MARKET DATA

Harga Emas Jatuh ke Terendah 2 Bulan, Musuh Abadi Bergentayangan Lagi

mae,  CNBC Indonesia
04 June 2026 06:49
Emas
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak turun tertekan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil surat utang AS. Dolar dan imbal hasil naik didorong ekspektasi bahwa inflasi akibat perang akan membuat suku bunga tetap tinggi. Investor juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan data ekonomi terbaru.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (3/6/2026) ditutup di posisi US$ 4431,77 per troy ons (XAU/USD). Harganya ambruk 1,18%.

Posisi kemarin juga menjadi yang terendah sejak 26 Maret 2026 atau lebih dari dua bulan.

Pada hari ini harga emas sedikit membaik. Pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.38 WIB, harga emas menguat 0,40% ke US$ 4449,59 per troy ons atau XAU/USD.



Harga emas jatuh karena dua musuh abadinya kembali mengaut yakni dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil US Treasury.

Indeks dolar AS kembali menguat tajam ke 99,529 pada perdagangan Rabu kemarin. Ini adalah posisi tertinggi sejak 7 April 2026 atau hampir sebulan.
Pembelian emas global dikonversi ke dolar AS sehingga kenaikan dolar akan menekan permintaan.

Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun juga kini mendekati 4,5%, sementara tenor 30 tahun hampir menyentuh 5%. Emas tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imba, hasil US Treasury membuat emas tidak menarik.

Dolar emas kembali membara karena perang.

 

Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah serangan Iran ke Kuwait merusak bandara dan melukai puluhan orang. Di saat yang sama, militer AS melancarkan serangan di dekat Selat Hormuz, sementara upaya diplomasi untuk menghentikan perang belum menunjukkan kemajuan berarti.

"Aktivitas emas saat ini banyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, dikutip dari Refinitiv.

Menurutnya, eskalasi konflik mendorong kenaikan harga energi yang berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi. Kondisi itu bisa memicu suku bunga lebih tinggi, memperkuat dolar AS, dan menekan harga emas lebih lanjut.

Emas selama ini dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, emas menjadi kurang menarik di lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

Harga minyak tercatat naik, sementara indeks dolar AS menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Penguatan dolar membuat logam yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Presiden Federal Reserve New York John Williams menegaskan belum melihat perlunya perubahan suku bunga jangka pendek. Namun Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan bank sentral AS mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi terus meningkat.

Pelaku pasar kini menanti data nonfarm payrolls AS Mei yang akan dirilis Jumat untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed.

Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan perekrutan tenaga kerja swasta AS pada Mei meningkat lebih tinggi dari perkiraan.

Perusahaan swasta AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei 2026, tertinggi sejak Januari 2025 dan melampaui proyeksi pasar 117.000.

ADP menyebut pasar tenaga kerja AS masih solid menjelang musim perekrutan musim panas. Penambahan terbesar berasal dari sektor kesehatan dan pendidikan sebanyak 57.000 pekerjaan serta perdagangan dan transportasi 36.000 pekerjaan.

Sementara itu, usaha kecil menjadi penyumbang terbesar perekrutan. Pertumbuhan gaji pekerja tetap bertahan di 4,4%, sedangkan pekerja yang pindah kerja naik menjadi 6,6%.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Harga perak ambruk parah.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (3/6/2026) ditutup di posisi US$ 72,7 per troy ons. Harganya jatuh 3,2%.

Posisi kemarin juga menjadi yang terendah sejak 4 Mei 2026.

Pada hari ini harga perak sedikit membaik. Pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.40 WIB, harga perak menguat 0,49% ke US$ 63,06 per troy ons.



Most Popular
Features