MARKET DATA

Ngeri! Bunga Surat Utang Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 September 2026 14:35
FILE PHOTO: A Japan Yen note is seen in this illustration photo taken June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Foto: Mata Uang Yen Jepang (REUTERS/Thomas White)

Jakarta, CNBC Indonesia - Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun meningkat hingga menyentuh level tertinggi sejak September 1996.

Melansir data Refinitiv, pada Selasa (1/9/2026) pukul 10.35 WIB, yield obligasi tersebut menembus level 3,001%. Posisi ini sekaligus menjadi yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Dalam dua tahun terakhir, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun telah meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi sedang mengalami penurunan. Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah. Ketika harga obligasi turun akibat tekanan jual, yield akan meningkat.

Inflasi, Ekspektasi Suku Bunga dan Kekhawatiran Utang Pemerintah

Tekanan di pasar obligasi Jepang terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia kembali naik dan meningkatkan risiko kenaikan harga energi.

Kondisi tersebut cukup berisiko bagi Jepang karena negara tersebut sangat bergantung pada impor energi. Pelemahan yen yang bergerak di sekitar level terendah dalam hampir empat dekade juga membuat biaya impor semakin mahal.

Kenaikan harga energi dan pelemahan yen meningkatkan tekanan terhadap Bank of Japan (BOJ) untuk mempercepat kenaikan suku bunga.

Pasar bahkan telah memperhitungkan peluang yang sangat besar bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga dalam pertemuan bulan ini.  BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada September 2026.

BOJ juga tengah mengurangi pembelian obligasi secara bertahap. Selama bertahun-tahun, pembelian JGB dalam jumlah besar oleh bank sentral menahan yield tetap rendah. Berkurangnya pembelian membuat pasar harus menyerap lebih banyak obligasi tanpa dukungan sebesar sebelumnya dari BOJ.

Kenaikan yield ini juga perlu dicermati karena Jepang sendiri memiliki utang pemerintah yang sangat besar, nilainya bahkan sudah melampaui 200% dari produk domestik bruto (PDB).

Jika yield terus meningkat, pemerintah harus menawarkan bunga yang lebih tinggi ketika menerbitkan obligasi baru atau mengganti utang yang telah jatuh tempo. Beban pembayaran bunga pun berpotensi membengkak dan membuat pemerintah memiliki ruang yang semakin terbatas untuk membiayai program lainnya.

Kekhawatiran tersebut bertambah setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendorong investasi besar-besaran pada sejumlah industri strategis. Rencana belanja itu, ditambah pemangkasan pajak, dinilai berisiko menambah tekanan terhadap keuangan negara.

Investor pun mulai berhati-hati membeli obligasi Jepang. Hal ini terlihat dalam lelang obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada Agustus 2026 yang mencatat permintaan terlemah dalam setahun.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular