500 Juta Barel Minyak Hilang Saat Perang, Setara Dunia Lumpuh 11 Hari
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia telah kehilangan lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp 859.000 triliun (US$ 1=R[ 17.180) nilai minyak mentah yang gagal diproduksi sejak perang Iran pecah hampir 50 hari lalu.
Dampak lanjutan krisis ini diperkirakan masih akan terasa selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Jumat (17/4/2026) mengatakan Selat Hormuz kembali terbuka setelah kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Presiden AS Donald Trump juga menyebut kesepakatan mengakhiri perang Iran akan tercapai segera, meski waktunya belum jelas.
Menurut data Kpler, dikutip dari Reuters, sejak konflik dimulai akhir Februari, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari pasar global, Ini disebut sebagai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Foto: ReutersTotal kehilangan output minyak Negara Teluk |
Â
Sebagai gambaran, kehilangan 500 juta barel minyak setara dengan pengurangan permintaan aviasi global selama 10 minggu, tidak ada perjalanan darat kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari, dan tidak ada pasokan minyak bagi ekonomi global selama lima hari
Jumlah itu juga setara dengan hampir 1 bulan konsumsi minyak AS, lebih dari 1 bulan kebutuhan minyak seluruh Eropa, sekitar 6 tahun konsumsi bahan bakar militer AS, dan cukup untuk menjalankan pelayaran internasional dunia selama 4 bulan
Negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak pada Maret, hampir setara gabungan produksi Exxon Mobil dan Chevron, dua perusahaan minyak terbesar dunia.
Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman turun dari 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April sejauh ini.
Foto: ReutersEkspor aviatur global |
Â
Penurunan ekspor itu cukup untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi antara bandara JFK New York dan Heathrow London, menurut estimasi Reuters.
Dengan harga minyak rata-rata US$100 per barel sejak konflik dimulai, volume yang hilang itu berarti sekitar US$50 miliar pendapatan lenyap. Nilai ini setara 1% PDB tahunan Jerman, atau hampir seluruh ekonomi negara kecil seperti Latvia dan Estonia.
Pemulihan Bisa Bertahun-Tahun
Meski Selat Hormuz disebut sudah terbuka, pemulihan produksi dan distribusi diperkirakan berjalan lambat.
Persediaan minyak mentah darat global turun sekitar 45 juta barel sepanjang April. Sejak akhir Maret, gangguan produksi mencapai sekitar 12 juta barel per hari.
Ladang minyak berat di Kuwait dan Irak diperkirakan butuh 4-5 bulan untuk kembali normal. Kerusakan kapasitas kilang dan kompleks LNG Ras Laffan Qatar membuat pemulihan penuh infrastruktur energi kawasan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Foto: ReutersInventori minyak dunia |
source on Google
Foto: Reuters
Foto: Reuters
Foto: Reuters