MARKET DATA

Perang Iran Ubah Permainan Pasar, Minyak Kini Kendalikan Obligasi AS

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 October 2026 17:25
FILE PHOTO: A pump jack operates in the Permian Basin oil production area near Wink, Texas U.S. August 22, 2018. Picture taken August 22, 2018. REUTERS/Nick Oxford/File Photo
Foto: Ilustrasi produksi minyak (REUTERS/Nick Oxford)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali bergerak naik bersamaan. Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana harga energi semakin kuat memengaruhi pasar obligasi dunia.

Merujuk data Refinitiv, harga minyak Brent mengakhiri perdagangan Rabu (30/9/2026) dengan kenaikan 0,92% menjadi US$103,53 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1,16% ke posisi US$90,42 per barel.

Kenaikan terjadi setelah perundingan damai AS-Iran belum menghasilkan kemajuan, sementara persediaan bensin dan produk distilasi AS menurun. Pasar pun kembali memperhitungkan risiko pasokan energi yang lebih ketat.

Kenaikan harga minyak berjalan beriringan dengan yield US Treasury tenor 10 tahun. Pada perdagangan yang sama, yield ditutup di level 5,293% atau naik 3,8 basis poin dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar 5,255%.

Pergerakan tersebut menjadi contoh terbaru mengenai semakin eratnya hubungan antara harga minyak dan pasar obligasi AS. Ketika minyak naik, kekhawatiran terhadap inflasi ikut membesar. Ekspektasi suku bunga tinggi kemudian menekan harga obligasi dan mendorong yield naik.

Mengutip Financial Times, korelasi antara harga minyak WTI dan yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 65% pada September, berdasarkan data perusahaan derivatif Cboe.

Angka tersebut hanya sedikit di bawah rekor 66% yang tercatat pada 1990 setelah Irak menginvasi Kuwait. Data Cboe mengenai hubungan kedua aset itu tersedia sejak 1985.

Investor Obligasi Kini Mengikuti Harga Minyak

Investor obligasi biasanya mencermati data pertumbuhan ekonomi, inflasi, tenaga kerja, hingga setiap pernyataan bank sentral. Namun, konflik di Timur Tengah membuat perhatian pasar semakin tertuju pada harga minyak.

"Pada dasarnya, kami hanya menjadi pedagang minyak," kata Mike Riddell, fund manager Fidelity International, seperti dikutip Financial Times.

Perubahan tersebut berkaitan dengan besarnya peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi dunia. Jalur sempit di Timur Tengah itu biasanya dilewati sekitar 20% ekspor minyak global.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat mengurangi pasokan dan membuat harga minyak melonjak. Kenaikan biaya energi kemudian berisiko mendorong inflasi serta membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pergerakan serupa juga terlihat di Eropa. Yield obligasi negara-negara yang lebih mudah terkena dampak kenaikan harga energi ikut bergerak searah dengan minyak.

"Yield bergerak mengikuti harga minyak tahun ini," kata Richard Woolnough, fund manager M&G, dikutip dari Financial Times.

Minyak Naik US$1, Yield Ikut Terdorong

Harga minyak bergerak sangat liar selama konflik berlangsung. Harga minyak acuan dunia sempat melampaui US$100 per barel, tetapi kemudian turun hingga mendekati US$70 per barel mengikuti perkembangan peluang perdamaian.

Besarnya pengaruh minyak terlihat dari perhitungan analis TS Lombard. Setiap kenaikan harga WTI sebesar US$1 per barel diperkirakan menambah hampir 0,02 poin persentase pada yield US Treasury tenor 10 tahun.

Pada perdagangan Senin, harga minyak sempat melonjak 4,5%. Pada waktu yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 0,09 poin persentase.

Yield obligasi AS tenor 10 tahun telah menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada tahun ini. Selain konflik AS-Iran, perekonomian AS yang masih kuat ikut menambah kekhawatiran bahwa inflasi akan sulit turun dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan perkiraan bahwa Federal Reserve masih perlu menaikkan suku bunga.

Harga Minyak Makin Menentukan Biaya Utang Pemerintah ASHarga Minyak Makin Menentukan Biaya Utang Pemerintah AS Foto: Financial Times

Harga Energi Makin Menentukan Langkah The Fed

Pada awal konflik, investor sempat berharap bank sentral akan menganggap kenaikan inflasi akibat gangguan pasokan energi sebagai tekanan sementara.

Harapan tersebut mulai memudar karena perang terus berlanjut sejak Februari. Kenaikan harga energi kini dinilai dapat memperpanjang tekanan inflasi yang sudah berada di atas target bank sentral.

Ketua The Fed Kevin Warsh pada bulan ini mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan terlalu lama. Pernyataan itu disampaikan ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.

Peter Schaffrik, ahli strategi makro global RBC Capital Markets, menilai penggerak yield obligasi jangka pendek telah berubah. Harga energi sekarang menjadi salah satu faktor utama yang digunakan pasar untuk memperkirakan arah kebijakan bank sentral.

Akibatnya, data pertumbuhan ekonomi dan sejumlah indikator lain tidak lagi menjadi satu-satunya perhatian utama investor obligasi.

Mandy Xu, kepala riset pasar derivatif Cboe, menilai perkembangan konflik dapat semakin menentukan arah pasar apabila hubungan antara minyak dan obligasi terus bertahan.

"Arah yield akan lebih bergantung pada situasi Iran," kata Xu seperti dikutip Financial Times.

Menurutnya, situasi di Iran dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap arah yield dibandingkan keputusan The Fed.

Eropa Juga Tertekan Harga Gas

Tekanan energi di Eropa tidak hanya datang dari minyak. Harga gas alam Eropa telah melonjak sekitar 160% sepanjang tahun ini dan mencapai posisi tertinggi sejak periode setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

Gas memiliki pengaruh besar terhadap biaya hidup rumah tangga Eropa. Kenaikan harganya dapat langsung menambah biaya pemanas, listrik, hingga produksi barang.

Presiden Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) Christine Lagarde juga telah menyebut kenaikan harga gas sebagai salah satu risiko yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Pernyataan itu disampaikan ketika ECB menaikkan suku bunga pada awal bulan ini.

Arah Perang Masih Sulit Ditebak

Masalahnya, belum ada kepastian mengenai kapan konflik akan berakhir dan ke mana harga minyak akan bergerak berikutnya.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan telah menolak tawaran Iran untuk mengadakan gencatan senjata baru selama tujuh hari. Perkembangan tersebut kembali menunjukkan bahwa peluang perdamaian masih dapat berubah sewaktu-waktu.

Analis JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global, mengaku semakin sulit menentukan perkiraan dasar harga minyak sejak konflik Iran dimulai. Ketidakpastian mengenai akhir perang membuat proyeksi pasar menjadi jauh lebih rumit.

Selama situasi tersebut belum mereda, harga minyak berpotensi tetap menjadi penentu utama pergerakan pasar obligasi. Investor tidak hanya harus memperkirakan arah inflasi dan suku bunga, tetapi juga mengikuti setiap perkembangan konflik di Timur Tengah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular