MARKET DATA

Ekspor Sawit Bakal 1 Pintu Lewat BUMN: Malaysia Untung Besar?

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
21 May 2026 10:45
Petani Sawit. (Dok. POPSI)
Foto: Petani Sawit. (Dok. POPSI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) anjlok setelah pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan baru terkait ekspor komoditas.

Pidato Presiden RI Prabowo Subianto tentang pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia juga membuat pasar CPO berada pada posisi yang canggung.

Sebagai catatan, Presiden Prabowo  akan membentuk BUMN khusus ekspor. Penjualan semua hasil Sumber Daya Alam Indonesia mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara dan besi fero alloy wajib dilakukan penjualannya melalui BUMN Khusus Ekspor.

Pasar khawatir kebijakan baru tersebut dapat mengubah mekanisme ekspor sawit dunia dan memperketat pasokan dari Indonesia yang selama ini menjadi pemasok terbesar global.

Namun di saat bersamaan, lemahnya data ekspor Malaysia serta melambatnya permintaan global justru menahan penguatan harga minyak sawit.

Alhasil, pelaku pasar kini masih menunggu kejelasan implementasi aturan baru pemerintah Indonesia sebelum menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Pada hari ini, Kamis (21/5/2026), harga CPO melemah 0,56% ke MYR 4556 per ton. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif di mana harga CPO juga melemah 0,05% pada Rabu (20/5/2026) ke MYR 4583 per ton.

Sebelumnya, pemerintah juga memperketat pengawasan industri sawit domestik. Indonesia telah menyerahkan sekitar 4,12 juta hektare lahan sawit kepada Agrinas Palma Nusantara sebagai bagian dari penertiban perkebunan sawit ilegal dan penguatan pengelolaan sektor sawit nasional.

Skema Ekspor yang Masih Picu Kekhawatiran

Rencana pemerintah memusatkan ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia masih memunculkan tanda tanya besar di kalangan pelaku industri sawit global.

Pasalnya, mekanisme ekspor satu pintu dinilai berpotensi mengubah struktur perdagangan sawit Indonesia yang selama ini berbasis pasar dan melibatkan banyak eksportir.

Sejumlah kekhawatiran turut disampaikan oleh beberapa tokoh perwakilan institusi-institusi terkait:

 

Malaysia Bisa Ketiban Untung, Tapi Tak Sepenuhnya Aman

Di tengah ketidakpastian aturan ekspor baru Indonesia, Malaysia dinilai berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan.  M.R. Chandran, mantan ketua Malaysian Palm Oil Association, mengatakan pembeli global kemungkinan mulai mencari pemasok yang dinilai lebih stabil dan memiliki risiko intervensi pemerintah yang lebih kecil.

Dia juga menilai Malaysia bisa menjadi alternatif utama bagi importir global apabila pasar menilai mekanisme ekspor Indonesia berpotensi memperlambat distribusi sawit dunia.

Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan pembeli kemungkinan akan mengalihkan sebagian permintaan sementara ke Malaysia sampai implementasi aturan Indonesia menjadi lebih jelas.

Meski demikian, kondisi industri sawit Malaysia sendiri belum sepenuhnya kuat.

Pasar masih dibayangi lemahnya ekspor minyak sawit Malaysia yang pada periode 1-20 Mei tercatat turun sekitar 13,9% hingga 20,5% dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan permintaan global masih cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian pasar minyak nabati dunia.

Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia sekitar 0,18% terhadap dolar AS juga membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.

Di sisi produksi, produsen sawit Malaysia mulai mengurangi aktivitas replanting akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar. Penundaan replanting tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberlanjutan pasokan minyak sawit global dalam jangka panjang.

Pasar Sawit Global Masuk Fase Wait and See

Di tengah derasnya sentimen yang mempengaruhi pasar minyak nabati global, pergerakan harga minyak sawit saat ini masih cenderung tertahan. Pasar dinilai masih berada dalam fase wait and see sambil menunggu dampak nyata dari kebijakan ekspor baru Indonesia serta perkembangan kondisi global lainnya.

Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia untuk pengiriman Agustus tercatat ditutup nyaris stagnan pada perdagangan 20 Mei 2026. K

Padahal, setelah pengumuman Presiden RI Prabowo Subianto terkait pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia, harga sawit Malaysia sempat melonjak sekitar 2% sebelum akhirnya kembali terkoreksi.

Sentimen lain juga datang dari meningkatnya permintaan biodiesel, termasuk implementasi B50 di Indonesia. Pasar juga masih dibayangi risiko penurunan produksi akibat El Nino dan mahalnya biaya replanting.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump menyebut konflik Iran diperkirakan dapat berakhir "sangat cepat". Pernyataan tersebut melemahkan harga minyak mentah dunia hingga 1% membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel sehingga turut menahan kenaikan harga CPO lebih lanjut.

Berbagai sentimen yang muncul secara bersamaan membuat pasar sawit global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian sehingga pelaku pasar sejauh ini masih belum memberikan respons ekstrem.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular