Iran Mulai Kehilangan Cengkeraman atas Minyak Teluk
Jakarta, CNBC Indonesia - Arus minyak dari negara-negara Teluk mulai kembali deras meski konflik di sekitar Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini menunjukkan bahwa Iran mulai kehilangan sebagian kemampuan untuk menekan ekspor minyak dari kawasan tersebut.
Data Kpler menunjukkan negara-negara Arab mengirim rata-rata sekitar 17 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari (bpd) sepanjang September. Pengiriman tersebut mencakup jalur melalui Selat Hormuz maupun pipa yang menghindari selat tersebut.
Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Februari dan mulai mendekati level sebelum perang yang mencapai sekitar 21 juta bpd.
Ekspor minyak negara Teluk Foto: Economist |
Sebaliknya, ekspor minyak Iran hanya sekitar 200.000 bpd, atau kurang dari sepersepuluh level sebelum konflik. Namun, pemulihan ekspor negara-negara Teluk belum cukup untuk mengembalikan pasar minyak ke kondisi normal.
Ekspor Naik, Harga Minyak Tetap Tinggi
Harga minyak Brent masih berada di atas US$100 per barel, sekitar 43% lebih tinggi dibandingkan Juni ketika AS dan Iran mencapai kesepakatan sementara. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan ekspor minyak Teluk belum cukup meredakan tekanan di pasar.
Pasokan global masih tertinggal dari permintaan. Di saat yang sama, potensi pembatasan ekspor diesel AS dan risiko serangan Iran kembali membayangi perdagangan minyak.
Arab Saudi menjadi salah satu pendorong pemulihan ekspor. Saudi Aramco telah menjual lebih dari 90 juta barel dalam dua putaran dan kembali menawarkan kargo kepada penyuling China.
Sebagian besar minyak Saudi kini melewati Selat Hormuz dengan pengawalan AS menggunakan kapal negara, sebelum dipindahkan ke kapal lain di Teluk Oman. Uni Emirat Arab (UEA) menerapkan pola serupa.
Dari mana ekspor minyak Foto: Economist |
Namun, skema tersebut mahal, rumit, dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Pasokan minyak dari kawasan Teluk masih sekitar 4 juta bpd di bawah level sebelum perang.
Dunia sebelumnya sempat menghadapi kekhawatiran serupa setelah Rusia menginvasi Ukraina, ketika harga Brent melonjak hingga US$129 per barel.
China Kembali Memburu Minyak
Tekanan terhadap pasar juga datang dari China. Setelah memangkas pembelian minyak mentah hampir 40% selama musim panas, China kembali meningkatkan impor karena stok avtur, diesel, dan bensin domestik menurun.
Kilang-kilang China kemudian meningkatkan produksi. Di sisi lain, tingginya harga bahan bakar global membuka peluang bagi perusahaan penyulingan untuk meningkatkan ekspor.
Namun, potensi China kembali membatasi ekspor membuat para penyuling berupaya mengamankan pasokan minyak mentah selagi tersedia.
China juga harus menggantikan pasokan minyak dari Iran. Akibatnya, pembeli dari China masuk lebih agresif ke pasar terbuka dan bersaing dengan pembeli dari negara lain.
Harga minyak yang memiliki karakteristik serupa dengan produksi Iran bahkan meningkat lebih tinggi dibandingkan Brent. Kontrak berjangka Dubai mencapai sekitar US$116 per barel.
Persaingan juga terjadi dengan pembeli Eropa untuk minyak jenis Laut Utara, yang turut mendorong harga Brent.
Tekanan tersebut tercermin pada Dated Brent (harga minyak Brent yang akan dimuat/dikirim dalam beberapa minggu ke depan) yang mencapai sekitar US$124 per barel, jauh di atas harga Brent futures.
Selisih harga yang biasanya hanya beberapa dolar ini menunjukkan bahwa pasokan minyak fisik untuk kebutuhan jangka pendek sedang berada dalam kondisi ketat.
Krisis Belum Selesai, Iran Masih Punya Pengungkit
Tekanan harga kemudian merembet ke pasar diesel. Terbatasnya pasokan dari kawasan Teluk dan larangan ekspor Rusia telah mendorong harga diesel grosir mendekati US$200 di sejumlah pasar utama.
Harga minyak spot Foto: Economist |
Di AS, harga bensin mendekati US$6,50 per galon. Sementara itu, rencana pembatasan ekspor diesel berpotensi menambah tekanan terhadap pasar.
Pengurangan ekspor dapat membuat kilang AS mengolah lebih sedikit minyak. Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi mendorong penyuling Eropa mencari minyak mentah dari sumber lain.
Di sisi lain, risiko keamanan di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang. Laporan yang belum terverifikasi menyebut Iran mungkin telah memasang atau sedang menyiapkan ranjau. Sementara itu, Windward mendeteksi puluhan kapal cepat di lepas pantai Oman pada 26 September.
Lalu lintas kapal minyak di Selat Bab el-Mandeb. Foto: CNBC |
Infrastruktur energi, termasuk pipa East-West dan pelabuhan Saudi serta jalur Bab al-Mandab, juga masih menghadapi risiko gangguan.
Karena itu, kenaikan ekspor belum berarti Selat Hormuz sudah aman. Industri minyak memang telah beradaptasi dengan berbagai risiko tersebut.
Namun, selama pasokan global masih tertinggal dari permintaan dan Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran maupun infrastruktur energi, pasar minyak belum sepenuhnya kembali normal.
(mae/mae)


