MARKET DATA

Kabar Baik Awal Oktober: PMI Manufaktur RI Ngebut, Tertinggi 7 Bulan

mae,  CNBC Indonesia
01 October 2026 08:30
Ilustrasi Pabrik Mobil. (Dok. Freepik/TRAIMAK.BY)
Foto: Ilustrasi Pabrik Mobil. (Dok. Freepik/TRAIMAK.BY)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Kamis(1/10/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi,

PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Permintaan dan Produksi Menguat

Permintaan terhadap barang Indonesia meningkat. Pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, didorong oleh peningkatan permintaan dan dimulainya proyek-proyek baru.

Pesanan ekspor juga meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, sekaligus mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Kenaikan permintaan mendorong produksi manufaktur kembali tumbuh setelah sempat turun tipis pada Juli. Output meningkat pada laju tercepat sejak Februari, didukung permintaan pelanggan, proyek baru, daya beli yang membaik, dan bertambahnya variasi produk.

 

Perusahaan Mulai Tambah Pekerja

Produsen meningkatkan jumlah tenaga kerja pada September untuk memenuhi beban kerja yang meningkat. Ini menjadi ketiga kalinya sektor manufaktur menciptakan lapangan kerja sepanjang 2026.

Laju pertumbuhan tenaga kerja juga menjadi yang tercepat sejak Februari 2025.

Meski kapasitas produksi meningkat, tunggakan pekerjaan (backlog) justru melonjak pada laju tercepat dalam lima tahun. Di saat yang sama, persediaan barang jadi turun pada laju tercepat sejak Agustus 2020.

Tekanan Biaya Mulai Mereda

Tekanan biaya juga mulai mereda. Inflasi harga input turun ke level terendah dalam enam bulan, meski masih berada di atas rata-rata historis survei.

Kenaikan biaya bahan baku, harga pemasok, pergerakan nilai tukar, kelangkaan pasokan, dan kebijakan bahan bakar masih menjadi sumber tekanan.

 

Sementara itu, harga jual produk manufaktur naik pada laju paling lambat dalam enam bulan.

Produsen Mulai Isi Stok Bahan Baku

Meningkatnya permintaan dan melambatnya inflasi harga input mendorong produsen kembali meningkatkan pembelian bahan baku.

Pembelian input baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, sementara persediaan bahan baku meningkat pada laju terkuat sejak Maret 2024. Sebelumnya, persediaan input terus menurun pada April-Juli.

Rantai pasok secara umum tetap stabil, dengan waktu pengiriman pemasok hanya sedikit lebih panjang pada September.

Prospek Masih Positif

Optimisme produsen manufaktur terhadap kondisi 12 bulan ke depan tetap kuat, meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspektasi peningkatan produksi didorong oleh permintaan yang lebih kuat, proyek baru, rencana ekspansi bisnis, dan harapan harga bahan baku yang lebih stabil.

 

Trevor Balchin, Economics Director di S&P Global Market Intelligence, mengatakan sektor manufaktur Indonesia menutup kuartal III dengan kinerja kuat.

"Output dan pekerjaan baru sama-sama meningkat solid, didukung kenaikan ekspor dan menghasilkan bulan terkuat bagi sektor ini sejak Februari, sebelum konflik di Timur Tengah pecah."ujarnya di situs resmi S&P.

Menurutnya, prospek produksi dalam jangka pendek terlihat menjanjikan. Backlog meningkat paling tinggi dalam lima tahun, meski perusahaan juga mencatat pertumbuhan tenaga kerja tercepat sejak awal 2025.

Produsen menggunakan persediaan yang ada untuk memenuhi pesanan, terlihat dari penurunan stok barang jadi pada laju tercepat dalam lebih dari enam tahun.

Di sisi biaya, inflasi harga input melambat ke level terendah enam bulan, sehingga perusahaan meningkatkan pembelian dan mengisi kembali stok bahan baku. Sementara inflasi harga output juga melandai ke level terendah enam bulan, yang dinilai dapat mendukung pertumbuhan pesanan baru dalam beberapa bulan mendatang.

(mae/mae)



Most Popular