Harga Emas Ambles 2% Lebih, Jatuh ke Level Terlemah 2 Minggu
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas ambruk lagi dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi serta perkembangan perang.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (21/4/2026) ditutup di posisi US$ 4711,67 per troy ons. Harganya ambruk 2,24%.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah 2,4% dalam dua hari terakhir. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 7 April 2026 atau dua pekan terakhir.
Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Rabu (22/4/2026) pukul 06.29 WIB, harga emas menguat 0,45% menjadi US$ 4732,59 per troy ons.
Harga emas ambruk karena kembali menguatnya indeks dolar. Indeks menguat 0,2% dan ditutup di 98,394 pada perdagangan kemarin, dari 9,097% pada hari sebelumnya.
Dolar AS yang menguat membuat emas yang dikonversi dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik.
"Imbal hasil dan dolar yang lebih kuat menekan emas, ditambah banyak berita utama dan sinyal campuran terkait situasi Iran yang mendorong harga energi naik, sehingga menekan logam mulia," kata Bob Haberkorn, kepada Reuters.
Pasar keuangan bergejolak karena menjelang penutupan pasar, kecemasan meningkat di Wall Street setelah muncul laporan bahwa perjalanan Wakil Presiden JD Vance untuk bergabung dalam negosiasi dengan Iran ditunda karena kurangnya komitmen dari Teheran. Hal ini dilaporkan The New York Times dan Axios yang mengutip pejabat AS.
Tak lama setelah bursa saham AS ditutup, Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata akan diperpanjang sampai proposal dari Iran diajukan.
Kedua faktor ini juga berdampak besar ke emas.
Pelaku pasar juga mencermati sudang hearing Komite Perbankan Senat AS dengan calon Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh.
Warsh menyerukan "perubahan rezim" di bank sentral AS, termasuk pendekatan baru dalam mengendalikan inflasi dan perombakan strategi komunikasi agar pejabat The Fed tidak terlalu banyak memberi sinyal soal arah kebijakan moneter.
Warsh menegaskan dirinya tidak pernah berjanji kepada Presiden AS Donald Trump untuk memangkas suku bunga jika resmi memimpin bank sentral AS. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang konfirmasi di Senat AS, saat pasar global tengah menyoroti masa depan arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.
Warsh menyebut Trump tidak pernah meminta komitmen soal level suku bunga, meski sebelumnya Trump berkali-kali menyatakan berharap Warsh akan menurunkan bunga jika terpilih.
Pernyataan Warsh ini menjadi kabar buruk mengingat pelaku emas berharap The Fed segera memangkas suku bunga.
"Trader akan mencermati setiap komentarnya. Dengan sidang ini, volatilitas diperkirakan akan sangat tinggi," tambah Haberkorn.
Addsource on Google