MARKET DATA

Retorika Perang AS Tak Lagi Berkelas, Kini Terasa Murahan!

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
24 April 2026 21:10
Donald Trump Presiden AS Pertama Didakwa Kasus Kriminal
Foto: Infografis/Donald TrumpAristya rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang selalu melahirkan dua front sekaligus,medan tempur dan ruang publik.

Di garis depan ada misil, kapal induk, dan tentara. Di belakangnya ada pidato, narasi, dan cara negara menjelaskan mengapa konflik perlu dijalankan. Dalam sejarah Barat, front kedua ini dulu dikelola dengan sangat serius. Pada 2026, standar itu terlihat jauh menurun.

Melansir The Economist, saat Perang Dunia II mencapai fase penentuan pada Juni 1944, Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt berbicara kepada publik dengan pesan yang terukur.

Amerika, katanya, bertempur untuk menghentikan penaklukan. Winston Churchill memakai pendekatan serupa. Ia menjadikan perang sebagai urusan moral, ketahanan nasional, dan kelangsungan peradaban. Nada pidato mereka keras, tetapi tetap tertata, disiplin. Negara berbicara seperti negara.

 

Bandingkan dengan ketegangan terbaru di Selat Hormuz pada April 2026. Jalur sempit itu menopang arus minyak global dan sangat sensitif bagi pasar energi.

Namun komunikasi politik dari Washington justru dipenuhi ancaman kasar, kalimat provokatif, dan gaya bahasa yang lebih dekat ke media sosial dibanding forum kenegaraan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth pun memakai diksi agresif untuk menggambarkan lawan. Substansi strategis tenggelam oleh gaya bicara.

Perubahan ini penting karena bahasa perang memengaruhi persepsi publik. Saat pemerintah memilih kata-kata tertentu, masyarakat akan membaca konflik sebagai misi defensif, aksi balasan, atau demonstrasi kekuatan. Investor membaca risiko energi. Sekutu membaca arah kebijakan.

Lawan membaca intensi. Dalam konteks seperti Hormuz, satu kalimat yang sembrono dapat menggerakkan harga minyak, premi asuransi kapal, hingga volatilitas pasar.

 

Dulu, negara-negara Barat cenderung memakai referensi sejarah dan nilai politik untuk membangun legitimasi perang. Roosevelt menyebut Amerika sebagai "arsenal of democracy". Churchill berkali-kali merujuk sejarah Inggris untuk menanamkan daya tahan nasional.

Tujuanny, rakyat diminta menanggung biaya perang karena ada nilai yang dianggap layak dipertahankan.

Sekarang pola itu bergeser ke komunikasi visual dan slogan singkat. Video politik berisi potongan adegan film, musik dramatis, dan citra kemenangan lebih mudah viral dibanding penjelasan kebijakan yang rumit.

Dalam jangka pendek, model ini efektif menarik perhatian. Dalam jangka panjang, ia mereduksi perang menjadi produk komunikasi.

Masalahnya, perang modern jauh lebih kompleks daripada narasi heroik. Ketegangan di Hormuz menyentuh pasokan minyak mentah, inflasi global, biaya logistik, jalur perdagangan Asia, hingga kebijakan suku bunga bank sentral. Jika komunikasi resmi hanya berisi ancaman emosional, publik kehilangan konteks ekonomi yang justru paling relevan bagi kehidupan sehari-hari.

 

Penurunan kualitas retorika ini juga mencerminkan perubahan ekosistem politik Amerika. Pemimpin kini berbicara di tengah siklus berita yang sangat cepat. Pesan dirancang untuk dipotong menjadi klip 15 detik, bukan dibaca sebagai pidato bersejarah. Akibatnya, kedalaman sering kalah oleh sensasi.

Bagi pasar global, yang dibutuhkan dari negara besar bukan drama, melainkan kejelasan. Investor ingin tahu apakah kapal tanker aman melintas. Importir ingin tahu apakah harga energi stabil. Sekutu ingin tahu apakah ada strategi yang konsisten. Dunia membaca setiap kata Washington karena dampaknya nyata.

Itulah sebabnya perubahan bahasa perang layak dicermati. Saat komunikasi negara turun menjadi sekadar konten, risiko geopolitik menjadi lebih sulit dihitung

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular