El Nino Bikin Dunia Terbelah: Ada yang Kekeringan & Dikepung Banjir
Jakarta, CNBC Indonesia - El Niño kerap dikaitkan dengan kekeringan, penurunan produksi pangan, hingga kebakaran hutan. Tetapi fenomena yang sama juga bisa meningkatkan risiko hujan lebat dan banjir di belahan dunia lainnya.
Perbedaan dampak tersebut terjadi karena El Niño mengubah lokasi berkumpulnya air laut hangat di Samudra Pasifik. Pergeseran ini kemudian mengubah pergerakan udara, pembentukan awan, serta distribusi hujan hingga ribuan kilometer dari pusatnya.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian seiring menguatnya El Niño tahun ini.
Dalam laporan pada 22 September 2026, badan meteorologi Inggris, Met Office, menyatakan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah telah melampaui tingkat yang tercatat pada kejadian El Niño sebelumnya.
Fenomena tersebut masih diperkirakan berkembang menuju puncaknya pada akhir tahun.
Lantas, bagaimana satu fenomena bisa membuat sebagian wilayah kekurangan air, sementara wilayah lain justru menghadapi banjir?
Air Hangat Menentukan Hujan
Mengutip penjelasan The Conversation, dalam kondisi normal, angin pasat di wilayah tropis Pasifik bertiup dari timur ke barat. Angin ini mendorong air laut hangat menuju Pasifik bagian barat, termasuk perairan di sekitar Indonesia.
Sementara itu, di Pasifik bagian timur, air yang lebih dingin dari lapisan laut dalam naik menggantikan air permukaan yang terdorong ke barat. Proses ini disebut upwelling dan membuat perairan di dekat Amerika Selatan umumnya lebih dingin dibandingkan perairan sekitar Indonesia.
Air laut yang hangat meningkatkan penguapan sekaligus menghangatkan udara di atasnya. Udara hangat dan lembap tersebut kemudian naik, mengembang, dan mendingin. Uap air di dalamnya mengembun menjadi awan yang dapat menghasilkan hujan.
Itulah salah satu alasan Indonesia dan wilayah Pasifik bagian barat menerima banyak hujan, sementara pesisir Peru di sisi timur Pasifik umumnya jauh lebih kering.
Di lapisan atmosfer atas, udara yang naik kemudian menyebar, sebagian bergerak ke timur dan turun di atas perairan yang lebih dingin. Di dekat permukaan, udara kembali mengalir ke barat sebagai angin pasat.
Rangkaian pergerakan udara ini dikenal sebagai sirkulasi Walker, yang menghubungkan kondisi laut dengan pola hujan di kawasan tropis Pasifik.
Saat Pusat Hujan Bergeser
Ketika El Niño terjadi, angin pasat melemah. Dorongan yang biasanya mengumpulkan air hangat di sekitar Indonesia ikut berkurang, sehingga air hangat lebih banyak berada di Pasifik bagian tengah dan timur.
Pusat penguapan, udara yang naik, serta pembentukan awan dan hujan kemudian ikut bergeser ke timur.
Akibatnya, sebagian wilayah Pasifik bagian timur dan kawasan di sekitarnya, termasuk pesisir Peru, dapat menerima hujan lebih tinggi dari biasanya. Jika hujan berlangsung sangat lebat, risiko banjir pun meningkat.
Sebaliknya, di Pasifik bagian barat, termasuk Indonesia, udara cenderung lebih banyak bergerak turun. Udara yang turun menghangat dan menghambat pembentukan awan hujan, sehingga kondisi menjadi lebih kering.
Berkurangnya hujan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika vegetasi serta lahan gambut kehilangan kelembapan. Kejadian El Niño kuat pada 1997 dan 2015 dikaitkan dengan kebakaran besar di Indonesia.
Pergeseran tersebut turut memperkecil perbedaan suhu antara Pasifik bagian barat dan timur. Perbedaan tekanan udara yang menggerakkan angin pasat ikut melemah, sehingga perubahan laut dan atmosfer saling memperkuat perkembangan El Niño.
Dengan demikian, kekeringan dan hujan lebat di wilayah berbeda merupakan dampak dari perubahan sistem yang sama: pusat air hangat dan pembentukan hujan bergeser.
Dampaknya Menjalar ke Dunia
Pengaruh El Niño tidak berhenti di negara-negara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik. Perubahan tersebut dapat menjalar melalui hubungan jarak jauh dalam sistem atmosfer, atau disebut teleconnection.
Ketika uap air mengembun menjadi awan, panas dilepaskan ke atmosfer. Pergeseran pusat pembentukan awan selama El Niño ikut memindahkan lokasi pelepasan panas ini dan memengaruhi suhu atmosfer di wilayah yang lebih luas.
Sebagai gambaran kondisi atmosfer tropis, data NOAA menunjukkan anomali suhu terstandar pada level tekanan 500 hPa, yang dirata-ratakan di kawasan 20° LU-20° LS, mencapai 3,30 simpangan baku pada Agustus 2026.
Nilai tersebut menunjukkan suhu di atas rata-rata acuan, bukan kenaikan sebesar 3,30°C. Data ini tidak memisahkan pengaruh El Niño dari faktor lain yang memengaruhi suhu atmosfer.
Di kawasan seperti Sahel, di sisi selatan Gurun Sahara, pemanasan lapisan atmosfer bagian tengah dan atas dapat membuat udara lembap dekat permukaan lebih sulit terus naik. Pembentukan awan hujan pun terhambat, sehingga kondisi lebih kering dapat terjadi.
Selain itu, perubahan pusat hujan di Pasifik dapat memicu gelombang atmosfer yang mengubah pola angin serta jalur badai jauh dari wilayah asalnya.
Met Office menyebut El Niño dapat meningkatkan peluang cuaca lebih basah dan berbadai di Inggris pada musim gugur hingga awal musim dingin. Pada bagian akhir musim dingin, peluang periode cuaca dingin juga dapat meningkat, meski pengaruhnya bergantung pada faktor atmosfer lainnya.
El Niño Tak Menghapus Hujan
Meski meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, El Niño bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. Fenomena ini mengubah kecenderungan cuaca dalam skala luas, sementara hujan harian tetap dipengaruhi berbagai sistem atmosfer.
Karena itu, wilayah yang secara umum mengalami penurunan curah hujan masih dapat menghadapi hujan lebat, bahkan banjir, pada waktu dan lokasi tertentu.
Bagi Indonesia, perbedaan ini penting dalam membaca risiko. Ancaman kekeringan, berkurangnya pasokan air, dan kebakaran lahan tetap perlu diantisipasi, tanpa mengabaikan kemungkinan cuaca ekstrem ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan hujan.
Dalam konteks pangan, dampaknya juga bergantung pada lokasi serta waktu kejadian. Kekurangan hujan dapat mengganggu musim tanam dan ketersediaan air irigasi, sementara hujan ekstrem dapat merusak tanaman serta menghambat panen dan distribusi.
Artinya, penguatan El Niño perlu dibaca bersama prakiraan hujan regional dan kondisi di lapangan agar langkah antisipasi sesuai dengan risiko yang dihadapi setiap wilayah.
(slm/slm)