Bond Vigilante Menghukum Trump, Bunga Obligasi AS Makin Liar
Jakarta, CNBC Indonesia - Yield atau imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali mengalami kenaikan, meski disaat Departemen Keuangan AS sudah mengumumkan rencana pembelian kembali utang dalam jumlah yang lebih besar.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (9/10/2026), yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 4 basis poin menjadi 4,845%. Yang sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 1 November 2023, ketika itu yield menyentuh 4,935%.
Kenaikan juga terjadi di tenor lainnya. Tenor 30 tahun surat utang pemerintah ASS naik 3 basis poin ke level 5,295%, sedangkan tenor 2 tahun yield nya naik hampir 4 bps menjadi 4,436%.
Sebagai informasi, harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah. Ketika harga obligasi turun akibat tekanan jual, yield akan naik.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa pemerintah akan membeli kembali surat utang berjangka panjang senilai maksimal US$6 miliar atau setara Rp105 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.500/US$.
Jumlah tersebut mencapai tiga kali lipat dari batas normal US$2 miliar per operasi.
Namun, nilai buyback itu masih berada di bawah perkiraan sebagian pelaku pasar sehingga belum mampu meredakan tekanan di pasar obligasi AS.
Buyback Diperbesar hingga November
Rencana memperbesar buyback pertama kali disampaikan Bessent pada 19 Agustus 2026. Ketika itu, ia mengatakan nilai pembelian kembali surat utang berjangka panjang akan dinaikkan setidaknya dua kali lipat dari batas normal.
Kebijakan tersebut berlaku mulai 9 September hingga berakhirnya periode quarterly refunding pada 4 November 2026. Namun, Departemen Keuangan AS saat itu belum menentukan besaran buyback untuk setiap operasi.
Besaran untuk operasi pertama baru diumumkan pada Rabu (9/9/2026). Departemen Keuangan AS menetapkan pembelian maksimal US$6 miliar pada Kamis (10/9/2026), dengan menyasar surat utang yang memiliki sisa jatuh tempo antara 10 hingga 20 tahun.
Pemerintah terutama akan membeli surat utang lama atau off-the-run Treasuries. Obligasi jenis ini biasanya lebih jarang diperdagangkan dibandingkan surat utang terbaru dengan tenor serupa.
Secara resmi, program buyback tersebut bertujuan meningkatkan likuiditas dengan memberikan kesempatan rutin kepada pelaku pasar untuk menjual surat utang lama. Program ini juga digunakan untuk membantu pengelolaan kas pemerintah dan mengurangi biaya pendanaan dalam jangka panjang.
Buyback dilakukan oleh Federal Reserve Bank of New York atas perintah Departemen Keuangan AS. Program ini berbeda dari pembelian obligasi oleh bank sentral atau quantitative easing karena tidak ditujukan sebagai pelonggaran kebijakan moneter.
Departemen Keuangan AS tetap menerbitkan surat utang baru melalui lelang untuk membiayai kebutuhan pemerintah. Karena itu, pembelian kembali surat utang lama tidak otomatis mengurangi total utang maupun jumlah pasokan obligasi secara keseluruhan.
Mengapa Yield Tetap Naik?
Secara sederhana, buyback dapat menambah permintaan terhadap obligasi yang menjadi sasaran pembelian. Permintaan tersebut berpotensi mengangkat harga obligasi dan menekan yield.
Namun, pengaruhnya bergantung pada besarnya pembelian dan kondisi pasar. Dalam kasus ini, nilai US$6 miliar dinilai belum cukup besar untuk melawan tekanan jual yang sedang berlangsung.
Peter Boockvar dari The Boock Report mengatakan sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan nilai buyback dapat mencapai US$7 miliar hingga US$8 miliar.
"Departemen Keuangan AS mengumumkan buyback dalam jumlah yang lebih kecil dari harapan pasar," tulis Mizuho Securities, dikutip dari CNBC International.
Kekecewaan tersebut mendorong investor kembali menjual US Treasury. Harga obligasi pun turun dan yield bergerak naik.
Pasar juga masih mempertimbangkan kondisi dasar ekonomi AS, mulai dari besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah, kenaikan inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Total utang pemerintah AS bahkan telah mencapai US$40 triliun untuk pertama kalinya pada Agustus 2026. Dibandingkan besarnya pasar dan kebutuhan pembiayaan tersebut, buyback senilai US$6 miliar hanya memberikan dukungan terbatas.
Harga Minyak Ikut Menekan Obligasi
Tekanan terhadap US Treasury juga datang dari kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent naik 3,36% dan ditutup pada US$101,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,25% menjadi US$96,05 per barel. Keduanya mencatatkan harga penutupan tertinggi sejak Mei.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi di AS akan kembali menguat.
Jika inflasi tetap tinggi, The Fed memiliki ruang yang lebih sempit untuk menurunkan suku bunga dan bahkan dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat investor meminta imbal hasil yang lebih besar untuk memegang obligasi pemerintah AS, terutama yang memiliki tenor panjang.
Meski demikian, kenaikan yield sempat mereda setelah lelang US Treasury tenor 10 tahun mencatatkan permintaan yang kuat.
"US Treasury mengalami tekanan jual setelah pengumuman buyback pagi ini. Namun, setelah hasil lelang keluar, pasar kembali menguat dan penguatan tersebut berlanjut," ujar Ian Lyngen dari BMO, dikutip dari CNBC International.
Respons pasar menunjukkan bahwa program buyback tersebut belum cukup besar untuk menahan kenaikan yield selama tekanan inflasi, harga minyak, kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan ketidakpastian suku bunga masih mendominasi pasar.
Inikah Tanda Kembalinya "Bond Vigitalante" ?
Dalam cerita fiksi, salah satu tokoh vigilante paling terkenal adalah Batman. Pahlawan bertopeng tersebut menghukum para penjahat di Kota Gotham.
Di pasar keuangan, terdapat istilah bond vigilantes yang menggambarkan investor obligasi yang "menghukum" pemerintah dengan menjual surat utangnya.
Istilah bond vigilantes lahir pada 1980-an dan dicetuskan oleh ekonom Ed Yardeni.
Salah satu momen paling terkenal terjadi antara akhir 1993 hingga 1994. Saat itu, yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak dari 5,2% menjadi sekitar 8%.
Lonjakan tersebut akhirnya mendorong pemerintah AS mengambil langkah penghematan anggaran. Pada 1998, yield US Treasury tenor 10 tahun kembali turun ke kisaran 4%.
Pasar obligasi memiliki kekuatan besar karena menjadi salah satu jalur utama pembiayaan negara. Tanpa akses terhadap pinjaman dengan biaya yang terjangkau, pemerintah akan kesulitan menjalankan berbagai program dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan yield US Treasury yang terjadi saat ini dapat dilihat sebagai tanda bahwa bond vigilantes mulai kembali bergerak. Investor meminta imbal hasil lebih tinggi di tengah kekhawatiran terhadap utang, inflasi, dan kondisi fiskal pemerintah AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)