MARKET DATA
Newsletter

13 Sentimen Bayangi RI: Reshuffle, Minyak Membara-Data Genting dari AS

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
02 October 2026 06:30
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Ri
Foto: Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street mengawali perdagangan Oktober dengan penguatan tipis. Investor kembali memburu saham setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau Treasury mulai turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Indeks S&P 500 naik 0,19% dan ditutup pada level 7.666,45. Indeks teknologi Nasdaq Composite menguat tipis 0,04% menjadi 26.871,60. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menanjak 20,51 poin atau 0,04% ke posisi 50.926,56.

Pergerakan positif ini terjadi setelah tekanan dari pasar obligasi mulai mereda.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat melonjak ke level tertinggi harian 5,344%, menjadi level tertinggi sejak 2002. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun juga menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.

"Saya melihat ada sedikit kelelahan di pasar obligasi. Kita telah mengalami kenaikan 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi," ujar Jeff Kilburg, CEO KKM Financial, kepada CNBC Internatinal.

Menurutnya, pasar mulai optimistis bahwa kenaikan yield menuju level 5% hanya bersifat sementara. Namun, kondisi tersebut sangat bergantung pada penyelesaian konflik Iran.

"Harus ada solusi terkait Iran agar kondisi ini bisa terjadi," katanya.

 

Belakangan ini, pergerakan saham cenderung berlawanan dengan yield obligasi. Ketika yield turun, pasar saham biasanya menguat. Namun, kenaikan harga minyak masih membatasi optimisme investor terhadap aset berisiko.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% dan ditutup di level US$92,87 per barel. Investor menanti langkah berikutnya dari Presiden Donald Trump terkait konflik Iran, termasuk kemungkinan apakah pemerintah AS akan menunda tindakan militer hingga setelah pemilu sela (midterm).

(slm/slm)


Most Popular
Features