MARKET DATA

Pertama dalam 30 Tahun, Ekspor Minyak Kuwait Nol!

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
08 May 2026 18:00
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia  Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global.

Kuwait dilaporkan tidak mengekspor minyak mentah sama sekali sepanjang April 2026. Ini menjadi pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade negara eksportir utama OPEC tersebut mencatat nol ekspor crude oil sejak berakhirnya Perang Teluk 1991.

Di saat yang sama, eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz terus meningkat sehingga membuat pasar global waspada terhadap risiko terganggunya rantai pasok energi dunia.

Kuwait Nol Ekspor Minyak untuk Pertama Kali dalam 30 Tahun

Berdasarkan laporan TankerTrackers, Kuwait tidak mengirimkan minyak mentah selama April. Padahal negara tersebut selama ini menjadi salah satu pemasok utama minyak mentah dunia, khususnya ke kawasan Asia dan Eropa.

Meski Kuwait disebut masih tetap memproduksi minyak, sebagian produksi dialihkan ke fasilitas penyimpanan dan sebagian lainnya diolah menjadi produk hasil kilang. Beberapa produk olahan tersebut masih tercatat diekspor ke pasar internasional.

 

Gangguan ekspor minyak mentah Kuwait diduga berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz. Ketidakstabilan di kawasan tersebut membuat aktivitas kapal tanker ikut terdampak.

Negara Teluk Mulai Khawatir Selat Hormuz Ditutup

Di tengah meningkatnya tensi kawasan, Qatar mendesak Iran untuk menurunkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Qatar menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz merupakan prinsip internasional yang tidak dapat ditawar. Penutupan jalur tersebut atau menjadikannya alat tawar-menawar politik dinilai dapat memperburuk krisis dan mengganggu kepentingan vital negara-negara kawasan.

Selain berpotensi mengganggu pasokan energi dan pangan global, kondisi tersebut juga dikhawatirkan mengguncang stabilitas pasar dan rantai pasok dunia. Karena itu, Qatar meminta seluruh pihak mematuhi hukum internasional dan Piagam PBB serta mengutamakan stabilitas kawasan.

AS Perketat Tekanan ke Iran, Diplomasi Masih Dibuka

Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan operasi maritim di kawasan Teluk Persia. US Central Command (CENTCOM) menyebut sebanyak 48 kapal telah dialihkan dalam 20 hari terakhir sebagai bagian dari penegakan pembatasan terhadap aset maritim Iran.

Kapal perang USS New Orleans juga dilaporkan beroperasi di Laut Arab dalam misi yang dikaitkan dengan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.

Meski tekanan militer meningkat, Iran masih membuka ruang diplomasi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan proposal diplomatik terbaru Teheran kepada Amerika Serikat telah disampaikan melalui Pakistan.

Iran juga menegaskan siap menghadapi jalur diplomasi maupun agresi militer. Kondisi ini membuat pelaku pasar global terus memantau perkembangan kawasan Timur Tengah karena berpotensi memengaruhi harga minyak, inflasi, dan stabilitas perdagangan dunia.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular