Memasuki perdagangan Jumat (2/10/2026), pelaku pasar akan mencermati perkembangan perang, penguatan dolar AS, serta tingginya imbal hasil US Treasury. Dari domestik, respons investor terhadap reshuffle kabinet dan rilis data PMI manufaktur, neraca perdagangan, serta inflasi turut menjadi perhatian.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG mengawali perdagangan Oktober di zona merah. Indeks turun 1,02% atau 61,64 poin ke level 6.009,50 kemarin, Kamis (1/10/2026), sekaligus menyentuh level penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang sekitar 122 poin, dengan posisi terendah di level 5.973 dan tertinggi di 6.095.
Volume perdagangan mencapai 32,95 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,07 triliun dan frekuensi 1,58 juta kali.
Sebanyak 206 saham menguat, 450 melemah, dan 134 lainnya stagnan. Tekanan terutama datang dari sektor konsumer nonprimer yang turun 1,97%, disusul barang baku sebesar 1,91% dan teknologi sebesar 1,50%.
Investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp241,86 miliar.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut menjadi pemberat pergerakan indeks.
Dari domestik, investor mencermati reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto serta rilis PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi. Dari luar negeri, perkembangan perang masih membayangi pasar, di tengah penguatan manufaktur China, inflasi PCE AS yang lebih rendah dari ekspektasi, serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS.
Dari pasar mata uang, rupiah menutup perdagangan kemarin (1/10/2026), dengan pelemahan setelah menguat tajam sehari sebelumnya.
Pelemahan tersebut membawa rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000/US$. Tekanan terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) naik 0,23% ke posisi 101,678.
Dolar AS mendapat dukungan dari kenaikan imbal hasil US Treasury di tengah kekhawatiran inflasi global akibat perang AS-Israel dengan Iran. Yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,33%, level tertinggi sejak 2002.
Dari dalam negeri, inflasi September meningkat menjadi 0,30% secara bulanan dari 0,21% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi naik menjadi 3,28% dari 3,19%, sementara inflasi inti melandai menjadi 2,84% dari 2,92%.
Meski inflasi tahunan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%, kondisi tersebut belum cukup menahan tekanan penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,159% pada perdagangan kemarin, Kamis (1/10/2026), dari penutupan sebelumnya di 7,106%. Kenaikan yield sebesar 5,3 basis poin tersebut mencerminkan pelemahan harga SBN tenor 10 tahun.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street mengawali perdagangan Oktober dengan penguatan tipis. Investor kembali memburu saham setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau Treasury mulai turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Indeks S&P 500 naik 0,19% dan ditutup pada level 7.666,45. Indeks teknologi Nasdaq Composite menguat tipis 0,04% menjadi 26.871,60. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menanjak 20,51 poin atau 0,04% ke posisi 50.926,56.
Pergerakan positif ini terjadi setelah tekanan dari pasar obligasi mulai mereda.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat melonjak ke level tertinggi harian 5,344%, menjadi level tertinggi sejak 2002. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun juga menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
"Saya melihat ada sedikit kelelahan di pasar obligasi. Kita telah mengalami kenaikan 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi," ujar Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, kepada CNBC Internatinal.
Menurutnya, pasar mulai optimistis bahwa kenaikan yield menuju level 5% hanya bersifat sementara. Namun, kondisi tersebut sangat bergantung pada penyelesaian konflik Iran.
"Harus ada solusi terkait Iran agar kondisi ini bisa terjadi," katanya.
Belakangan ini, pergerakan saham cenderung berlawanan dengan yield obligasi. Ketika yield turun, pasar saham biasanya menguat. Namun, kenaikan harga minyak masih membatasi optimisme investor terhadap aset berisiko.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% dan ditutup di level US$92,87 per barel. Investor menanti langkah berikutnya dari Presiden Donald Trump terkait konflik Iran, termasuk kemungkinan apakah pemerintah AS akan menunda tindakan militer hingga setelah pemilu sela (midterm).
