MARKET DATA

Ini Analisa & Penyebab Rupiah Terpuruk, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.500

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 May 2026 10:49
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda bahkan menembus level psikologis baru Rp17.500/US$ pada perdagangan hari ini.

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (12/5/2026) per pukul 09.15 WIB, rupiah terpantau melemah hingga menyentuh level Rp17.500/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah intraday sepanjang masa bagi rupiah.

Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah langsung anjlok cukup dalam sebesar 0,43% ke posisi Rp17.480/US$.

Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Rupiah sebelumnya juga sudah menembus level psikologis Rp17.400/US$ pada Selasa pekan lalu (5/5/2026).

Artinya, hanya dalam waktu sekitar sepekan, dua level psikologis penting rupiah sudah tertembus. Setelah Rp17.400/US$, kini pasar kembali menyaksikan rupiah melemah hingga menembus Rp17.500/US$.

Gr

Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar AS sangat tinggi dan tekanan jual terhadap rupiah masih sangat kuat.

Apa Penyebab Rupiah Tembus Rp17.500?

Tekanan eksternal pada perdagangan hari ini bisa dikatakan bermain cukup besar. Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang Asia lainnya yang mayoritas juga melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.500/US$ tidak lepas dari tekanan eksternal yang kembali membesar. Faktor utama yang menekan rupiah adalah penguatan dolar AS di pasar global.

1. Ketidakpastian Timur Tengah Dorong Dolar AS dan Harga Minyak

Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah. Konflik AS-Iran yang belum benar-benar mereda kembali membuat pasar global berhati-hati.

Pasar kembali mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan keberlanjutan gencatan senjata AS-Iran dan menolak tawaran damai terbaru dari Teheran.

Selain itu, laporan yang menyebut Trump akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer juga menambah kekhawatiran pasar.

Rencana untuk mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz turut menjadi perhatian.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak paling penting di dunia, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kondisi ini kemudian memberi tekanan ke rupiah melalui dua hal.

Pertama, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven kembali meningkat. Saat ketidakpastian global naik, investor biasanya cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.

Hal ini membuat indeks dolar AS (DXY) kembali bergerak menguat ke level 98,117 pada perdagangan pagi ini.

Di sisi lain, mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi lebih rentan. Dengan menguatnya dolar AS di pasar global, ruang penguatan mata uang emerging market menjadi semakin sempit.

Kedua, konflik yang belum mereda juga membuat harga minyak dunia tetap berada di level tinggi. Pada perdagangna pagi ini, Harga minyak dunia acuan Brent mengalami kenaikan 0,95% ke level US$105,2 per barel, dan untuk harga minyak WTI naik 1% ke US$99 per barel.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah.Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.

Grafis Harga Minyak

Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak juga dapat menambah risiko inflasi dan tekanan terhadap fiskal, terutama jika beban subsidi energi ikut meningkat.

Tekanan fiskal ini menjadi penting karena defisit APBN memang tengah mengalami sorotan cukup besar. Pada 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka ini masih berada di bawah batas maksimal defisit anggaran yang ditetapkan dalam Undang-Undang, yakni 3% terhadap PDB.

Memasuki 2026, tekanan fiskal juga masih berlanjut. Pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana pada kuartal I-2025 defisit APBN tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau 0,43% terhadap PDB.

Kondisi inilah yang membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit APBN agar tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB sepanjang 2026.

2. Ekspektasi Suku Bunga AS Tinggi Lebih Lama

Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena harga minyak yang tinggi juga dapat mempengaruhi arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve.

Lonjakan harga energi berisiko membuat inflasi AS kembali sulit turun. Jika inflasi tetap tinggi, pasar akan semakin yakin bahwa suku bunga AS perlu bertahan tinggi lebih lama.

Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, arus dana ke negara berkembang berpotensi tertahan. Mata uang seperti rupiah pun semakin sulit mendapat ruang penguatan.

Saat ini, investor juga masih menanti rilis data inflasi konsumen AS periode April. Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting untuk melihat sejauh mana perang Iran mempengaruhi ekonomi AS dan bagaimana arah kebijakan The Fed ke depan.

Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga masih kuat, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin mundur. Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

3. Efek Domino Tertembusnya Level Psikologis

Selain faktor global, pelemahan rupiah juga diperparah oleh faktor psikologis pasar. Tertembusnya level Rp17.500/US$ menjadi sinyal baru bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda.

Level psikologis sangat penting dalam pergerakan mata uang. Ketika level tersebut tertembus, pelaku pasar biasanya menjadi lebih defensif.

Permintaan dolar AS dapat meningkat, baik untuk kebutuhan transaksi, lindung nilai, maupun antisipasi pelemahan lebih lanjut.

Apalagi, rupiah baru saja menembus level Rp17.400/US$ pada pekan lalu. Kini, hanya dalam waktu singkat, rupiah kembali menembus Rp17.500/US$.

Tertembusnya dua level psikologis dalam sekitar sepekan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bergerak cepat. Kondisi ini juga berpotensi memperkuat persepsi bahwa pelemahan mata uang Garuda masih belum selesai.

Pasar Cermati Ruang Intervensi BI

Di tengah pelemahan rupiah yang semakin dalam, pasar juga mencermati ruang intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Selama ini, BI memiliki sejumlah instrumen untuk menstabilkan rupiah, mulai dari intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Namun, tekanan terhadap rupiah kali ini terjadi ketika cadangan devisa Indonesia sudah mengalami penurunan cukup dalam sepanjang 2026. Kondisi ini membuat pasar menilai BI kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menggunakan amunisinya untuk menahan pelemahan rupiah.

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, menilai BI tampaknya lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi untuk menghemat cadangan devisa.

"Iya, sepertinya BI lebih berhati-hati dalam melakukan intervensi untuk menghemat cadev," ujar Rully kepada CNBC Indonesia.

Sebagai catatan, posisi cadangan devisa Indonesia terus turun sejak awal tahun. Pada akhir Desember 2025, cadangan devisa RI berada di level US$156,5 miliar. Namun, posisi terakhir pada April 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$146,2 miliar atau turun sekitar US$10,3 miliar hanya dalam empat bulan pertama tahun ini.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan stabilisasi rupiah akibat tekanan eksternal yang kuat, mulai dari penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, hingga ketidakpastian konflik AS-Iran.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular