AS Beri Kabar Baik, Inflasi-Neraca Dagang RI Bisa Buat Keringat Dingin
-
Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu kemarin, IHSG melemah sementara rupiah dan harga SBN menguat.
-
Wall Street berakhir beda arah meskipun inflasi PCEÂ jauh lebih rendah dari proyeksi
-
Perkembangan perang, rilis data manufaktur, neraca dagang, dan inflasi RI akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sementara rupiah menguat. Harga Surat Berharga Negara (SBN) juga menguat seiring penurunan yield tenor 10 tahun.
Memasuki perdagangan Kamis (1/10/2026), pelaku pasar akan mencermati perkembangan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS, sinyal kenaikan suku bunga tambahan dari The Fed, serta kelanjutan sentimen meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG menutup perdagangan terakhir September di zona merah. Setelah sempat menguat pada awal sesi, indeks berbalik turun 0,83% atau 50,56 poin ke level 6.071,14 kemarin, Rabu (30/9/2026).
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dalam rentang sekitar 116 poin, dengan posisi tertinggi di level 6.187 dan ditutup di posisi terendah hariannya.
Volume perdagangan mencapai 30,11 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,01 triliun dan frekuensi 1,80 juta kali. Tekanan terutama datang dari sektor konsumer primer yang merosot 2,34%, disusul teknologi sebesar 0,95%.Â
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,61 triliun.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut menjadi pemberat pergerakan indeks.
Dari luar negeri, investor mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengenai kemungkinan satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026.
Di pasar mata uang, Rupiah menutup perdagangan kemarin, Rabu (30/9/2026), dengan penguatan tajam.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi 0,50% ke posisi Rp17.870/US$, menguat 90 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.960/US$.
Penguatan tersebut membawa rupiah menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$ yang sempat ditembus pada perdagangan intraday sehari sebelumnya. Rupiah dibuka menguat di Rp17.910/US$ dan sempat menyentuh posisi terkuat hariannya di Rp17.825/US$.
Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,10% ke posisi 101,269. Sentimen pasar juga membaik menyusul kabar peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menyebut laporan mengenai keterbukaan Gedung Putih untuk mempertimbangkan peninjauan kembali sanksi terhadap Iran turut memperbaiki sentimen pasar.
Meredanya kekhawatiran terhadap pasokan energi menekan harga minyak dunia. Pada penutupan Selasa, minyak WTI turun 3,95% menjadi US$88,95 per barel, sementara Brent melemah 1,99% ke US$95,88 per barel.
Pelaku pasar selanjutnya mencermati rilis data ekonomi AS untuk membaca arah kebijakan The Fed.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke level 7,106% dari posisi sebelumnya di 7,219%. Penurunan yield sebesar 11,3 basis poin tersebut mencerminkan penguatan harga SBN tenor 10 tahun.
Dari pasar saham Amerika Serikat, burswa Wall Street berakhir beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 turun 0,25% menjadi 7.651,54, setelah sebelumnya sempat menguat hampir 0,7% sepanjang sesi perdagangan.
Nasdaq Composite justru naik 0,24% ke 26.861,06. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 0,86% atau 443,87 poin ke 50.906,05.
Perdagangan Rabu sekaligus menandai berakhirnya September dan kuartal III 2026.
Sepanjang September indeks S&P 500 turun 0,5% , Dow Jones jatuh 4,3% sementara Nasdaq menguat 1,9%
Sementara sepanjang kuartal III, S&P 500 naik 2% sementara Nasdaq menanjak 2,5% dan sebaliknya Dow Jones turun 2,7%
Pergerakan bursa dipengaruhi rilis data Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Indeks pada Agustus naik 3,4% secara tahunan, melambat dari 3,7% pada bulan sebelumnya.
Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tetap berada di level 3,7%.
Data yang lebih menggembirakan terlihat pada core PCE, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi. Core PCE naik 3% secara tahunan, turun dari 3,3% pada bulan sebelumnya sekaligus lebih rendah dari perkiraan ekonom.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ditutup lebih tinggi, naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298%.
Imbal hasil sempat menembus 5,3% pada level tertinggi dalam sesi perdagangan. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun naik hampir 5 basis poin menjadi 5,642%.
"Saya tidak melihat ekspektasi inflasi benar-benar melonjak. Jadi, saya pikir yang diperhatikan trader adalah angka pertumbuhan," kata Rob Haworth, Senior Investment Strategy Director di U.S. Bank Asset Management Group, kepada CNBC International.
Menurut Haworth, ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, termasuk proyeksi GDP kuartal III dari Atlanta Fed serta revisi naik ekspektasi GDP kuartal II, turut mendorong kenaikan suku bunga riil jangka panjang.
Perhatian pasar kini beralih ke laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Nonfarm payrolls diperkirakan hanya bertambah 84.000 pekerjaan pada September, sekitar setengah dari tambahan pekerjaan pada Agustus setelah penyesuaian musiman.
Peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga menurun pada Rabu. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, trader kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada bulan depan sebesar 35%, turun dari sekitar 51% sehari sebelumnya.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya pada Desember.
"Data inflasi hari ini memang sedikit lebih baik dari perkiraan, tetapi data tenaga kerja dan GDP yang kuat menunjukkan angka tersebut kemungkinan tidak akan menggagalkan ekspektasi konsensus untuk kenaikan suku bunga lainnya sebelum akhir tahun," kata Adam Hetts, Global Head of Multi-Asset sekaligus Portfolio Manager di Janus Henderson Investors.
Haworth mengatakan pasar masih memperkirakan sekitar 75% peluang adanya tiga kali kenaikan suku bunga hingga pertengahan tahun depan.
"Pasar belum menganggap persoalan ini sepenuhnya selesai, tetapi mungkin tidak lagi melihatnya sebagai isu yang mendesak seperti yang sebelumnya dikhawatirkan," ujarnya.
Memasuki perdagangan hari ini, Kamis (1/10/2026), pelaku pasar dalam negeri akan mencermati berbagai sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Dari domestik, perhatian tertuju pada rilis PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi.
Dari eksternal, perkembangan perang masih membayangi pasar, di tengah penguatan manufaktur China, inflasi PCE AS yang lebih rendah dari ekspektasi, serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS.
1. Perkembangan Perang: Iran Terima Respons AS soal Proposal Gencatan Senjata
Iran menyatakan telah menerima respons Amerika Serikat (AS) terkait proposal terbaru untuk menghidupkan kembali kesepakatan gencatan senjata di kawasan Teluk yang sebelumnya runtuh.
Proposal Iran tersebut meminta AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan telah menolak proposal tersebut, tetapi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut Teheran belum menerima penolakan resmi.
Menurut pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut, Iran dan AS pada dasarnya telah menyepakati langkah-langkah yang diperlukan, tetapi masih berbeda pendapat mengenai urutan pelaksanaannya.
Di tengah konflik yang memasuki bulan kedelapan, AS juga menarik pasukan terakhirnya dari Irak. Langkah ini disambut Iran dan kelompok-kelompok sekutunya sebagai kemenangan.
Penarikan pasukan AS dikhawatirkan meningkatkan pengaruh kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak. Sementara itu, konflik terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
2. Manufaktur China Menguat, Permintaan Ekspor Meningkat
Aktivitas manufaktur China semakin menguat pada September 2026. Indeks RatingDog China Manufacturing PMI naik menjadi 52,1 dari 51,5 pada Agustus, melampaui proyeksi pasar sebesar 51,6.
Angka tersebut menunjukkan ekspansi manufaktur terkuat sejak April. PMI di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan angka di bawahnya menunjukkan kontraksi.
Penguatan ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri. Penjualan ekspor tumbuh dengan laju tercepat dalam tujuh bulan, sementara produksi mencatat pertumbuhan tertinggi sejak April, didukung permintaan pelanggan dan peningkatan kapasitas produksi.
Kenaikan pesanan baru turut mendorong perusahaan menambah tenaga kerja dan meningkatkan pembelian bahan baku. Di sisi lain, keterlambatan pengiriman pemasok masih membatasi penambahan persediaan bahan baku.
Tekanan biaya juga meningkat. Inflasi harga input mencapai level tertinggi dalam empat bulan akibat kenaikan harga material. Perusahaan kemudian sedikit menaikkan harga jual setelah melakukan penurunan tipis pada Agustus.
Ke depan, optimisme pelaku usaha membaik seiring harapan terhadap kondisi makroekonomi global yang lebih baik, meski masih berada di bawah rata-rata jangka panjang. Bagi Indonesia, penguatan manufaktur China menjadi sinyal positif bagi prospek permintaan komoditas, tetapi dampaknya tetap bergantung pada kebutuhan bahan baku industri China.
3. Inflasi PCE AS di Bawah Ekspektasi
Inflasi Amerika Serikat (AS) berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat sebesar 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026.
Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 3,7% dan tidak berubah dibandingkan angka Juli yang telah direvisi turun.
Sementara itu, inflasi PCE inti yang mengecualikan harga pangan dan energi berada di level 3% secara tahunan, juga di bawah proyeksi pasar sebesar 3,3%. Angka Juli turut direvisi turun menjadi 3% dari sebelumnya 3,3%, sehingga laju inflasi inti tahunan sebenarnya bertahan stabil.
Secara bulanan, indeks harga PCE inti naik 0,2% pada Agustus, lebih rendah dari perkiraan sebesar 0,3%. PCE inti menjadi ukuran yang dicermati The Federal Reserve (The Fed) untuk menilai tekanan inflasi yang mendasari perekonomian.
Realisasi yang lebih rendah dari ekspektasi memberikan sinyal tekanan harga lebih terkendali dibandingkan perkiraan pasar. Meski demikian, inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%, sehingga data ini belum memastikan arah pelonggaran suku bunga.
Bagi pasar keuangan Indonesia, hasil tersebut berpotensi menjadi sentimen positif apabila mendorong ekspektasi penurunan suku bunga AS dan meredakan tekanan dolar. Pelaku pasar tetap perlu mencermati data ketenagakerjaan serta pernyataan pejabat The Fed untuk menilai langkah kebijakan berikutnya.
4. Pertumbuhan Ekonomi AS Direvisi Naik
Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,2% pada kuartal II-2026 secara kuartalan yang disetahunkan (annualized). Angka tersebut direvisi naik dari estimasi kedua sebesar 1,5%, meski masih melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal I yang telah direvisi menjadi 2,5%.
Berdasarkan laporan U.S. Bureau of Economic Analysis (BEA), revisi tersebut mencerminkan investasi, konsumsi rumah tangga, dan belanja pemerintah yang lebih kuat dibandingkan penghitungan sebelumnya.
Pada komponen investasi, kenaikan ditopang oleh persediaan swasta dan investasi aset tetap. Investasi bangunan nonhunian memberikan kontribusi terbesar terhadap revisi investasi, terutama pembangunan komersial dan fasilitas kesehatan, dengan pusat data menjadi pendorong utama.
Dari sisi industri, pertumbuhan ditopang oleh sektor real estat dan persewaan, informasi, manufaktur barang tahan lama, serta keuangan dan asuransi. Sebagian penguatan tersebut tertahan oleh penurunan pada transportasi dan pergudangan, perdagangan ritel, serta manufaktur barang tidak tahan lama.
Revisi naik ini menunjukkan ekonomi AS lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Jika disandingkan dengan inflasi PCE yang lebih rendah dari ekspektasi, data tersebut memberi gambaran pertumbuhan yang tetap bertahan di tengah tekanan harga yang lebih terkendali daripada perkiraan pasar.
Bagi pasar, kombinasi tersebut dapat mendukung sentimen terhadap prospek ekonomi AS. Arah kebijakan The Fed selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan ketenagakerjaan.
5. PMI Manufaktur RI
Indonesia akan merilis data S&P Global Manufacturing PMI periode September pada hari ini, Kamis (1/10/2026) pukul 07.30 WIB.
Pada Agustus 2026, PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8, dari 50,2 pada Juli yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi, meski penurunannya masih relatif tipis.
Pergerakan tersebut menunjukkan pemulihan sektor manufaktur domestik masih belum stabil. Setelah sempat kembali ke zona ekspansi pada Juli, aktivitas industri kembali melemah pada Agustus, sehingga pasar akan mencermati apakah kontraksi berlanjut atau manufaktur mampu kembali menembus level 50.
Rilis September akan menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan aktivitas industri domestik memasuki kuartal IV-2026.
PMI yang kembali di atas 50 dapat memberikan sinyal perbaikan produksi dan permintaan, sementara pelemahan lebih dalam berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
6. Ekspor, Impor, Neraca Dagang RI Agustus 2026
Indonesia akan merilis data ekspor, impor, dan neraca perdagangan periode Agustus pada hari ini, Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB.
Pada Juli 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat US$26,22 miliar, sementara impor mencapai US$26,09 miliar. Selisih tipis tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$0,13 miliar, berbalik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan defisit US$0,3 miliar.
Secara tahunan, ekspor tumbuh 6,05% (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi 3,4%, meski melambat dari 8,84% pada Juni. Sementara itu, impor melonjak 27,02% yoy, melampaui perkiraan 24,1%, meski lebih rendah dari pertumbuhan 34,27% pada bulan sebelumnya.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat apakah surplus perdagangan masih dapat bertahan di tengah laju impor yang jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.
Surplus yang tetap terjaga dapat menopang posisi eksternal Indonesia dan rupiah, sementara pelemahan ekspor atau kenaikan impor yang lebih kuat berpotensi kembali mempersempit surplus perdagangan.
7. Inflasi RI
Indonesia akan merilis data inflasi September 2026 pada hari ini, Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB, yang mencakup inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan.
Inflasi Indonesia diperkirakan kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar, terutama cabai.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi September 2026 besok, Kamis (1/10/2026).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan berada di level 3,30%.
Pada pengumuman data inflasi di periode sebelumnya, BPS mencatat inflasi sebesar 0,21% (mtm) dan 3,19% (yoy) pada Agustus 2026.
Dengan demikian, hasil polling menunjukkan tekanan inflasi diperkirakan meningkat baik secara bulanan maupun tahunan pada September.
Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,19% (yoy) dari 2,28% pada Juli dan sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 3,13%.
Kenaikan terutama didorong oleh harga makanan, minuman dan tembakau, disertai peningkatan biaya perawatan pribadi dan transportasi. Meski naik, inflasi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.
Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,92% yoy, tertinggi sejak Maret 2023, menunjukkan tekanan harga yang lebih persisten di luar komponen bergejolak dan harga yang diatur pemerintah. Sementara secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,21% (mom), berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah tekanan harga kembali meningkat atau mulai mereda.
Inflasi yang tetap berada dalam sasaran BI dapat memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan tetap akomodatif, sementara kenaikan inflasi inti yang berlanjut dapat membuat ruang pelonggaran moneter menjadi lebih terbatas.
8. OPEC Diprediksi Pertahankan Target Produksi Minyak November
Negara-negara produsen minyak OPEC diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk November dalam pertemuan Minggu mendatang, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.
Pertemuan virtual akan diikuti tujuh anggota utama OPEC , yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Keputusan final belum dibuat. Namun, kelompok tersebut sebelumnya telah menaikkan target produksi hampir sepanjang tahun dan mempertahankannya untuk Oktober.
OPEC pada September juga telah menyelesaikan penghapusan bertahap pemangkasan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari (bph) yang disepakati sejak 2023.
Perang Iran turut mengganggu produksi dan ekspor minyak negara-negara Teluk. Data OPEC menunjukkan tujuh produsen utama OPEC memproduksi 25 juta bph pada Agustus, naik 630.000 bph dari Juli, tetapi masih sekitar 5 juta bph di bawah level sebelum perang pada Februari.
OPEC masih memiliki pemangkasan produksi sekitar 2 juta bph yang berlaku hingga akhir 2026. Kelompok tersebut kini bersiap menentukan kuota produksi 2027 berdasarkan hasil kajian kapasitas produksi masing-masing anggota.
Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), Harga minyak brent naik 0,9% ke US$ 103,53 per barel sedangkan WTI melonjak 1,2% ke US$ 90,42 er barel.
9. OJK Izinkan 2 Perusahaan Gadai Ekspansi Nasional
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyetujui perluasan wilayah usaha menjadi nasional bagi PT Gadai Mulia Sejahtera dan PT Solusi Gadai Pintar.
Persetujuan diberikan setelah keduanya memenuhi persyaratan dan dokumen perizinan sesuai POJK Nomor 39 Tahun 2024 sebagaimana diubah dengan POJK Nomor 29 Tahun 2025. Dengan izin tersebut, kedua perusahaan dapat menjalankan bisnis pergadaian di seluruh Indonesia.
Sebelumnya, OJK juga memberikan izin serupa kepada PT Gadai Mas Nusantara, PT Gadai Sakti Indonesia, PT Pusat Gadai Indonesia, dan PT Gadai Elektronik Jakarta.
Ekspansi ini dilakukan di tengah pertumbuhan industri pergadaian yang pesat. Pada Juli 2026, penyaluran pinjaman industri pergadaian mencapai Rp160,78 triliun, tumbuh 50,73% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, produk gadai mendominasi dengan penyaluran Rp136,39 triliun.
Dari sisi pendanaan, industri pergadaian menghimpun Rp126,93 triliun, tumbuh 65,71% yoy.
10. Danantara Siap Kantongi 5%-10% Saham BEI
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengungkap rencana Danantara memiliki saham Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 5%-10%.
Rosan mengatakan porsi tersebut akan disesuaikan dengan POJK Nomor 13 Tahun 2026 yang baru diterbitkan.
Ia menegaskan Danantara tidak akan menguasai 40% saham BEI. Porsi hingga 30%-40% nantinya dapat dimiliki bersama kementerian lain melalui konsorsium pemerintah.
Sementara itu, COO Danantara Dony Oskaria menegaskan kepemilikan akan mengikuti ketentuan OJK. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga BEI tetap transparan, kredibel, berkembang, dan dipercaya investor.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Rilis data PMI Manufaktur RI periode September 2026
- Rilis data Ekspor, Impor, dan Neraca Dagang RI periode Agustus 2026
- Rilis data Inflasi RI periode September 2026
- Pidato sejumlah pejabat The Fed dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde
- Rilis data PMI Manufaktur final S&P Global AS periode September 2026
- Rilis data Tingkat Pengangguran zona euro periode Agustus 2026
- Rilis data PMI Manufaktur Jepang dan Korea Selatan periode September 2026
-
Komisi V DPR menggelar Rapat Kerja dengan antara lain Menteri Perhubungan dan Menteri Perhubungan membahas RUU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
-
Presiden memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yang digelar di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya,Jakarta Timur
-
Product Experience the New Samsung Galaxy Tab Series di 25 Hours Hotel, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS Rencana PT Wijaya Cahaya Timber Tbk
Informasi Pembayaran Kupon seri BVIC05CN1 ke 1
Informasi Pembayaran Kupon seri BVIC02SBCN3 ke 26
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Chandra Daya Investasi Tbk
Informasi Pembayaran Kupon seri ASDF06BCN4 ke 8
Berikut indikator ekonomi terbaru:
(slm/slm) Next Article Pekan Berdarah atau Cuan? 11 Kabar Genting Menanti: The Fed - Utang RI