MARKET DATA

Harga Batu Bara Naik Tipis, Dibayangi Kabar dari Indonesia & China

mae,  CNBC Indonesia
22 May 2026 07:35
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam nege
Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menanjak tipis di tengah gempuran kabar dari Indonesia dan China.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (21/5/2026) ditutup di posisi US$ 137,55 per ton atau menanjak 0,07%. Kenaikan ini berbanding terbalik dengan pelemahan 1,4% pada Rabu.

Harga batu bara terombang-ambing di antara banyaknya kabar dari Indonesia dan China.

 

Seperti diketahui, Indonesia memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya ekspor komoditas strategis Indonesia ke BUMN khusus ekspor, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI pada 1 Januari 2027. Sebelumnya ekspor akan dilakukan per 1 Juni 2026.


Dengan keputusan ini, maka masa transisi pelaksanaan ekspor terpusat di PT DSI untuk komoditas batu bara, minyak mentah kelapa sawit, dan ferro alloy menjadi lebih panjang, karena masa transisinya tetap akan dilakukan per 1 Juni 2026.

Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara dunia sehingga kebijakannya akan berdampak besar. Sebelumnya, kebijakan Indonesia disorot dunia karena dikhawatirkan bisa menimbulkan gangguan pasokan.

Dari China dilaporkan, harga batu bara thermal di mulut tambang (mine-mouth thermal coal) di China mengalami tekanan akibat curah hujan tinggi yang menurunkan permintaan listrik berbasis batu bara.

 

Hujan deras di banyak wilayah China meningkatkan produksi listrik tenaga air sehingga kebutuhan pembangkit listrik berbasis batu bara menurun. Cuaca yang lebih sejuk juga mengurangi konsumsi listrik untuk pendingin udara, sehingga permintaan batu bara melemah.

Pasokan batu bara domestik China tetap tinggi, sementara stok di tambang dan pelabuhan meningkat. Kondisi ini menekan harga batu bara di pusat produksi utama seperti Shanxi dan Inner Mongolia.

Beberapa tambang mulai menurunkan harga karena pembelian dari utilitas listrik dan trader melemah.

Tekanan pada harga domestik China juga berpotensi menekan impor batu bara, termasuk dari Indonesia, karena batu bara lokal menjadi lebih kompetitif.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular