MARKET DATA

Aramco, Mesin Uang Arab Saudi: Sekaya Apa Sampai Jadi Sasaran Musuh?

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
19 October 2026 16:15
Saudi Aramco. (AFP/FAYEZ NURELDINE)
Foto: Saudi Aramco. (AFP/FAYEZ NURELDINE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, kembali menjadi sorotan setelah kantor pusatnya di Dhahran menjadi sasaran serangan rudal balistik pada Selasa (13/10/2026) malam waktu setempat.

Melansir Reuters, Rabu (14/10/2026), serangan tersebut menyebabkan kebakaran terbatas dan merusak tiga lantai teratas salah satu gedung perkantoran Aramco. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut.

Serangan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas minyak Arab Saudi, terlebih kelompok Houthi sebelumnya juga mengancam akan menyerang kilang Aramco di Riyadh.

Kekhawatiran tersebut tidak lepas dari posisi Arab Saudi sebagai salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Berdasarkan data OPEC, Arab Saudi memproduksi rata-rata 9,48 juta barel minyak mentah per hari pada 2025, setara dengan sekitar 12,7% produksi minyak mentah global.

Sementara itu, Saudi Aramco beroperasi di lebih dari 50 negara melalui jaringan anak usaha, afiliasi, dan perusahaan patungan. Per akhir 2025, kapasitas pengilangan globalnya secara gross mencapai 7,8 juta barel per hari.

Operasi Aramco Tersebar di Lebih dari 50 Negara

Bisnis Saudi Aramco tidak hanya berpusat di Arab Saudi. Perusahaan ini juga menjalankan berbagai kegiatan usaha di sejumlah negara, mulai dari produksi minyak dan gas, pengilangan, perdagangan energi, hingga distribusi dan pengembangan teknologi.

Berdasarkan Annual Report 2025, Aramco memiliki jaringan operasi di lebih dari 50 negara melalui anak perusahaan, perusahaan afiliasi, dan usaha patungan.

Dari daftar lokasi operasi global yang dihimpun, terdapat 56 negara dan wilayah yang tersebar di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, hingga Oseania. Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk dalam daftar tersebut.

Aramco sendiri pernah berencana bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan Kilang Cilacap, Jawa Tengah, melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP).

Kerja sama yang dirintis sejak 2016 itu bertujuan meningkatkan kapasitas pengolahan Kilang Cilacap dari sekitar 348.000 menjadi 400.000 barel per hari.

Namun, setelah melalui negosiasi selama beberapa tahun, kerja sama Aramco dan Pertamina dalam proyek tersebut berakhir pada 2020. Pertamina kemudian melanjutkan rencana pengembangan kilang tanpa Aramco.

Kapasitas Kilang Aramco Capai 7,8 Juta Barel per Hari

Selain memproduksi minyak mentah, Aramco memiliki jaringan pengilangan yang tersebar di sejumlah negara.

Kapasitas pengilangan bruto (gross refining capacity) Aramco secara global mencapai 7,8 juta barel per hari pada 2025, meningkat dari 7,7 juta barel per hari pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, kapasitas pengilangan neto (net refining capacity), yang memperhitungkan porsi kepemilikan Aramco, naik dari 4,1 juta menjadi 4,2 juta barel per hari.

Dalam peta Global Refining Footprint 2025, Aramco mencantumkan 17 entri fasilitas dan perusahaan pengilangan di tujuh negara, yakni Arab Saudi, Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Polandia.

 

Dari jaringan pengilangan tersebut, Arab Saudi menjadi negara dengan jumlah kilang terbanyak yang dicantumkan dalam laporan Aramco.

Perusahaan memiliki sembilan kilang di Arab Saudi dengan total kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 3,35 juta barel per hari. Lima kilang dimiliki sepenuhnya oleh Aramco, sementara empat lainnya dimiliki bersama mitra usaha.

 

Ras Tanura menjadi kilang dengan kapasitas terbesar, yakni 550.000 barel per hari, disusul SATORP sebesar 465.000 barel per hari dan YASREF sebesar 450.000 barel per hari.

Secara keseluruhan, sembilan kilang tersebut menyumbang sekitar 43% dari total kapasitas pengilangan bruto Aramco secara global pada 2025.

Produksi Hidrokarbon Aramco

Selain memiliki jaringan kilang yang luas, Aramco juga mencatat peningkatan produksi hidrokarbon sepanjang 2025.

Rata-rata produksi hidrokarbon cair (total liquids) Aramco mencapai 10,68 juta barel per hari, naik sekitar 3,8% dari 10,29 juta barel per hari pada 2024.

Produksi tersebut mencakup minyak mentah serta hidrokarbon cair lainnya, termasuk natural gas liquids (NGL) dan kondensat.

Sementara itu, total produksi hidrokarbon yang turut memperhitungkan gas alam mencapai 12,89 juta barel ekuivalen minyak per hari pada 2025, meningkat sekitar 3,9% dibandingkan 12,40 juta barel ekuivalen minyak per hari pada 2024.

 

Memasuki semester I 2026, rata-rata produksi hidrokarbon cair Aramco tercatat sebesar 9,06 juta barel per hari. Adapun total produksi hidrokarbon mencapai 11,03 juta barel ekuivalen minyak per hari.

Angka tersebut merupakan rata-rata produksi harian selama enam bulan pertama 2026, sedangkan data 2024 dan 2025 mencakup satu tahun penuh.

Aramco sendiri menghasilkan berbagai jenis minyak mentah, mulai dari Arabian Super Light, Arabian Extra Light, Arabian Light, Arabian Medium, hingga Arabian Heavy.

Dari kelima jenis tersebut, Arabian Super Light, Arabian Extra Light, dan Arabian Light menyumbang sekitar 70% dari total produksi minyak mentah Aramco pada 2025, meningkat dari 68% pada tahun sebelumnya.

Pendapatan Aramco Sempat Tembus US$535 Miliar

Besarnya bisnis Aramco juga terlihat dari pendapatan perusahaan yang mencapai ratusan miliar dolar AS setiap tahunnya.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan Aramco mencapai US$ 204,83 miliar pada 2020. Angka tersebut melonjak menjadi US$359,18 miliar pada 2021, sebelum kembali meningkat menjadi US$535,19 miliar pada 2022.

Tahun 2022 menjadi periode dengan pendapatan tertinggi sepanjang 2020 hingga 2025. Pada tahun yang sama, laba bersih Aramco juga mencapai US$161,07 miliar.

Namun, setelah mencapai puncaknya, pendapatan dan laba bersih perusahaan terus mengalami penurunan selama tiga tahun berikutnya.

 

Pada 2025, pendapatan Aramco tercatat sebesar US$415,82 miliar turun sekitar 4,8% dibandingkan 2024.

Penurunan juga terjadi pada laba bersih perusahaan yang menyusut dari US$ 106,25 miliar pada 2024 menjadi US$ 93,39 miliar pada 2025 atau turun sekitar 12,1% secara year on year.

Melemahnya kinerja Aramco terutama dipengaruhi penurunan harga minyak mentah serta produk pengilangan dan kimia. Namun, dampaknya sebagian tertahan oleh peningkatan volume penjualan.

Di tengah besarnya bisnis Aramco dan pentingnya posisi Arab Saudi dalam pasokan minyak dunia, serangan terbaru terhadap fasilitas perusahaan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Meski belum ada konfirmasi gangguan produksi akibat serangan di Dhahran, perkembangan konflik tetap perlu dicermati, terutama jika serangan meluas hingga mengganggu fasilitas produksi, pengilangan, maupun distribusi minyak.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular