MARKET DATA

Sebulan Perang AS-Iran: Rial Loyo Lawan Dolar, Naik Tipis dari Rupiah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 April 2026 15:30
Foto Kolase Mata Uang Rial Iran, mata uang Vietnam Dong, Mata uang Lebanon, Lebanese Pound. (AP Photo)
Foto: Foto Kolase Mata Uang Rial Iran, mata uang Vietnam Dong, Mata uang Lebanon, Lebanese Pound. (AP Photo)

Jakarta, CNCB Indonesia - Jakarta, CNBC Indonesia - Genap sebulan perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, tekanan di pasar keuangan Iran belum juga mereda. Salah satu cerminan paling jelas terlihat dari nilai tukar rial Iran yang tetap terpuruk, baik saat melawan dolar Amerika Serikat (AS) maupun ketika dibandingkan dengan rupiah.

Mata uang Iran itu memang tidak lagi jatuh sedramatis fase awal tahun. Namun, selama perang berlangsung, rial tetap bertahan di level yang sangat lemah. Ini menandakan bahwa konflik bersenjata tidak memberi ruang pemulihan bagi mata uang Iran, melainkan justru menjaga tekanan tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Melansir data Refinitiv, pada awal pecahnya perang yakni 28 Februari 2026, kurs dolar AS terhadap rial Iran berada di level 1.313.863 rial per US$1. Sementara itu pada penutupan terakhir, Jumat (4/4/2026), nilainya berada di 1.316.135 rial per US$1.

Artinya, selama kurang lebih sebulan perang berlangsung, rial Iran masih melemah sekitar 0,17% terhadap dolar AS.

Secara persentase, pelemahan itu memang terlihat tipis. Namun yang jauh lebih penting, rial tetap bertahan di level yang sangat rapuh, yakni di atas 1,31 juta per dolar AS.

Dengan kata lain, perang sebulan terakhir memang belum memicu gelombang pelemahan baru yang ekstrem, tetapi juga sama sekali belum mampu membawa mata uang Iran keluar dari jurang keterpurukan.

Sepanjang periode perang tersebut, pergerakan rial Iran terhadap dolar AS juga cenderung berkutat di kisaran sempit, tetapi tetap lemah. Kurs terburuk sempat menyentuh 1.321.780 rial per US$1 pada 11 Maret 2026, sementara level terkuat dalam periode itu hanya berada di 1.310.814 rial per US$1 pada 25 Maret 2026.

Ini berarti sepanjang perang, fluktuasi hariannya memang tidak terlalu liar, tetapi seluruh pergerakan terjadi dalam posisi yang sudah sangat tertekan.

Terhadap Rupiah, Rial Menguat Tipis Selama Perang

Berbeda dengan pergerakannya terhadap dolar AS, rial Iran justru menguat tipis terhadap rupiah selama periode sebulan perang.

Berdasarkan data Refinitiv, pada 27 Februari 2026 nilai 1 rial Iran tercatat setara Rp0,0128. Sementara pada penutupan perdagangan Jumat (3/4/2026), nilainya naik menjadi Rp0,0129 per rial.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa selama periode perang, rial Iran menguat sekitar 0,78% terhadap rupiah.

Namun, penguatan tersebut sangat terbatas. Nilai tukar rial terhadap rupiah masih berada di kisaran yang sangat rendah, yakni hanya sekitar Rp0,0128-Rp0,0129 per rial. Artinya, meski secara teknis rial menguat tipis, levelnya masih menunjukkan bahwa mata uang Iran tetap sangat lemah.

Bagi perekonomian Iran, situasi ini jelas tidak ringan. Nilai tukar yang sangat lemah akan memperbesar tekanan harga barang impor, memperburuk inflasi, dan mengikis kepercayaan publik terhadap mata uang domestik.

Dalam kondisi perang, tekanan seperti ini menjadi jauh lebih sulit diredam karena ketidakpastian meningkat, arus modal cenderung menjauh, dan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS tetap tinggi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular