Palantir & SpaceX Mengajari Amerika Cara Baru Berperang, Sehebat Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran kemungkinan akan memberi banyak pelajaran bagi Amerika Serikat (AS). Salah satu yang mulai terasa adalah betapa mahalnya penggunaan persenjataan konvensional untuk menghadapi ancaman yang jauh lebih murah, seperti drone buatan Iran.
Melansir dari The Economist, Emil Michael, mantan eksekutif Silicon Valley yang kini menjadi pejabat senior di Pentagon, mengatakan dinamika perang modern sudah berubah. Menurut dia, tidak masuk akal lagi jika rudal seharga US$1 juta digunakan hanya untuk menjatuhkan drone yang nilainya sekitar US$50.000.
Kondisi itulah yang menjadi salah satu alasan pemerintahan Presiden Donald Trump mulai mendekat ke grup baru perusahaan pertahanan yang berupaya mengubah cara AS berperang. Grup ini dipimpin oleh Palantir, SpaceX, dan Anduril.
|
Palantir dikenal sebagai raksasa perangkat lunak yang memasok sistem intelijen. SpaceX melalui jaringan satelit Starshield menyediakan kemampuan pengintaian dan konektivitas. Sementara Anduril menjadi nama yang semakin kinclong lewat produksi drone udara, drone laut, hingga senjata anti-drone.
Tiga perusahaan ini kerap disebut sebagai "neo-primes", yakni generasi baru kontraktor utama pertahanan. Kedekatan mereka dengan figur-figur dalam pemerintahan Trump kini mulai membuat perusahaan-perusahaan besar lama di kompleks industri militer AS gelisah.
Pemerintah AS menilai kontraktor pertahanan tradisional atau legacy primes sudah menjadi terlalu lamban, mahal, dan cenderung enggan mengambil risiko. Hal itu terjadi karena mereka selama ini menikmati kontrak besar yang menguntungkan.
Michael mengatakan, bila para pemain baru ini mampu membuktikan diri, mereka akan mulai merebut sebagian bisnis yang sebelumnya hampir pasti jatuh ke tangan kontraktor pertahanan lama.
Pemain Baru Mulai Dapat Tempat
Sepanjang tahun ini, perusahaan-perusahaan penantang tersebut mulai mendapat dukungan besar dari pemerintah AS.
Pada Januari lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggunakan basis SpaceX di Texas sebagai latar peluncuran strategi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terbaru. Dalam kesempatan itu, dia menjanjikan Departemen Perang AS akan meniru gaya manajemen Elon Musk dan bergerak jauh lebih cepat.
Kemudian pada Maret, pemerintah menyatakan sistem komando dan kendali berbasis AI milik Palantir, yang bernama Maven, akan menjadi programme of record. Status itu membuat pendanaan bagi proyek tersebut terkunci untuk jangka panjang, meski tetap akan dibayangi birokrasi yang tidak sedikit.
Masih di bulan yang sama, Angkatan Darat AS juga merampingkan sejumlah kontrak dengan Anduril menjadi satu kontrak besar bernilai hingga US$20 miliar atau setara dengan Rp342,7 triliun (asumsi kurs Rp17.135/US$1) untuk periode 10 tahun.
Secara nilai, komitmen tersebut memang masih tampak kecil bila dibandingkan dengan program jet tempur siluman F-35 yang dipimpin Lockheed Martin. Program F-35 bahkan diperkirakan dapat menghabiskan biaya lebih dari US$2 triliun dalam beberapa dekade.
Tahun lalu, tiga kontraktor pertahanan tradisional terbesar AS yakni Lockheed Martin, RTX, dan Northrop Grumman, secara gabungan masih membukukan penjualan sekitar delapan kali lebih besar dibandingkan tiga pemain baru tersebut.
Apalagi, sebagian besar pendapatan SpaceX dan Palantir juga datang dari pelanggan di luar Pentagon.
Foto: The Economist |
Pamor Neo-Primes Terus Naik
Meski begitu, investor tetap sangat optimistis. Nilai gabungan Palantir, SpaceX, dan Anduril kini tercatat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tiga kontraktor pertahanan terbesar tadi.
Optimisme itu antara lain muncul karena pasar melihat mereka punya peluang besar untuk mengguncang industri senjata.
Dalam beberapa bulan ke depan, SpaceX bahkan diperkirakan akan melantai di bursa lewat initial public offering (IPO) terbesar sepanjang sejarah.
Sementara itu, Anduril yang hampir seluruh pendapatannya berasal dari kontrak pertahanan disebut sedang menggalang dana dengan valuasi mencapai US$60 miliar. Padahal, penjualannya tahun lalu hanya sekitar US$2 miliar dan perusahaan itu masih merugi.
Valuasi tinggi tersebut juga mencerminkan derasnya arus dana modal ventura yang masuk ke startup pertahanan di AS. Tidak hanya tiga nama besar tadi, perusahaan lapis kedua yang ingin naik kelas juga mulai kebanjiran dana.
Foto: The Economist |
Beberapa di antaranya adalah Shield AI yang mengembangkan pilot otonom untuk pertempuran udara, serta Saronic yang memproduksi drone maritim.
Antusiasme itu ikut ditopang oleh ambisi Presiden Trump yang ingin Kongres menaikkan anggaran pertahanan tahun fiskal berikutnya lebih dari 40% dari level saat ini menjadi US$1,5 triliun.
Dalam rencana itu, pemerintah ingin memperbesar belanja untuk drone, anti-drone, dan AI. Meski kontraktor tradisional masih akan tetap mendapat porsi terbesar, Emil Michael berharap bagian anggaran yang dialokasikan untuk para penantang inovatif, yang saat ini sekitar 1-2%, bisa terus naik beberapa poin persentase setiap tahun demi menciptakan persaingan yang lebih besar.
Cara Pentagon Belanja Senjata Mulai Berubah
Dari sudut pandang Pentagon, salah satu daya tarik utama para pemain baru adalah mereka umumnya tidak menyukai kontrak cost-plus, yaitu model ketika pemerintah mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan lalu menambahkan margin keuntungan di atasnya.
Model itu memang dinilai cocok untuk proyek besar dan kompleks yang biaya awalnya sulit diperkirakan. Namun di sisi lain, pola tersebut juga dianggap mendorong inefisiensi dan membuat perusahaan menjadi lamban.
Sebaliknya, para penantang baru lebih menyukai kontrak fixed-price atau harga tetap. Dalam model ini, mereka menanggung lebih dulu biaya riset dan pengembangan, tetapi bisa menikmati margin besar bila proyek selesai tepat waktu dan sesuai anggaran.
Struktur kontrak seperti ini membantu mereka tetap ramping dan memberi insentif untuk bergerak lebih cepat. Mereka juga terdorong untuk terus menyempurnakan produk yang ada dan bukan selalu membangun sistem baru dari nol.
Sebagai contoh, Anduril ingin menggunakan satu motor roket berbahan bakar padat yang sama untuk berbagai sistem peluncuran agar biaya bisa ditekan.
Soal kecepatan, perubahan ini terlihat cukup nyata. Hanya delapan bulan setelah startup SpektreWorks dari Arizona memperkenalkan prototipe drone kamikaze bernama LUCAS, militer AS langsung mengerahkannya di perang Iran baru-baru ini. Ironisnya, LUCAS sendiri merupakan hasil reverse engineering dari drone Shahed milik Iran.
Foto: Drone Lucas. (Ist Tangkapan Layar) |
Kecepatan Tinggi, Risiko Tinggi
Perubahan pendekatan Pentagon ini memunculkan euforia di kalangan industri.
Matthew Steckman, eksekutif yang menangani sebagian besar bisnis Anduril, menyebut pergeseran ini sangat besar. Menurut dia, hampir setiap hari perusahaannya harus menyesuaikan diri dengan versi terbaru dari langkah Departemen Perang AS yang ingin bergerak lebih cepat.
Steve Blank dari Stanford University juga mengatakan birokrasi dalam pengadaan pertahanan kini sedang dipangkas besar-besaran. Menurut dia, tumpukan dokumen administratif sedang disingkirkan secepat mungkin.
Namun, kecepatan ini juga memunculkan kekhawatiran.
Bagi para penantang baru, risikonya adalah mereka mengambil terlalu banyak proyek terlalu cepat, lalu kewalahan saat nilai kontraknya semakin besar. Risiko ini dinilai lebih besar untuk Anduril dibandingkan SpaceX dan Palantir.
SpaceX dan Palantir sudah memiliki kontrak besar dengan pelanggan komersial maupun lembaga pemerintah lain, sehingga skala bisnis mereka lebih kuat. Selain itu, fokus Palantir pada perangkat lunak membuat ekspansi bisnisnya relatif jadi jauh lebih mudah.
Sebaliknya, bagi Anduril dan banyak calon neo-primes lain, tantangan utamanya ada pada kemampuan meningkatkan kapasitas manufaktur. Anduril sendiri baru mulai membangun fasilitas produksi besar, termasuk pabrik di Ohio yang menelan biaya US$1 miliar.
Artinya, walaupun perusahaan ini banyak menjanjikan, kemampuannya untuk menaikkan produksi hingga mendekati skala kontraktor tradisional masih belum benar-benar teruji.
Pemerintah AS Turut Hadapi Tantangan
Risiko tidak hanya ada di pihak perusahaan. Pemerintah AS juga menghadapi tantangan tersendiri.
Pentagon ingin beralih ke sistem persenjataan yang saling terhubung atau interoperable, bukan lagi platform yang berdiri sendiri seperti yang selama ini ditawarkan kontraktor lama. Namun, sebagian pihak khawatir pemerintah justru bisa terlalu bergantung pada layanan peluncuran dan satelit milik SpaceX, atau sistem manajemen perang dari Palantir dan Anduril.
Di sisi lain, walaupun Pentagon mengatakan ingin mendorong persaingan yang lebih besar dalam industri pertahanan, kenyataannya masuk ke lingkaran ini tetap sangat sulit.
Anduril misalnya dikenal agresif mengakuisisi perusahaan yang lebih kecil, termasuk Blue Force Technologies, pembuat pesawat tempur nirawak Fury yang dibelinya pada 2023.
Scott Bledsoe, pencipta Fury, mengatakan dia akhirnya menjual startup miliknya karena menyadari perusahaan sekecil itu terlalu sulit membangun kedekatan yang dibutuhkan untuk memenangkan kontrak pertahanan skala besar. Meski begitu, dia menyayangkan situasi tersebut.
Menurut dia, ada risiko bahwa semua perubahan ini pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi baru kontraktor besar lama, hanya dengan wajah yang berbeda.
Seorang orang dalam dari salah satu neo-primes bahkan mengaku perusahaannya kemungkinan juga akan membangun strategi lobi politik di berbagai negara bagian, mirip seperti yang selama ini dilakukan kontraktor pertahanan tradisional.
Terlalu fokus ke drone juga berbahaya
Risiko lain adalah apabila Departemen Perang AS terlalu terpukau oleh drone dan teknologi sejenis, sehingga mengabaikan sistem persenjataan tradisional yang justru bisa sangat penting dalam potensi konflik masa depan melawan China.
Dalam konflik semacam itu, senjata tradisional tetap dianggap vital karena mampu menjangkau jarak jauh dan menembus pertahanan canggih.
Di luar persoalan industri dan strategi militer, hubungan yang semakin dekat antara keluarga Trump dan kelompok neo-primes juga mulai menimbulkan kekhawatiran di tingkat yang lebih luas.
Saat saham Palantir sempat tertekan akibat serangan dari short seller bulan ini, Presiden Trump secara terbuka membela perusahaan tersebut di Truth Social. Bahkan dia menyebut langsung nama dan kode sahamnya.
Trump menulis bahwa Palantir Technologies (PLTR) telah membuktikan memiliki kemampuan dan peralatan perang yang hebat, seraya menyindir bahwa musuh-musuh Amerika bisa menjadi buktinya.
Sementara itu, Donald Trump Jr, anak dari Presiden Trump, tercatat sebagai partner di 1789 Capital. Yakni perusahaan permodalan yang berinvestasi di Anduril.
Matthew Steckman menepis kekhawatiran itu dengan mengatakan hampir semua investor di dunia juga merupakan investor di Anduril. Namun persepsi kedekatan politik tetap berpotensi menjadi masalah.
Jika perusahaan-perusahaan ini dianggap terlalu partisan, dukungan dari banyak politisi Partai Demokrat yang selama ini cukup terbuka terhadap startup pertahanan bisa melemah. Situasi itu dapat berbahaya bagi mereka apabila Partai Republik kehilangan kendali atas pemerintah federal.
Perombakan yang sedang berlangsung di kompleks industri militer AS memang dianggap sudah lama dibutuhkan. Namun akan sangat disayangkan jika perubahan besar itu justru berakhir meleset dari sasaran.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google
Foto: The Economist
Foto: The Economist
Foto: Drone Lucas. (Ist Tangkapan Layar)