MARKET DATA

Dunia Selamat dari Kiamat Minyak, Siapa Kekuatan Besar di Baliknya?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
17 May 2026 16:00
bendera as china
Foto: bendera as china

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini sudah memasuki pekan ke-10. Namun, ada satu hal yang masih menjadi teka-teki besar di pasar minyak dunia.

Mengutip dari The Economist, Selat Hormuz hingga kini masih tertutup. Padahal, setiap hari jalur penting ini tidak bisa dilalui, hampir 14 juta barel minyak atau sekitar 14% dari produksi global hilang dari pasar.

Jika memperhitungkan jeda produksi dan pengiriman, setidaknya 2 miliar barel minyak diperkirakan akan hilang dari total pasokan tahun ini, bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali hari ini.

Masalahnya, pembukaan kembali Selat Hormuz tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat. Perundingan antara AS dan Iran juga belum menunjukkan kemajuan berarti.

Namun, harga minyak mentah Brent sejauh ini justru masih berada di sekitar US$107 per barel. Angka ini memang sudah tinggi, tetapi masih jauh di bawah level US$129 per barel yang sempat dicapai pada 2022 setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Harga tersebut juga belum mendekati perkiraan sejumlah analis sebelumnya. Saat perang Iran dikhawatirkan berlangsung lama, harga minyak sempat diproyeksikan bisa melesat ke kisaran US$150-200 per barel.

Pasar Masih Berharap Ada Jalan Damai

Salah satu alasan harga minyak belum melonjak lebih tinggi adalah karena pasar masih berharap ada jalan keluar lewat diplomasi.

Harga Brent kontrak terdekat atau front-month Brent menjadi acuan penting di pasar global. Kontrak ini mencerminkan harga minyak yang akan dimuat ke kapal tanker dalam waktu sekitar dua bulan ke depan.

Dalam beberapa kesempatan, Presiden AS Donald Trump juga memberi sinyal bahwa penyelesaian konflik mungkin sudah dekat. Sinyal seperti ini membuat pelaku pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang berlangsung lebih lama.

Namun belakangan, bukan hanya harapan damai yang menahan harga minyak. Harga minyak untuk pengiriman segera juga mulai lebih tenang.

Dated Brent, yang mencerminkan harga minyak untuk pengiriman dalam beberapa hari ke depan, sempat diperdagangkan dengan premi US$25 per barel terhadap kontrak front-month pada awal April. Kini, selisihnya tinggal beberapa dolar.

The EconomistFoto: The Economist

Negara Produsen di Luar Teluk Genjot Ekspor

Ada dua faktor besar yang membuat kepanikan di pasar minyak mulai mereda.

Pertama, negara-negara produsen minyak di luar kawasan Teluk meningkatkan ekspor secara besar-besaran.

Sejumlah produsen kecil ikut menambah pasokan. Kanada, misalnya, setelah dikurangi impor, mengirim tambahan sekitar 400.000 barel per hari minyak mentah dan produk olahan dalam empat pekan hingga 10 Mei, dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Venezuela dan Norwegia masing-masing menambah sekitar 200.000 barel per hari. Sementara itu, Brasil menambah sekitar 100.000 barel per hari.

Namun, tambahan pasokan paling mencolok datang dari Amerika Serikat.

Dalam empat pekan tersebut, ekspor bersih minyak AS mencapai hampir 9 juta barel per hari. Angka ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus 3,8 juta barel per hari lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data Vortexa.

Ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus 3,8 juta barel per hari lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data Vortexa.

Mesin Ekspor Minyak AS Bergerak Cepat

Mesin ekspor minyak AS memang tidak langsung bergerak cepat. Butuh beberapa pekan sampai tambahan pasokan benar-benar bisa mengalir ke pasar global.

Ada banyak proses yang harus dilakukan. Kontrak baru harus diteken, tambahan minyak harus diproduksi atau diambil dari cadangan, dan kapasitas pipa menuju pelabuhan juga harus dipesan.

Di terminal, tangki penyimpanan perlu dikosongkan agar jenis minyak yang sesuai bisa dicampur, lalu diarahkan ke dermaga yang tepat.

Pada Maret lalu, biaya pengiriman minyak dari Atlantik ke Asia dan Eropa ikut naik. Dua kawasan ini merupakan tujuan utama minyak AS. Kenaikan tarif angkutan itu terjadi untuk menarik lebih banyak kapal tanker masuk ke rute tersebut.

Untuk menarik minat pembeli, harga West Texas Intermediate atau WTI, minyak acuan utama AS, juga dijual dengan diskon besar terhadap Brent dan Dubai, yang menjadi acuan harga minyak di Eropa dan Asia. Diskon ini bahkan sempat mencetak rekor.

Semua langkah tersebut membantu membawa lebih banyak pasokan minyak dari luar kawasan Teluk ke negara-negara importir. Dampaknya, kekurangan pasokan global menyempit menjadi sekitar 8 juta barel per hari.

The EconomistFoto: The Economist

Impor Minyak Dunia Justru Turun Tajam

Namun ada hal yang lebih mengejutkan. Dalam empat pekan hingga 10 Mei, kawasan-kawasan pembeli minyak besar justru mengimpor 11 juta barel per hari lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan terbesar datang dari China. Impor minyak Negeri Tirai Bambu tersebut anjlok 6,6 juta barel per hari.

Alih-alih membeli seluruh minyak mentah yang tersedia di pasar internasional, kilang-kilang China bahkan menjual kembali sebagian kargo yang sebelumnya sudah mereka janjikan untuk dibeli dari Afrika Barat dan wilayah lain kepada pembeli Asia lainnya.

Penurunan impor dalam jumlah besar ini bukan sepenuhnya kabar baik.

Sebagian mencerminkan hancurnya permintaan akibat harga dan pasokan yang tertekan. Kekurangan minyak mentah sudah memaksa kilang-kilang di Asia dan Eropa memangkas produksi hampir 4 juta barel per hari.

Pasar juga kehilangan 4,4 juta barel per hari ekspor produk olahan dari kawasan Teluk. Kondisi ini mendorong harga diesel, bensin, dan avtur naik 60-120% di pasar global.

Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga minyak mentah yang sekitar 40% di periode Januari dan April.

Karena tertekan biaya bahan bakar yang lebih mahal, konsumen mulai mengurangi konsumsi. Banyak pabrik petrokimia juga beroperasi di bawah kapasitas karena kekurangan nafta, produk minyak yang menjadi bahan baku penting untuk plastik.

The EconomistFoto: The Economist

Ada Mini Glut di Pasar Minyak Mentah

Meski begitu, sebagian besar perkiraan menunjukkan penurunan permintaan minyak masih di bawah 5 juta barel per hari.

Artinya, turunnya impor minyak tidak sepenuhnya terjadi karena dunia benar-benar kekurangan pasokan. Sebagian besar pembeli kemungkinan memilih menahan diri dan bersikap hati-hati.

Sebagian pembeli juga masih berharap Selat Hormuz segera dibuka kembali. Karena itu, mereka menunda pembelian sekarang sambil menunggu harga minyak turun.

Dampaknya cukup mengejutkan. Di tengah kekhawatiran pasokan, pasar minyak mentah justru sempat mengalami kelebihan pasokan kecil atau mini-glut. Hal ini terlihat dari volume minyak mentah yang berada di kapal tanker di laut. Setelah sempat turun pada Maret, volumenya kembali naik pada April.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada produk olahan seperti diesel, bensin, dan avtur. Volumenya justru turun jauh di bawah rata-rata lima tahun.Kombinasi inilah yang ikut menahan harga minyak Brent agar tidak melonjak lebih tinggi.

China Pakai Cadangan Minyak?

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini bisa bertahan?

Citra satelit terhadap tangki-tangki penyimpanan China menunjukkan stok minyak di darat nyaris tidak banyak berubah. Ini mengindikasikan bahwa kilang-kilang China memangkas produksi.

Namun, impor minyak mentah China turun terlalu dalam sehingga kemungkinan ada faktor lain yang terjadi.

Martijn Rats dari Morgan Stanley menduga minyak mentah yang sebelumnya tersimpan di gua bawah tanah yang sulit terpantau kini mulai dipindahkan ke penyimpanan di atas tanah. Langkah ini secara diam-diam membantu menutup kekurangan pasokan.

Penarikan stok semacam ini kemungkinan akan semakin cepat.

Dalam beberapa pekan ke depan, musim pemeliharaan kilang di China akan berakhir. Setelah itu, kilang-kilang China bisa meningkatkan ekspor produk olahan, apalagi pemerintah China sudah melonggarkan larangan yang diperkenalkan pada awal Maret.

China diperkirakan memiliki sekitar 1,2 miliar barel minyak mentah dalam cadangan. Jumlah ini cukup besar untuk menjaga impor tetap rendah sepanjang tahun ini, bahkan jika beberapa juta barel ditarik setiap hari.

Namun, China kemungkinan tidak ingin menghabiskan cadangan terlalu besar.

"Secara strategis, mereka tidak ingin menguras semuanya tahun ini," kata Neil Crosby dari Sparta Commodities dikutip dari The Economist.

Jika China mulai kembali meningkatkan impor, maka negara lain di dunia harus mengurangi pembelian.

Masalah Lebih Besar Bisa Datang dari AS

Ancaman lebih besar justru bisa datang dari Negeri Paman Sam.

Pada Maret lalu, sebagai bagian dari pelepasan cadangan yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA), kelompok negara importir energi besar, AS sepakat menarik 172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya.

Langkah ini memungkinkan AS menaikkan ekspor minyak mentah lebih dari 600.000 barel per hari, sambil tetap mempertahankan stok komersial dalam negeri dengan jumlah yang sehat. Padahal, produksi minyak AS tidak banyak meningkat sejak perang dimulai.

The EconomistFoto: The Economist

Namun, ekspor minyak AS kini lebih mungkin turun daripada naik.

Seperti di China, periode pemeliharaan kilang AS juga akan segera berakhir. Ketika kilang kembali meningkatkan produksi, lebih dari 500.000 barel per hari minyak yang saat ini diarahkan untuk ekspor bisa dialihkan ke pasar domestik, menurut estimasi Kpler.

Yang lebih mengkhawatirkan, persediaan bahan bakar kendaraan di AS kini menyusut sangat cepat, bahkan dalam laju yang mencetak rekor.

Jika kondisi ini terus berlanjut, kenaikan harga minyak mentah yang tidak terlalu besar pun bisa membuat harga bensin di AS naik ke US$5 per galon.

Level tersebut terakhir kali terjadi pada 2022. Saat itu, mahalnya harga bensin membuat masyarakat AS cukup terbebani dan ikut menekan tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Joe Biden.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump mulai mempertimbangkan larangan ekspor produk BBM. Langkah ini dibahas untuk mencegah tekanan harga energi di dalam negeri semakin membebani masyarakat AS.

Saat harga Brent masih berada di sekitar US$100 per barel, seorang sumber internal memperkirakan peluang kebijakan tersebut diterapkan sekitar 35%.

Namun kini, peluangnya dinilai semakin besar. Menurut sejumlah sumber, kemungkinan larangan ekspor itu bisa menembus 50% jika harga BBM di SPBU AS melonjak menjelang Memorial Day pada 25 Mei.

Jika benar-benar diterapkan, kebijakan ini berisiko mengguncang pasar energi global. Pasalnya, pasokan produk BBM dari AS yang selama ini ikut membantu meredam tekanan pasar bisa berkurang.

Pada akhirnya, meskipun Trump tidak mengambil langkah yang memperburuk situasi, stok minyak di berbagai negara tetap akan terus menurun.

Sejauh ini, Amerika Serikat dan China memang berhasil memberi waktu tambahan bagi dunia. AS menambah pasokan ke pasar global, sementara China menahan impor dan kemungkinan menggunakan sebagian cadangan minyaknya.

Namun, waktu tersebut tidak akan bertahan selamanya.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup, dunia pada akhirnya tetap harus menghadapi tekanan besar di pasar minyak. Harga memang belum melonjak setinggi yang dikhawatirkan banyak analis, tetapi fondasi pasar energi global sudah semakin rapuh.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular