Sawit RI Bikin Dunia Gelisah, Harga Bisa Salip Minyak Kedelai di 2027
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit berpotensi melampaui minyak kedelai pada 2027 seiring ancaman penurunan produksi akibat El Niño dan meningkatnya kebutuhan biodiesel Indonesia. Kombinasi tersebut diperkirakan memperketat pasokan sawit di pasar global.
Mengutip Reuters, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono pada Selasa (29/9/2026) mengatakan cuaca kering akibat El Niño berpotensi menekan produksi tahun depan.
Kondisi ini bisa membuat minyak sawit kembali diperdagangkan dengan harga lebih tinggi dibandingkan minyak kedelai, seperti yang terjadi pada 2024.
10 Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas di RI, Siapa Raja Sebenarnya? Foto: Infografis/10 Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas di RI, Siapa Raja Sebenarnya?/Ilham Restu |
Minyak sawit yang terutama diproduksi Indonesia dan Malaysia bersaing dengan minyak kedelai dari Amerika Selatan serta minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Produksi Turun, Permintaan Biodiesel Naik
Martono memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 turun 3,7% menjadi 56,6 juta ton. Pada saat yang sama, kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel diproyeksikan meningkat 18,5% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi rekor 17,4 juta ton.
Penurunan produksi di tengah kenaikan konsumsi domestik akan mempersempit pasokan yang tersedia untuk ekspor. Ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan turun 14,9% menjadi 26,5 juta ton pada 2027, sekaligus menjadi yang terendah sejak 2016.
Sebagai eksportir terbesar dunia, berkurangnya pasokan Indonesia berpotensi memperketat ketersediaan minyak sawit di pasar internasional. Kondisi tersebut menjadi faktor yang dapat menopang harga tahun depan.
Harga CPO Tertekan dalam Jangka Pendek
Meski prospek pasokan 2027 berpotensi mendorong kenaikan harga, pasar CPO saat ini masih menghadapi tekanan.
Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO pada perdagangan Rabu (30/9/2026) pukul 16.16 WIB ada di posisi MYR 4592 per ton atau melemah 0,7%. Harga CPO sudah melemah empat hari beruntun.
Harga CPO saat ini adalah yang terendah sejak 17 Juli 2026.
Pelemahan dipicu penurunan harga minyak nabati di Bursa Dalian serta ekspektasi kenaikan persediaan Malaysia pada September.
Kepada Reuters, seorang pedagang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan sentimen pasar tertekan oleh perkiraan tingginya stok akhir, seiring produksi yang kuat dan melemahnya ekspor September.
Berdasarkan estimasi perusahaan survei kargo Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-25 September turun sekitar 15,1%-24,3% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Sementara itu, persediaan pada akhir Agustus telah mencapai level tertinggi dalam delapan bulan.
Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai teraktif turun 0,09%, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 1,14%. Sebaliknya, minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,44%.
Pergerakan minyak nabati pesaing turut memengaruhi harga CPO karena produk-produk tersebut berebut pangsa pasar global.
Dengan demikian, tekanan stok dan ekspor masih membayangi harga dalam jangka pendek, sementara risiko El Niño serta peningkatan kebutuhan biodiesel menjadi perhatian untuk arah pasar pada 2027.
(slm/slm)