Memasuki perdagangan hari ini, Jumat (2/10/2026), pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, reshuffle kabinet, implementasi short selling, serta respons pasar terhadap data manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi akan menjadi perhatian.
Sementara dari eksternal, perkembangan perang dan harga minyak serta rilis data ketenagakerjaan AS, inflasi Zona Euro, dan tingkat pengangguran Jepang turut membayangi pergerakan pasar.
Sentimen AS diperkirakan akan sangat membayangi pasar hari ini mulai dari lonjakan US Treasury, data klaim pengangguran, ISM Manufacturing, tingkat pengangguran hingga non-farm payrolls
1. Harga Minyak Melonjak: AS Kirim Kapak Induk Lagi, China Stop Ekspor
Harga minyak dunia melonjak lebih dari US$4 per barel pada Kamis (1/10/2026), dipicu kekhawatiran pasokan setelah AS dikabarkan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah dan China menghentikan ekspor produk minyak.
Brent naik 4,37% menjadi US$102,31 per barel, sementara WTI menguat 2,71% ke US$92,87 per barel.
Wall Street Journal melaporkan AS akan mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah. Presiden Donald Trump juga mempertimbangkan kembali serangan terhadap Iran
Tekanan semakin besar setelah China menghentikan ekspor produk minyak di luar Hong Kong dan Makau. Pasokan diesel global juga ketat setelah Rusia melarang ekspor hingga Oktober.
Kondisi tersebut membuat pasar khawatir kelangkaan bahan bakar global semakin parah, terutama jika konflik Timur Tengah kembali memanas.
Kenaikan terjadi setelah laporan Wall Street Journal menyebut AS akan mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 tambahan personel militer ke Timur Tengah. Presiden Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan kembali serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS.
Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran.
"Sekarang saya harus mengambil keputusan. Mereka akan menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi," kata Trump.
Sentimen semakin panas setelah China menghentikan ekspor produk minyak ke luar Hong Kong dan Makau hingga waktu yang belum ditentukan.
"Penghentian ekspor China menunjukkan kekhawatiran terhadap ketersediaan produk minyak di dalam negeri," kata analis UBS Giovanni Staunovo, kepada Reuters.
2. Bunga Utang Global Meledak, Yield AS Tembus Level Tertinggi 23 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi global kembali tertekan pada Kamis (1/10/2026). Yield obligasi AS, Prancis, Inggris hingga Jepang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Yield Treasury AS 10 tahun sempat menyentuh 5,34%, tertinggi sejak 2002, sebelum turun ke sekitar 5,26%.
Kenaikan yield dipicu tekanan inflasi akibat harga energi serta meningkatnya kebutuhan modal untuk pengembangan AI dan pusat data.
Di Prancis, yield obligasi 10 tahun mendekati 5%, tertinggi sejak 2002. Inggris juga mencatat yield tenor 30 tahun di atas 6%, level tertinggi sejak 1998.
Tekanan obligasi terjadi di tengah ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, meski pasar saham masih relatif bertahan.
Prancis menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2002, mendekati 5%.
Kenaikan tersebut terjadi ketika pemerintah Prancis bersiap mengajukan rancangan anggaran 2027 yang berisi langkah penghematan yang berpotensi menghadapi penolakan di parlemen.
Selisih yield obligasi Prancis dan Jerman juga mendekati level tertinggi sejak krisis utang Eropa pada 2010-an.
Kenaikan yield kini menjadi persoalan global. Institute of International Finance memperkirakan negara-negara maju membayar lebih dari US$3,3 triliun bunga atas obligasi pemerintah yang diperdagangkan secara internasional dalam setahun terakhir.
Angka tersebut bahkan lebih besar dibandingkan belanja global untuk AI sekitar US$2,6 triliun, pertahanan US$3,1 triliun, maupun energi bersih US$2,3 triliun.
Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 30 tahun menembus 6%, level tertinggi sejak 1998. Sementara di Jepang, yield obligasi pemerintah mencatat kenaikan dua digit untuk kuartal kelima berturut-turut.
3. Reshuffle Kabinet: Ini Daftar Menteri & Wamen yang Dilantik Prabowo
Presiden Prabowo Subianto melantik sejumlah menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan periode 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026). Salah satunya adalah Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Listyo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolri, menggantikan Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Sementara posisi kapolri kini ditempat Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
Kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi. Berikut daftar menteri dan pejabat setingkat yang dilantik siang ini:
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Bahlil Lahadalia
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Sugiono
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan: Dudung Abdurachman
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Dradjad Hari Wibowo
Menteri Luar Negeri: Arrmanatha Nasir
Menteri Perindustrian: Muhammad Sarmuji
Wakil Menteri Keuangan: Nurkholisoh Ibnu Aman
Wakil Menteri Keuangan: Luky Alfirman
Wakil Menteri Pertanian: Saleh Mustafa
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan: Irwan Meilano
Kepala Staf Kepresidenan: Listyo Sigit Prabowo
Kepala Badan Reformasi Agraria Nasional: Dedi Prasetyo
Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Keuangan: Aryanto Wibowo
Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa: Muhammad Fadhil Imran
4. Short selling resmi mulai berlaku
Transaksi short selling resmi mulai berlaku di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (1/10/2026).
Memasuki perdagangan Jumat (2/10/2026), pelaku pasar akan mencermati implementasi fasilitas tersebut yang pada tahap awal dibatasi pada lima saham, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Transaksi ini hanya dapat difasilitasi oleh PT Semesta Indovest Sekuritas (MG) dan PT Ajaib Sekuritas Asia (XC). Investor wajib memiliki rekening efek reguler minimal enam bulan, membuka rekening khusus short selling, serta menandatangani perjanjian pinjam-meminjam efek.
Sejumlah ketentuan utama yang berlaku meliputi:
- Jaminan awal minimal 50% dari nilai transaksi atau Rp50 juta, mana yang lebih tinggi. Pada transaksi pertama, total jaminan pembiayaan minimal 150% dari nilai transaksi.
- Rasio jaminan wajib dipertahankan minimal 135% dari nilai pasar posisi short. Jika kurang, investor memiliki maksimal tiga hari bursa untuk memenuhi kekurangannya.
- Penutupan posisi dilakukan sekuritas pada hari bursa keempat jika jaminan tidak dipenuhi. Jika rasio turun di bawah 120%, sekuritas wajib segera membeli saham hingga rasio kembali minimal 135%.
- Harga penawaran jual harus sama dengan atau lebih tinggi dari harga transaksi terakhir di Bursa.
Dengan ketentuan tersebut, pelaksanaan short selling tetap bergantung pada kecukupan jaminan, ketersediaan saham, serta batas harga ketika order jual dimasukkan.
5. PMI Manufaktur RI Ngebut, Tertinggi 7 Bulan
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali berekspansi pada September 2026. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus, sekaligus mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan. Angka di atas 50 menandakan ekspansi sektor manufaktur.
Penguatan ditopang kenaikan permintaan dan produksi, dengan pesanan ekspor tumbuh paling cepat sejak Mei 2022. Produsen juga menambah pekerja pada laju tercepat sejak Februari 2025. Meski demikian, penumpukan pesanan yang belum terselesaikan meningkat paling tajam dalam lima tahun, menunjukkan tekanan terhadap kapasitas produksi.
Di sisi biaya, kenaikan harga bahan baku dan harga jual melambat ke level terendah dalam enam bulan. Kondisi ini memberi ruang bagi produsen untuk menambah pembelian bahan baku sekaligus mendukung pertumbuhan pesanan ke depan.
6. Neraca Dagang RI Tetap Surplus
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026. Nilai ekspor mencapai US$26,61 miliar, naik 6,72% secara tahunan (yoy), sementara impor sebesar US$23,06 miliar atau tumbuh 19,09% yoy.
Kenaikan ekspor terutama ditopang nonmigas yang tumbuh 7,23% yoy menjadi US$25,62 miliar. Komoditas pendorongnya meliputi nikel dan barang daripadanya yang naik 51,67% yoy, besi dan baja 20,38% yoy, serta aluminium dan barang daripadanya 206,78% yoy. Sebaliknya, ekspor migas turun 5,10% yoy menjadi US$990 juta.
Di sisi impor, impor nonmigas meningkat 17,20% yoy menjadi US$19,53 miliar.
Secara kumulatif, ekspor Januari-Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama ditopang sektor industri pengolahan dengan andil 6,30 poin persentase terhadap pertumbuhan ekspor.
Neraca dagang tetap surplus, meski laju pertumbuhan impor melampaui ekspor.
7. Inflasi Tahunan RI Naik, Bulanan 0,30%
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 0,30% secara bulanan (mtm) pada September 2026, sejalan dengan konsensus pasar.
Secara tahunan, inflasi mencapai 3,28% (yoy), sedikit di bawah perkiraan 3,30%, sementara inflasi tahun kalender tercatat 2,17% (ytd).
Tekanan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,88% mtm, dengan andil 0,26 poin persentase terhadap inflasi bulanan.
Kenaikan harga daging ayam ras, cabai, serta bahan bakar nonsubsidi turut mendorong peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September 2026.
8. Klaim Pengangguran AS Turun, Pasar Kerja Masih Tangguh
Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun 1.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 26 September 2026.
Angka ini di bawah ekspektasi 200.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli. Klaim berkelanjutan juga turun 11.000 menjadi 1,701 juta, terendah sejak April 2023.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat di tengah tekanan kenaikan harga energi, ketidakpastian konflik Iran, potensi kenaikan suku bunga The Fed, serta kebijakan perdagangan yang belum pasti.
9. Manufaktur AS Masih Tumbuh, Tapi Harga Melonjak Gegara Perang Iran
Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) masih tumbuh kuat pada September 2026, meski sedikit melambat.
ISM Manufacturing PMI turun tipis menjadi 54,5 dari 54,6 pada Agustus, namun masih di atas level 50 yang menandakan ekspansi. Pesanan baru naik ke 55,3 dan lapangan kerja ke 52,7.
Di sisi lain, tekanan harga melonjak. Indeks harga naik menjadi 77,9 dari 71,1, didorong kenaikan harga baja, aluminium, tarif impor, serta produk berbasis minyak akibat konflik Timur Tengah.
ISM mencatat 46% komentar negatif menyebut volatilitas harga, 34% tarif, dan 30% perang Iran sebagai sumber tekanan.
10. Tingkat Pengangguran Jepang
Jepang akan merilis data tingkat pengangguran periode Agustus hari ini (2/10/2026) pukul 06.30 WIB.
Pada Juli 2026, tingkat pengangguran Jepang turun menjadi 2,4%, dari 2,5% pada tiga bulan sebelumnya dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,5%. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Juli 2025.
Jumlah pengangguran turun 80.000 menjadi 1,67 juta orang, level terendah dalam setahun. Namun, jumlah pekerja juga turun 150.000 menjadi 68,31 juta, sementara angkatan kerja menyusut 240.000 menjadi 69,98 juta. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga turun menjadi 64,1% dari 64,4% pada Juni.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat apakah pasar tenaga kerja Jepang tetap ketat. Tingkat pengangguran yang rendah dapat memperkuat tekanan upah dan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan Bank of Japan (BoJ) dalam menentukan arah kebijakan moneter, sementara kenaikan pengangguran dapat menjadi sinyal melemahnya momentum ekonomi domestik.
11. Inflasi Euro Area
Zona Euro akan merilis estimasi awal inflasi September 2026 hari ini (2/10/2026) pukul 16:00 WIB. Eurostat telah menjadwalkan rilis flash estimate inflasi September pada tanggal tersebut.
Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Zona Euro tercatat 3,2%, naik dari 2,9% pada Juli dan masih berada di atas target European Central Bank (ECB) sebesar 2%.
Kenaikan terutama didorong oleh inflasi energi yang mencapai 14,3%, sementara inflasi jasa melambat menjadi 3,0%. Inflasi inti, yang mengecualikan energi, makanan, alkohol, dan tembakau, turun tipis menjadi 2,4% dari 2,5% pada bulan sebelumnya.
Tekanan harga juga terlihat di sejumlah ekonomi besar kawasan. Inflasi meningkat di Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia, sementara Belanda menjadi salah satu pengecualian dengan inflasi yang melambat.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga inflasi kawasan tetap tinggi.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda atau tetap persisten.
Inflasi yang tetap jauh di atas target 2% dapat membuat ECB lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter, sementara penurunan inflasi dapat membuka ruang yang lebih besar bagi pelonggaran suku bunga.
12. Tingkat Pengangguran AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data tingkat pengangguran periode September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus 2026, tingkat pengangguran AS bertahan di 4,1%, sesuai ekspektasi pasar. Jumlah pengangguran meningkat 115.000 menjadi 7,03 juta orang, tetapi jumlah pekerja juga naik 569.000 menjadi 162,75 juta orang.
Angkatan kerja bertambah 683.000 menjadi 169,78 juta orang, mendorong tingkat partisipasi angkatan kerja naik menjadi 61,6% dari 61,4% pada Juli. Sementara itu, tingkat pengangguran U-6 yang mencakup pekerja setengah menganggur dan mereka yang tidak aktif mencari pekerjaan turun menjadi 7,7% dari 7,9%.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah pasar tenaga kerja AS tetap solid atau mulai menunjukkan tanda pelemahan.
Kenaikan tingkat pengangguran dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, sementara angka yang tetap rendah dapat menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
13. Non-farm Payroll AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data Nonfarm Payrolls (NFP) periode September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus 2026, ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan, tertinggi dalam lima bulan dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 56.000. Angka Juli juga direvisi naik menjadi 23.000, sementara revisi gabungan untuk Juni dan Juli menambah 55.000 pekerjaan dari estimasi sebelumnya.
Kenaikan lapangan kerja terutama terjadi pada sektor makanan dan minuman, pendidikan pemerintah daerah, manufaktur, serta layanan kesehatan.
Sebaliknya, sektor informasi mencatat penurunan pekerjaan, termasuk pada penyedia infrastruktur komputasi, pemrosesan data, penerbitan, serta penyiaran dan penyedia konten.
Rilis September akan menjadi salah satu data utama yang dicermati pasar untuk mengukur kekuatan pasar tenaga kerja AS. Pertumbuhan pekerjaan yang kembali kuat dapat menunjukkan ekonomi masih cukup solid dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Sebaliknya, perlambatan tajam NFP dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memengaruhi pergerakan dolar AS, yield US Treasury, serta aset berisiko global.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Menteri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bertemu dengan Gubernur Bank Indonesia membahas dukungan BI untuk sektor perumahan, termasuk tambahan GWM BI dan dukungan lainnya
- Data tingkat pengangguran Jepang periode Agustus 2026
- Data estimasi inflasi Euro Area periode September 2026
- Data tingkat pengangguran AS periode September 2026
- Data Non-farm payroll AS periode September 2026
- Pidato sejumlah pejabat The Fed dan Bank Sentral Eropa (ECB)
- Rilis data Indeks Harga Pangan FAO periode September 2026
- Rilis data PMI Manufaktur SIPMM Singapura periode September 2026
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS Rencana PT Hassana Boga Sejahtera Tbk
RUPS Rencana PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk
RUPS Rencana PT Waskita Beton Precast Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Chandra Daya Investasi Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT PAM Mineral Tbk
Tanggal cum HMETD Energi Mega Persada Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Diamond Citra Propertindo Tbk.
Informasi Pembayaran Kupon seri ASDF07BCN1 ke 5
Informasi Pembayaran Kupon seri BMTP02ACN1 ke 5
Informasi Pembayaran Kupon seri BMTP02BCN1 ke 5
Berikut Indikator Ekonomi Terbaru: