Mata Uang Asia Pesta Pora, Rupiah Malah Gigit Jari
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026). Namun, rupiah justru bergerak berlawanan arah dan menjadi satu-satunya mata uang yang melemah pagi ini.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.33 WIB, sembilan dari 10 mata uang Asia yang dipantau berhasil menguat terhadap dolar AS. Sementara hanya rupiah yang masuk zona merah.
Baht Thailand dan peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Keduanya sama-sama menguat 0,09%, dengan baht berada di posisi THB 33,28/US$ dan peso Filipina di PHP 62,767/US$.
Won Korea Selatan menyusul dengan kenaikan 0,06%, disusul dong Vietnam yang menguat 0,05%. Dolar Taiwan juga naik 0,04%.
Yen Jepang, yuan China, dan dolar Singapura sama-sama menguat 0,03%, sementara ringgit Malaysia naik tipis 0,02%.
Di sisi lain, rupiah menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah. Mata uang Garuda terkoreksi 0,28% ke posisi Rp17.780/US$.
Dolar AS masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah mata uang Asia pagi ini. DXY tercatat menguat tipis 0,03% ke posisi 100,256.
Penguatan tersebut memang tidak besar, tetapi dolar AS masih bertahan di atas level 100. Kondisi ini menandakan greenback masih cukup solid setelah pekan lalu melesat lebih dari 1% usai The Fed menaikkan suku bunga dan membuka peluang kenaikan lanjutan.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober mencapai 55%. Angka tersebut naik dari 42,5% pada pekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.
"Kami tidak berpikir pemilu sela akan menjadi faktor pembatas bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lagi pada Oktober," ujar Thomas Simons, chief US economist Jefferies, dikutip dari Reuters.
Selain The Fed, perhatian pasar juga tertuju kepada yen Jepang. Mata uang Jepang sempat jatuh tajam pada pekan lalu meski Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun.
BOJ pada Jumat pekan lalu menaikkan suku bunga ke 1,25%. Namun, keputusan tersebut belum mampu memberi dorongan besar bagi yen karena pasar kecewa dengan adanya dua suara berbeda dalam keputusan tersebut dan tidak adanya sinyal yang cukup tegas soal arah kenaikan suku bunga berikutnya.
Yen sempat melemah tajam sebelum laporan Nikkei menyebut pejabat Jepang melakukan rate check. Dalam praktiknya, rate check dilakukan ketika otoritas meminta kuotasi nilai tukar kepada bank untuk mengukur kondisi pasar. Langkah ini kerap dilihat pelaku pasar sebagai sinyal awal sebelum intervensi mata uang.
"Standar bagi BOJ untuk meyakinkan pasar soal sikap hawkish mereka masih tinggi, terutama dalam mengarahkan ekspektasi terhadap yen," ujar Fred Neumann, chief Asia economist HSBC, dikutip dari Reuters.
Neumann menilai investor dalam beberapa pekan dan bulan ke depan kemungkinan kembali menguji keseriusan BOJ dalam mendorong suku bunga lebih tinggi dan mengimbangi pengetatan The Fed.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw)