Trump Terjebak! 4 Opsi Perang Iran Semua Buntu: Mundur atau Hancur?
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran kini memasuki fase yang semakin rumit.
Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan untuk segera mengakhiri konflik yang sudah memicu gejolak ekonomi, terutama melalui lonjakan harga energi dan terganggunya Selat Hormuz. Namun di sisi lain, pilihan yang tersedia sama-sama berat dan tidak ada yang benar-benar menjanjikan akhir perang yang cepat.
Sikap Donald Trump terhadap perang Iran berubah dengan sangat cepat. Ibaratkan cuaca di Florida salah satu negara bagian di AS, arah kebijakannya bisa berubah hanya dalam hitungan menit.
Pada Jumat, Trump mengatakan perang Amerika mungkin akan segera "mereda". Dia menilai tujuan militer Amerika sebagian besar sudah tercapai. Trump juga terlihat tidak terlalu terganggu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, karena menurutnya Amerika tidak menggunakan jalur laut tersebut.
Namun nada itu hanya bertahan sampai Sabtu. Setelah itu, Trump memberi Iran tenggat 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, Trump memperingatkan bahwa "Amerika akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang paling besar lebih dulu." Pernyataan itu menunjukkan bahwa wacana perang yang akan segera mereda bisa berubah dengan sangat cepat.
Melansir dari The Economist para pendukung Trump menilai perubahan pernyataan itu memang bagian dari strategi.
Menurut mereka, Trump sengaja membiarkan semua pilihannya tetap terbuka sekaligus membuat Iran terus waspada. Namun bagi banyak pihak lain, justru terlihat bahwa Amerika masuk ke perang ini dengan strategi yang lemah, dimulai dari kegagalannya mengantisipasi bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz.
Kini, ketika perang memasuki minggu keempat, Trump pada dasarnya hanya punya empat pilihan. Bisa berunding, mundur, melanjutkan perang, atau meningkatkan eskalasi. Masalahnya, tidak ada satu pun dari pilihan itu yang benar-benar baik.
Trump Punya Empat Pilihan, Tapi Semuanya Berisiko
Opsi pertama adalah berunding. Masih ada diplomat yang percaya AS dan Iran bisa mencapai gencatan senjata. Namun ini justru tampak sebagai opsi yang paling kecil kemungkinannya. Hambatannya sudah muncul bahkan sejak tahap awal, yakni mempertemukan kedua pihak.
Iran sudah dua kali diserang saat sedang berunding dengan AS, sehingga wajar jika kini mereka ragu untuk kembali ke meja perundingan. Di saat yang sama, kepemimpinan Iran juga sedang kacau. Pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, belum terlihat sejak mengambil alih jabatan pada 9 Maret 2026. Dalam situasi seperti ini, Amerika pun bisa meragukan apakah benar ada pihak dari Iran yang benar-benar bisa berbicara atas nama rezim.
Masalah lain juga muncul soal mediator. Oman sebelumnya menjadi penengah dalam dua putaran perundingan, tetapi selama perang ini Oman membuat negara-negara Teluk tetangganya marah karena dianggap terlalu bersimpati kepada Iran. Karena itu, mereka kemungkinan akan meminta mediator lain. Qatar disebut sebagai kandidat yang paling mungkin.
Bahkan jika perundingan dimulai, hasilnya belum tentu cukup. Kesepakatan sempit yang hanya menukar pelonggaran sanksi dengan pembatasan program nuklir Iran dinilai tidak akan memadai.
AS pun kemungkinan akan datang dengan tuntutan yang sangat besar. Washington bukan hanya ingin Iran membatasi program nuklirnya, tetapi juga membatasi program misilnya secara ketat dan menghentikan dukungan kepada milisi Arab.
Di sisi lain, Iran juga punya tuntutan sendiri. Teheran ingin ada kompensasi atas perang dan penutupan pangkalan militer Amerika di kawasan. Dengan posisi masing-masing yang sama-sama keras, peluang kompromi terlihat sangat kecil.
Kalau perang tidak bisa diakhiri lewat kesepakatan, Trump punya opsi kedua, yakni mencoba mengakhirinya begitu saja. Sejumlah penasihatnya mendorong agar ia mendeklarasikan kemenangan. Trump bisa saja mengatakan bahwa kemampuan militer Iran sudah dihancurkan, angkatan lautnya sudah tenggelam, dan pabrik misilnya sudah hancur.
Ini bisa menjadi opsi yang paling cocok dengan gaya Trump, yakni menjual perang yang hasilnya belum benar-benar jelas sebagai kemenangan besar. Dia sendiri pernah melakukan hal serupa pada Juni tahun lalu, ketika mengklaim bahwa program nuklir Iran telah "dihancurkan total" oleh serangan AS.
Padahal delapan bulan kemudian, Trump kembali menyebut program nuklir yang sama sebagai ancaman.
Namun pilihan ini juga tidak mudah. Trump bisa khawatir bahwa kali ini pemilih akan lebih sulit diyakinkan. Harga bensin di Amerika sudah naik 34% dibandingkan sebulan lalu.
Meski begitu, mayoritas basis pemilih Partai Republik masih mendukung perang ini. Jika perang diakhiri sekarang, guncangan harga minyak masih punya waktu tujuh bulan untuk mereda sebelum pemilu sela pada November mendatang.
Masalahnya, perang bisa saja berhenti tanpa benar-benar menyelesaikan inti permasalahan. Iran masih akan memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%. Iran juga bisa keluar dari perang ini dengan tekad baru untuk mengubah uranium itu menjadi bom nuklir. Selain itu, Iran juga tetap akan memegang kendali kuat atas Selat Hormuz.
Padahal selama hampir setengah abad, menjaga kelancaran aliran minyak dari Teluk Persia telah menjadi inti kebijakan AS di Timur Tengah.
Jika perang dihentikan sekarang, itu berarti Negeri Paman Sam meninggalkan prinsip tersebut.
Negara-negara Teluk bisa marah dan sekaligus takut menghadapi tekanan berkepanjangan. Bahkan, beberapa pejabat Iran sudah sempat membicarakan kemungkinan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintas di selat itu. Israel juga tidak akan senang dengan hasil seperti ini.
Opsi ketiga adalah tetap melanjutkan perang. AS dan Israel bisa meneruskan serangan udara selama beberapa minggu lagi. Banyak pejabat Israel lebih menyukai pilihan ini. Kepala staf militer mereka mengatakan kampanye perang akan terus berlanjut sepanjang libur Passover, yang berakhir pada 9 April.
Sejauh ini, jumlah serangan misil dan drone Iran ke Israel dan negara-negara Teluk memang sudah turun.
Pada hari pertama perang, jumlahnya hampir 1.000 serangan. Sekarang rata-ratanya sudah turun menjadi kurang dari 100 serangan per hari. Sejumlah kalangan garis keras di Washington percaya bahwa jika serangan terhadap militer Iran diteruskan beberapa minggu lagi, angka itu bisa turun lebih jauh, atau bahkan memicu runtuhnya rezim.
Sambil terus menekan Iran, Amerika juga akan punya waktu untuk mengirim lebih banyak kapal perang ke kawasan dan membangun koalisi guna mengawal kapal-kapal yang melintas di selat.
Namun lagi-lagi, tidak ada jaminan strategi ini akan berhasil. Rezim Iran bisa saja runtuh, tetapi bisa juga tidak. Selama Iran masih mampu melancarkan serangan sporadis terhadap pelayaran, negara itu kemungkinan masih bisa menjaga Selat Hormuz tetap tertutup dan menggagalkan klaim kemenangan Trump.
Iran juga masih bisa menimbulkan dampak di tempat lain. Pada 21 Maret, lebih dari 160 orang terluka akibat dua misil balistik yang menghantam wilayah selatan Israel setelah upaya pencegatan gagal. Jika perang berlangsung lebih lama, Iran juga bisa meningkatkan serangan ke infrastruktur penting di negara-negara Teluk.
Apa pun hasilnya, biaya ekonomi akan terus membesar. Serangan Iran yang berlanjut juga akan menguras stok interceptor pertahanan udara di Israel dan negara-negara Teluk.
Tak Ada Jalan Mudah untuk Mengakhiri Perang Iran
Dari situ muncul opsi keempat, yakni meningkatkan eskalasi untuk kemudian menurunkannya kembali, atau "escalate to de-escalate", seperti yang disebut Menteri Keuangan Amerika Scott Bessent pada 22 Maret.
Dalam skenario ini, Trump bisa benar-benar menjalankan ancamannya untuk menyerang pembangkit listrik Iran.
Trump juga bisa memerintahkan marinir melakukan pendaratan amfibi untuk merebut Pulau Kharg, lokasi terminal ekspor minyak utama Iran. Selain itu, ia juga bisa menargetkan tiga pulau sengketa antara Iran dan Uni Emirat Arab yang berada di posisi strategis dekat selat. Trump bahkan bisa mengirim pasukan komando untuk mencoba mengamankan uranium Iran yang telah diperkaya.
Namun opsi ini sangat berisiko. Marinir yang berhasil merebut pulau-pulau Iran nantinya tetap harus mempertahankannya, kemungkinan sambil menghadapi serangan drone secara rutin. Serangan ke fasilitas nuklir Iran juga bisa membuat pasukan komando harus menguasai wilayah yang bermusuhan selama berhari-hari.
Risiko bagi negara-negara Teluk juga akan jauh lebih besar. Iran sudah mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air mereka jika Amerika menyerang jaringan listrik Iran. Serangan ke Pulau Kharg juga bisa memicu serangan yang lebih besar terhadap fasilitas minyak dan gas di negara-negara Teluk.
Serangan misil balistik Iran ke fasilitas liquefied natural gas atau LNG Qatar pada 18 Maret lalu sudah menyebabkan kerusakan besar. Menurut pejabat Qatar, dampaknya bisa membuat 3% pasokan LNG dunia offline hingga lima tahun.
Pada akhirnya, tidak ada satu pun dari empat opsi ini yang benar-benar menjamin perang akan berakhir. Trump bisa saja mendeklarasikan kemenangan, tetapi Iran tetap menutup Selat Hormuz. Ia juga bisa melanjutkan perang beberapa minggu lagi, tetapi tetap berujung pada kebuntuan yang sama. Sementara itu, eskalasi bukanlah tujuan akhir. Jika Iran menolak berunding, lalu apa yang akan dilakukan Amerika terhadap Pulau Kharg?
Setelah memulai perang ini, Trump tidak punya cara yang mudah untuk mengakhirinya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google