MARKET DATA

Produksi Kapas Dunia Diramal Ambruk, Importir Kayak RI Bisa Kena Imbas

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
30 September 2026 15:30
Bisa Ditanam di Indonesia, Mengapa RI Impor Kapas Triliunan Rupiah?
Foto: Infografis/ Bisa Ditanam di Indonesia, Mengapa RI Impor Kapas Triliunan Rupiah?/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Niño yang semakin kuat mulai menguji salah satu bahan baku penting industri fashion, yakni kapas.


Musim kapas 2026/27 diperkirakan berlangsung di tengah kondisi cuaca yang semakin volatil.

El Niño yang sangat kuat berpotensi memicu kombinasi panas ekstrem, kekeringan, hujan lebat, hingga banjir di berbagai wilayah. Dampaknya diperkirakan dapat dirasakan oleh negara-negara yang secara bersama-sama menyumbang sekitar separuh produksi kapas dunia, sehingga perubahan cuaca tersebut berpotensi mengganggu produksi di sejumlah kawasan utama penghasil kapas.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik ini akan menguat menjadi El Niño dengan intensitas sangat kuat dan bertahan hingga Februari 2027.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko perubahan pola hujan, kekeringan, banjir, hingga suhu ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Dampaknya tak berhenti di sektor pertanian. Gangguan produksi kapas dapat merambat ke harga bahan baku, industri tekstil, biaya produksi, hingga rantai pasok pakaian yang tersebar lintas negara.

Produksi Kapas Global Diproyeksi Jeblok, Indonesia Bisa Terdampak

Berdasarkan proyeksi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi kapas dunia pada musim 2026/27 diperkirakan turun 300.000 bale menjadi 117,3 juta bale.

Sebagai catatab, 1 bale kapas AS umumnya sekitar 480 pound atau 218 kg. Dengan demikian, produksi kapas dunia 117,3 juta bale setara kira-kira 25,6 juta ton.

Penurunan produksi di Pakistan, Turki, dan Amerika Serikat diperkirakan lebih besar dibandingkan kenaikan produksi di Brasil, Kazakhstan, dan Afrika Barat.

Di sisi lain, konsumsi kapas global diperkirakan tetap tinggi, yakni 122,9 juta bale. Perdagangan dunia bahkan diproyeksikan meningkat 400.000 bale menjadi 44,2 juta bale.

Ilustrasi Kapas (Pixabay)Ilustrasi Kapas (Pixabay) Foto: Ilustrasi Kapas (Pixabay)

Kenaikan permintaan impor terutama diperkirakan berasal dari Indonesia, Pakistan, dan Turki.

Indonesia sendiri diproyeksikan mengimpor 2,1 juta bale kapas pada 2026/27 atau 458 ribu ton. Angka ini naik 100.000 bale dari proyeksi sebelumnya. USDA mengaitkan kenaikan tersebut dengan konsumsi yang lebih tinggi.

Dari sisi produksi, China menjadi produsen kapas terbesar dunia dengan sekitar 35,8 juta bale atau 29,4% dari produksi global. India menyusul dengan 23,8 juta bale, Brasil 18,75 juta bale, dan Amerika Serikat 13,9 juta bale.

Dengan produksi global yang sedikit menyusut sementara konsumsi tetap tinggi, ruang pasokan kapas berpotensi semakin ketat.

Bagi Indonesia yang bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil, perubahan produksi di negara-negara utama menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Importir kapasImportir kapas Foto: USDA

Dari Ladang Bisa Menjalar ke Harga Baju

Kapas merupakan awal dari rantai panjang industri fashion. Setelah dipanen, serat kapas diolah menjadi benang dan kain sebelum masuk ke industri pakaian.

Karena itu, gangguan di tingkat perkebunan dapat muncul jauh sebelum konsumen merasakan dampaknya di toko.

Produksi yang lebih rendah berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan volatilitas harga. Pada saat yang sama, produsen tekstil menghadapi ketidakpastian biaya bahan baku.

Risiko tersebut juga dapat diperburuk oleh gangguan logistik. Kekeringan di sejumlah wilayah berpotensi menekan jalur perdagangan sekaligus menambah biaya dan waktu pengiriman.

CEO CottonConnect Alison Ward mengatakan periode panas ekstrem dan curah hujan yang tidak menentu dapat memperlihatkan kelemahan sistem produksi kapas yang terlalu bergantung pada input eksternal.

Dalam kondisi tersebut, biaya produksi dapat meningkat, sementara hasil panen semakin sulit diprediksi.

Bagi industri fashion yang memiliki rantai produksi tersebar di berbagai negara, gangguan di satu titik dapat merambat ke tahapan berikutnya, mulai dari pengolahan serat hingga produksi pakaian.

Risiko Bisa Berlanjut hingga 2027

Dampak cuaca terhadap rantai pasok tidak selalu muncul seketika. Gangguan pada musim tanam dan panen membutuhkan waktu sebelum tercermin pada pasokan bahan baku, harga komoditas, dan biaya produksi.

WMO memperkirakan El Niño bertahan hingga Februari 2027, tetapi menekankan bahwa dampaknya tidak seragam di seluruh dunia.

Kondisi di Samudra Hindia dan Atlantik juga dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah.

Bagi industri kapas dan fashion, kondisi tersebut membuat diversifikasi sumber bahan baku, pengelolaan persediaan, dan kemampuan beradaptasi semakin penting.

(mae/mae)



Most Popular