Negara Hadir, Hilirisasi Ayam Cara Imbangi Dominasi 2 'Raksasa' Unggas
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada Jumat pagi (25/9/2026) hamparan padang rumput Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang biasanya sepi, mendadak ramai dengan kerumunan manusia dan kendaraan. Tampak satu sosok sentral melangkah di tengah kerumunan orang, sosok berbaju putih adalah Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman.
Amran yang juga bertopi hitam sedang mengecek sebuah progres proyek besar di kawasan itu. Sesekali Amran juga mengenang masa kecilnya di kawasan itu, yang merupakan tempat kelahirannya. Tentu tak pernah terbayangkan sebelumnya, nantinya di kawasan itu akan berdiri sebuah peternakan dan pabrik dari program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) yang memanfaatkan lahan PTPN I di Regional 8 Kebun Camming, seluas 22 hektare.
"Sesuai arahan Presiden Prabowo, HAT pada 1 Juli tahun depan (2027) sudah beroperasi. Ini salah satu penekanan Presiden kepada kami," kata Amran Sulaiman dalam keterangan resmi, Minggu (27/9/2026).
Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT)di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan hanya salah satu dari lima lokasi lainnya di Indonesia. Selainnya ada di Jawa Timur (Kabupaten Malang), Gorontalo (Kabupaten Gorontalo Utara), Lampung (Kabupaten Lampung Selatan), Kalimantan Timur (Kabupaten Penajam Paser), dan Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Sumbawa).
Amran mengatakan untuk saat ini sudah disiapkan anggaran Rp 2,2 triliun, dari total Rp 17 triliun untuk mendukung program ini di berbagai lokasi.
Peta lokasi hilirasi produk pangan di Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (30/9/2026). (CNBC Indonesia/Suhendra) Foto: Peta lokasi hilirasi produk unggas di Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (30/9/2026). (CNBC Indonesia/Suhendra) |
Program ini di bawah koordinasi Danantara Indonesia, melalui PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD, yang memulai groundbreaking hilirisasi pengembangan industri ayam terintegrasi di enam provinsi di Indonesia.
Secara normatif, program HAT disiapkan untuk mendukung empat pilar program utama pemerintahan Presiden Prabowo yaitu swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Sekaligus menyediakan sumber protein hewani, pengembangannya juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat pedesaan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Namun, langkah pemerintah ini bukan bergerak di ruang hampa, sebab bila menilik sektor perunggasan di Indonesia sudah lama didominasi peran swasta, terutama dua pemain besar yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Bisnis perunggasan hulu hilir, dari produksi pakan, pembibitan, penetasan, pemeliharaan, pemotongan, hingga pengolahan dan penjualan produk. Ekosistem bisnis perunggasan sangat menggiurkan dengan perputaran uang triliunan rupiah.
Kedua perusahaan ini mencatat kenaikan penjualan neto sepanjang 2025, tetapi lini bisnis yang paling besar tidak selalu menjadi lini yang tumbuh paling cepat.
CPIN: Pakan Mengangkat Penjualan
CPIN membukukan penjualan neto Rp70,70 triliun pada 2025, naik 4,8% dari Rp67,48 triliun setahun sebelumnya. Ayam pedaging tetap menjadi bisnis dengan penjualan terbesar, yakni Rp34,03 triliun atau sekitar 48,1% dari total perseroan. Namun, nilainya turun sekitar Rp1,29 triliun secara tahunan.
Pergerakan berbeda terjadi pada pakan ternak. Penjualan lini ini naik sekitar Rp4,54 triliun menjadi Rp20,99 triliun.
Dengan kata lain, bisnis terbesar CPIN masih ayam pedaging, tetapi pakan menjadi penyumbang kenaikan penjualan paling besar pada 2025. Penjualan anak ayam usia sehari atau day-old chick (DOC) juga meningkat, sementara ayam olahan mencatat penurunan.
Wilayah Operasional CPIN
CPIN mencatat cakupan operasi di 21 provinsi. Sebanyak empat provinsi berada di Jawa dan 17 provinsi berada di luar Jawa. Jenis fasilitas yang disebut berbeda menurut wilayah operasionalnya.
Dari sisi rantai pasok, keberadaan bisnis pakan berarti CPIN berada pada tahap awal sebelum ayam dipelihara. Perusahaan kemudian menjalankan pembibitan dan penetasan untuk menghasilkan DOC, mengelola kegiatan peternakan, serta menjual ayam pedaging dan produk olahan. Di ujung rantai, perseroan memiliki jaringan toko ritel.
Gambaran jumlah fasilitasnya cukup luas, tetapi rincian geografisnya tidak merata. CPIN menyebut total 147 fasilitas farm pembibitan dan 60 hatchery. Perseroan juga melaporkan 30 fasilitas dalam kategori gabungan rumah pemotongan ayam dan/atau pabrik makanan olahan. Angka 30 itu tidak dapat dipisahkan menjadi jumlah RPA dan jumlah pabrik olahan hanya dari keterangan tersebut.
Untuk pabrik pakan, CPIN melaporkan 10 unit dan menyebut delapan kota lokasi. Empat kota berada di luar Jawa, yaitu Medan di Sumatera Utara, Padang di Sumatera Barat, Bandar Lampung di Lampung, dan Makassar di Sulawesi Selatan.
Setiap kota membuktikan keberadaan sedikitnya satu pabrik. Itulah dasar penghitungan minimum empat pabrik luar Jawa, atau 40% dari total 10 unit.
Masih ada dua pabrik yang belum dapat dialokasikan ke kota tertentu dari daftar tersebut. Karena itu, angka 40% tidak boleh dibaca sebagai porsi pasti seluruh pabrik pakan luar Jawa.
Untuk farm pembibitan, hatchery, fasilitas pemotongan atau pengolahan, dan toko ritel, laporan memberikan jumlah keseluruhan tanpa rincian jumlah per provinsi pada tabel ini. Kolom yang kosong berarti data pembagian lokasinya tidak tersedia, bukan berarti seluruh unit berada di Jawa.
JPFA: Peternakan Memimpin Penjualan
JPFA memiliki rantai bisnis perunggasan yang serupa, tetapi cakupan kegiatan yang dirinci dalam laporannya juga meliputi pakan dan budidaya ikan serta udang, pengolahan hasil perairan, dan penggemukan sapi.
Pada bisnis ayam, perusahaan bergerak dari pakan, farm pembibitan, dan hatchery menuju peternakan komersial, rumah potong, penyimpanan dingin, hingga produk konsumen.
Penjualan neto JPFA mencapai Rp60,72 triliun pada 2025, tumbuh 8,8% dari Rp55,80 triliun pada 2024. Peternakan komersial menjadi penyumbang penjualan ke luar grup terbesar, mencapai Rp24,46 triliun atau 40,3% dari total.
Meski demikian, peningkatan nominal paling besar justru berasal dari pengolahan hasil ternak dan produk konsumen. Penjualan lini tersebut naik sekitar Rp1,67 triliun secara tahunan menjadi Rp10,14 triliun.
Ada perbedaan dasar penghitungan yang penting ketika membaca bisnis pakan JPFA. Dalam laporan segmen sebelum eliminasi, penjualan pakan tercatat paling besar karena mencakup pakan yang dijual kepada lini bisnis JPFA sendiri.
Penjualan antarsegmen tersebut dikeluarkan dari angka konsolidasian. Setelah memakai basis penjualan ke luar grup seperti pada tabel, peternakan komersial menjadi lini terbesar.
Perbedaan itu juga menjelaskan mengapa besarnya kegiatan pakan di dalam grup tidak otomatis sama dengan kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasian. Pakan dapat dipakai untuk mendukung kegiatan pembibitan atau peternakan JPFA, sementara penjualan ayam dari kegiatan tersebut kemudian tercatat pada lini lain.
Sebaran Fasilitas
Dibandingkan CPIN, daftar lokasi JPFA memungkinkan lebih banyak tersebar di berbagai provinsi.
Untuk pabrik pakan unggas, enam dari 15 unit berada di luar Jawa: dua di Sumatera Utara serta masing-masing satu di Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Sembilan unit lainnya terpetakan di Jawa.
Sebaran pengering jagung lebih condong ke luar Jawa. Dari 15 fasilitas yang berada di luar pabrik pakan, enam tercatat di Lampung, tiga di Nusa Tenggara Barat, tiga di Sulawesi Selatan, serta masing-masing satu di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Satu fasilitas lainnya berada di Jawa Tengah.
Pada pembibitan unggas, 36 dari 79 unit terpetakan di luar Jawa. Untuk hatchery unggas, jumlahnya 19 dari 30 unit. Di tahap yang lebih hilir, lima dari 15 rumah potong ayam berada di luar Jawa. Angka-angka ini menggambarkan bahwa sebaran setiap tahap rantai pasok berbeda; satu persentase tidak bisa dipakai untuk mewakili seluruh operasi JPFA.
Laporan JPFA juga menyebut lebih dari 130 farm komersial milik perseroan dan lebih dari 8.700 farm kemitraan. Keterangan tersebut sesuai dengan angka yang dikirim dalam data pembanding, tetapi keduanya adalah batas bawah, bukan jumlah persis.
Farm milik perseroan dan farm milik mitra harus dibedakan. Karena laporan tidak memecah kedua kelompok farm itu per provinsi, jumlahnya di Jawa maupun luar Jawa belum dapat dihitung secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, empat tabel ini menjawab dua pertanyaan berbeda. Tabel pendapatan menunjukkan lini mana yang paling besar dan paling cepat bertumbuh. Tabel fasilitas menunjukkan berapa unit yang disebut serta di mana unit itu dapat dipetakan.
Jumlah fasilitas luar Jawa tetap tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi porsi volume produksi atau pendapatan luar Jawa, sebab kapasitas dan hasil setiap fasilitas bisa berbeda.
Dari paparan data di atas, jejaring dan ekosistem perunggasan yang dikelola swasta tampak sangat masif di Jawa maupun luar Jawa. Dengan hadirnya program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) oleh negara di 6 provinsi memang belum semasif dibandingkan 2 pemain besar di atas. Namun, adanya program ini setidaknya bisa menjadi penyeimbang atau bahkan mengerem dominasi raksasa unggas di Indonesia.
Bagi konsumen atau rakyat yang terpenting, bila goal-nya memberikan kebutuhan pangan unggas yang terjangkau secara stok dan harga tentu langkah negara ini sebuah terobosan. Setidaknya dominasi 'raksasa' unggas bisa diimbangi, agar tercipta pasar yang bertanggung jawab dan nilai tambah bagi ekonomi. Apakah dominasi pasar perunggasan di Indonesia akan berubah? kita lihat saja waktu akan menjawabnya.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)