.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won menguat 0,49% ke posisi KRW 1.405,72/US$.

Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,14% ke posisi JPY 159,4/US$. Dolar Taiwan juga bergerak positif dengan penguatan 0,12% ke TWD 31,888/US$, sementara dolar Singapura naik 0,05% ke SGD 1,277/US$.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia. Peso melemah 0,17% ke posisi PHP 61,860/US$.

Baht Thailand juga terkoreksi 0,15% ke THB 33,10/US$, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,10% ke MYR 4,060/US$.

Rupiah juga belum mampu lepas dari tekanan. Mata uang Garuda melemah 0,06% ke posisi Rp17.860/US$.

Sementara itu, yuan China dan dong Vietnam terpantau stagnan di posisi CNY 6,742/US$ dan VND 26.174/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY pada waktu yang sama terpantau melemah tipis 0,04% ke posisi 99,618.

Dolar AS masih bergerak terbatas terhadap mata uang utama dunia. Pasar saat ini terus menimbang peluang respons yang lebih dovish dari The Federal Reserve/The Fed setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.

Dalam beberapa pekan terakhir, data ekonomi AS memberi sinyal perlambatan. Mulai dari pelemahan pasar tenaga kerja, data inflasi yang lebih jinak, hingga ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru kembali menaikkan suku bunga.

Ekspektasi pasar untuk rapat September juga berubah. Peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin kini berbalik menjadi peluang The Fed menahan suku bunga yang mendekati 70%, setelah sebelumnya pasar masih cukup kuat memperkirakan kenaikan.

Eugene Epstein, head of structured products Moneycorp North America, menilai pergerakan dolar saat ini mencerminkan perubahan persepsi pasar terhadap arah The Fed.

"Level saat ini, khususnya pasangan mata uang berbasis dolar, mencerminkan kejutan dovish yang terlihat pada rapat The Fed terakhir atau setidaknya interpretasi pasar terhadap sikap dovish tersebut," ujar Epstein, dikutip dari Reuters.

Menurut Eugene, Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya terlihat cenderung hawkish menjelang keputusan suku bunga terakhir. Namun, pasar kini tidak lagi membaca sikap tersebut sekuat sebelumnya, terutama setelah data inflasi dan tenaga kerja tidak menunjukkan tekanan yang besar.

Scotiabank juga menilai peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September semakin kecil.

"Inflasi yang jinak dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS membuat kenaikan suku bunga The Fed pada September sangat tidak mungkin pada titik ini," tulis analis Scotiabank yang dipimpin Shaun Osborne, dikutip dari Reuters.

Meski begitu, dolar AS belum sepenuhnya kehilangan tenaga. Risiko inflasi masih menjadi perhatian karena konflik AS-Iran belum selesai dan Selat Hormuz masih tertutup secara efektif. Kondisi tersebut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan energi dan harga minyak.

Imbal hasil obligasi global juga kembali naik karena pasar mencermati dampak harga energi terhadap inflasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun bahkan naik ke level tertinggi sejak 2007, sementara harga minyak Brent bertahan di sekitar US$91,02 per barel.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular