MARKET DATA
Newsletter

Prabowo Pidato 2 Kali Hari Ini, Pelaku Pasar Keuangan Memantau Ketat

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
14 August 2026 06:25
Rangkaian bendera Amerika Serikat dipasang di Washington D.C., menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joe Biden dan Kamala Harris. (AP/Alex Brandon)
Foto: Rangkaian bendera Amerika Serikat dipasang di Washington D.C., menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joe Biden dan Kamala Harris. (AP/Alex Brandon)

Pasar keuangan Indonesia pada Jumat (14/8/2026) akan mencerna penurunan inflasi produsen Amerika Serikat (AS), kenaikan klaim pengangguran, serta hasil peninjauan indeks MSCI untuk saham-saham Indonesia.

Perhatian berikutnya akan tertuju pada penjualan ritel AS dan data PDB Area Eropa.

Inflasi Produsen Jepang Melandai

Inflasi produsen Jepang periode Juli yang diumumkan pada Kamis kemarin tumbuh 7,2% secara tahunan, melambat dari 7,3% pada Juni dan lebih rendah dibandingkan konsensus 7,4%.

Secara bulanan, Producer Price Index (PPI) hanya naik 0,1%, jauh di bawah perkiraan 0,6% dan melambat dari kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan tekanan biaya yang diterima perusahaan Jepang mulai mereda. Kondisi ini dapat mengurangi risiko kenaikan harga yang lebih agresif ke tingkat konsumen sekaligus sedikit menurunkan tekanan terhadap Bank of Japan untuk segera memperketat kebijakan moneter.

Meski demikian, pertumbuhan tahunan sebesar 7,2% masih tergolong tinggi. Artinya, perusahaan tetap menghadapi tekanan biaya bahan baku dan impor, terutama apabila yen kembali melemah. Bagi pasar, hasil yang lebih rendah dari perkiraan cenderung menahan kenaikan yield obligasi Jepang dan membatasi penguatan yen.

Inflasi Produsen AS Lebih Rendah dari Perkiraan

PPI AS periode Juli yang diumumkan kemarin tidak mengalami pertumbuhan secara bulanan atau 0%, lebih rendah dibandingkan konsensus kenaikan 0,2%. Angka Juni direvisi menjadi kontraksi 0,1%.

Secara tahunan, inflasi produsen melambat tajam menjadi 4,7% dari 5,5% dan lebih rendah dibandingkan perkiraan 4,9%. PPI inti juga turun menjadi 4,2% secara tahunan dari 4,7%, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, PPI inti naik 0,2%, sedikit di bawah perkiraan 0,3%.

Harga barang produsen turun 0,7%, termasuk penurunan harga energi sebesar 3,1%. Sementara harga jasa masih meningkat 0,2%. Data ini menunjukkan tekanan harga dari tingkat produsen mulai mereda, meskipun inflasi inti masih berada pada level tinggi.

Hasil tersebut cenderung positif bagi aset berisiko karena dapat menurunkan kekhawatiran bahwa tekanan biaya akan kembali diteruskan kepada konsumen.


Klaim Pengangguran AS Naik

Pada waktu yang sama, klaim awal tunjangan pengangguran AS meningkat menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus 202.000 dan realisasi pekan sebelumnya yang direvisi menjadi 200.000.

Kenaikan klaim awal menunjukkan bertambahnya pekerja yang kehilangan pekerjaan. Namun, klaim lanjutan justru turun menjadi 1,777 juta dari 1,799 juta dan lebih rendah dibandingkan perkiraan 1,8 juta.

Kombinasi kedua data tersebut memberikan gambaran yang relatif seimbang. PHK mulai meningkat, tetapi jumlah penerima tunjangan berkelanjutan menurun sehingga belum menunjukkan pelemahan serius di pasar tenaga kerja.

Bagi pasar, kenaikan klaim awal bersama melandainya PPI dapat memperkuat harapan bahwa The Federal Reserve tidak perlu mempertahankan kebijakan terlalu ketat. Kondisi ini berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberikan ruang penguatan bagi rupiah serta aset negara berkembang.

Penjualan Ritel AS Jadi Penentu Berikutnya

Agenda paling penting pada Jumat adalah penjualan ritel AS periode Juli yang akan diumumkan pukul 19.30 WIB. Pertumbuhan penjualan diperkirakan melambat menjadi 0,1% secara bulanan dari 0,2% pada Juni.

Namun, penjualan di luar kendaraan diperkirakan berbalik tumbuh 0,2% setelah turun 0,2%. Sementara kelompok kontrol penjualan ritel, yang menjadi salah satu komponen dalam perhitungan konsumsi terhadap produk domestik bruto, diproyeksikan naik 0,3% setelah tumbuh 0,5%.

Data yang terlalu kuat dapat kembali mendorong yield obligasi dan dolar AS karena menunjukkan konsumsi masih tahan terhadap suku bunga tinggi. Sebaliknya, realisasi yang moderat dapat menjadi skenario lebih positif bagi IHSG: inflasi produsen melandai tanpa disertai pelemahan konsumsi yang terlalu dalam.

Secara keseluruhan, sentimen global untuk Jumat cenderung lebih kondusif setelah PPI AS melandai. Namun, pergerakan saham Indonesia juga berpotensi lebih selektif karena pasar mulai mengantisipasi arus dana akibat perubahan indeks MSCI.

PDB Zona Euro Kembali Tumbuh

Dari Eropa, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi Zona Euro kuartal II akan diumumkan pada Jumat pukul 16.00 WIB. Pasar memperkirakan pertumbuhan dikonfirmasi sebesar 0,4% secara kuartalan, setelah ekonomi tidak tumbuh atau 0% pada kuartal I.

Secara tahunan, produk domestik bruto diperkirakan tumbuh 1%, meningkat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya. Estimasi awal menunjukkan pemulihan ditopang sejumlah negara, termasuk Spanyol yang tumbuh 0,7%, Jerman 0,2%, Prancis 0,2%, dan Italia 0,2%.

Irlandia mencatat pertumbuhan 3,9%, tetapi perekonomiannya relatif volatil sehingga dapat mempengaruhi angka agregat kawasan.

Apabila pertumbuhan dikonfirmasi atau direvisi naik, pasar dapat menilai ekonomi Eropa mulai pulih setelah stagnasi pada awal tahun. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat euro sekaligus mengurangi kebutuhan Bank Sentral Eropa untuk segera melonggarkan kebijakan.

Sebaliknya, revisi turun akan menunjukkan pemulihan masih rapuh. Pelemahan euro dapat memperkuat indeks dolar AS dan secara tidak langsung menambah tekanan terhadap rupiah. Karena itu, data ini akan menjadi perhatian sebelum pasar beralih ke penjualan ritel AS pada malam harinya.

(gls/gls)


Most Popular
Features