Harga CPO Melompat Efek El Nino, Minggu Depan Jadi Penentuan
Jakarta,CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menguat pada akhir pekan setelah kekhawatiran terhadap dampak El Niño terhadap produksi kembali menopang pasar.
Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO ditutup di MYR4.929 per ton pada Jumat (4/9/2026). Secara harian, harga naik sekitar 0,5%, sementara dalam sepekan menguat sekitar 0,8%.
Penguatan tersebut membuat CPO bangkit dari tekanan pekan sebelumnya, meski sepanjang perdagangan harga masih bergerak volatil.
El Nino Kembali Bayangi Produksi
Dilansir dari Business Recorder, kenaikan harga ditopang kekhawatiran terhadap produksi dalam jangka menengah seiring kondisi El Nino yang memengaruhi Malaysia dan Indonesia. Cuaca yang lebih kering dapat menekan hasil kelapa sawit jika berlangsung berkepanjangan.
Sentimen energi juga masih memberi dukungan. Harga minyak mentah bertahan tinggi di tengah konflik AS-Iran dan risiko gangguan pasokan Timur Tengah. Harga minyak yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Stok Tinggi Masih Jadi Beban
Meski demikian, ruang kenaikan CPO belum sepenuhnya terbuka. Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit Malaysia pada Juli naik 3,32% menjadi 2,63 juta ton, tertinggi dalam beberapa bulan. Produksi CPO juga naik 9,41% menjadi 1,79 juta ton, meski ekspor meningkat 14,5%.
Artinya, produksi yang masih kuat membuat pasar tetap menghadapi pasokan yang relatif besar. Kondisi ini dapat menahan reli harga apabila pertumbuhan ekspor tidak mampu mengejar peningkatan produksi.
Pekan Depan Jadi Penentu
Perhatian pasar pekan depan juga tertuju pada data bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada 10 September 2026, terutama perkembangan stok dan produksi minyak sawit Malaysia selama Agustus yang dapat menjadi penentu arah harga berikutnya.
Jika stok mulai turun atau produksi menunjukkan tekanan akibat cuaca, harga CPO berpeluang kembali mendapat dorongan. Sebaliknya, stok yang kembali meningkat dapat menjadi hambatan bagi harga, terutama jika permintaan ekspor belum cukup kuat.
Kebakaran hutan dan kabut asap di Kalimantan dan Sarawak juga menjadi risiko tambahan yang perlu dicermati. Reuters melaporkan kondisi kabut asap di Serian, Sarawak, mencapai level berbahaya akibat kebakaran hutan di wilayah Indonesia. Namun, sejauh ini belum ada indikasi kuat bahwa kondisi tersebut telah mengganggu produksi sawit secara signifikan.
(slm/slm)