MARKET DATA

Jejak Kedelai Malika: Dari Ladang Petani hingga Dapur Nusantara

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
13 August 2026 15:20
Kedelai Malika. (Dok. Pexels)
Foto: Kedelai Malika. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia- Ada kisah panjang di aroma kecap manis yang akrab di meja makan keluarga Indonesia.

Tentang tanah, benih, dan manusia. Tak banyak yang tahu bahwa bahan utama kecap Bango salah satu produk legendaris Unilever Indonesia merupakan varietas unggul yang lahir dari kerja sama antara petani lokal, akademisi, dan korporasi.

Namanya kedelai Malika, varietas hitam yang menjadi simbol kolaborasi keberlanjutan antara sains dan bisnis, antara dapur dan lahan.

Indonesia selama ini dikenal sebagai konsumen kedelai yang besar, namun ironisnya bukan produsen utama. Setiap tahun, permintaan kedelai untuk tahu, tempe, dan kecap terus meningkat, sementara produksi dalam negeri masih tertinggal jauh dari kebutuhan nasional.

Kedelai Malika. (Dok. Universitas Gajah Mada)Kedelai Malika. (Dok. Universitas Gajah Mada) Foto: Kedelai Malika. (Dok. Universitas Gajah Mada)

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas kedelai nasional pada 2022 hanya sekitar 15,43 kuintal per hektare atau 1,54 ton per hektare, dengan total produksi sekitar 301 ribu ton.

Padahal kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir 2,8 juta ton, menyebabkan Indonesia harus mengimpor sekitar 2,5 juta ton setiap tahun. Pada 2023, impor kedelai bahkan mencapai 2,67 juta ton, mayoritas berasal dari Amerika Serikat dan Brasil.

Defisit ini mencerminkan hilangnya peluang ekonomi di tingkat petani dan rapuhnya kedaulatan pangan nasional. Dalam konteks inilah, kedelai Malika lahir sebuah upaya untuk menghidupkan kembali produksi kedelai hitam lokal yang selama ini terpinggirkan.

Dari laboratorium ke ladang, perjalanan Malika

Kisah Malika dimulai awal tahun 2000-an.

Kala itu, Unilever Indonesia melalui merek kecap Bango ingin memastikan bahan baku utama mereka kedelai hitam bisa dipasok dari dalam negeri dengan kualitas yang konsisten.

Di sisi lain, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan varietas kedelai hitam unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dan iklim lokal.

Kedelai Malika. (Dok. Pexels)Kedelai Malika. (Dok. Pexels) Foto: Kedelai Malika. (Dok. Pexels)

Pertemuan dua kepentingan ini melahirkan kerja sama jangka panjang antara dunia akademik dan industri. Dari hasil penelitian itu, lahirlah varietas Malika, yang secara resmi diakui sebagai varietas unggul nasional pada tahun 2007.

Malika dipilih karena memiliki warna hitam pekat, rasa gurih alami, daya simpan tinggi, serta kandungan protein yang lebih besar dibanding kedelai kuning biasa-yakni sekitar 37-40% per 100 gram biji kering. Kandungan antosianin di kulit bijinya juga memberi nilai tambah sebagai sumber antioksidan alami, menjadikannya bahan baku ideal untuk kecap premium.

"Malika bukan sekadar varietas, tapi jembatan antara riset, bisnis, dan kesejahteraan petani," ujar salah satu peneliti UGM yang terlibat dalam pengembangannya dalam publikasi akademik tahun 2019. Pernyataan ini menggambarkan filosofi di balik kemitraan yang hingga kini masih berjalan.

Mengakar di tanah Jawa

Program kemitraan Bango dimulai dari lahan kecil seluas 5 hektare di Jawa Tengah pada tahun 2001. Dalam kurun waktu kurang dari dua dekade, proyek ini berkembang pesat.

Menurut laporan keberlanjutan Unilever Indonesia 2015-2016, kemitraan dengan petani kedelai hitam telah melibatkan lebih dari 10.500 petani di lebih dari 20 kabupaten di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Pada 2019, Unilever mencatat telah menanam 1.052 hektare lahan dengan varietas Malika, dan seluruh benih yang digunakan telah tersertifikasi Sustainable Agriculture Code (SAC), standar keberlanjutan internal Unilever yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Kemitraan ini mencakup pelatihan teknis, pendampingan penanaman, hingga jaminan pembelian hasil panen. Dalam beberapa wilayah, sistem "peminjaman benih" juga diterapkan: petani menerima benih dari Unilever dan mengembalikannya dalam bentuk hasil panen. Model ini tidak hanya memastikan keberlanjutan stok benih, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif di kalangan petani.

Jalinan rantai pasok berkelanjutan

Rantai pasok Malika dibangun dengan pendekatan yang berbeda dari praktik konvensional. Unilever tidak membeli dari pasar bebas, melainkan langsung bermitra dengan kelompok tani yang telah dibina bersama universitas dan pemerintah daerah.

Setiap panen dikumpulkan melalui koperasi mitra sebelum disalurkan ke fasilitas pengolahan kecap Bango.

 

Menurut laporan internal, seluruh kedelai hitam yang digunakan dalam produksi Bango kini berasal dari varietas Malika. Unilever menyebut hal ini sebagai "jantung kualitas Bango", sebab kedelai hitam Malika memberi rasa dan aroma khas yang menjadi ciri kecap legendaris itu.

Dari sisi ekonomi, kemitraan ini menawarkan jaminan harga bagi petani. Harga beli kedelai hitam Malika dari Unilever disebut lebih tinggi dibanding harga pasar kedelai kuning, walau tetap kompetitif dibanding harga impor. Pola ini membuat petani memiliki insentif nyata untuk menanam varietas lokal, tanpa takut hasilnya tak terserap pasar.

Keunggulan Kedelai Hitam

Selain perannya dalam rantai pasok, kedelai Malika menarik perhatian ilmuwan karena profil nutrisinya. Sejumlah penelitian menunjukkan kedelai hitam memiliki kadar antioksidan dan polifenol yang lebih tinggi dibanding kedelai kuning.

Antosianin pada kulit biji memberi warna hitam legam sekaligus melindungi sel tubuh dari stres oksidatif. Beberapa studi laboratorium mencatat bahwa ekstrak kedelai hitam mampu menekan radikal bebas lebih efektif dibanding varietas lain.

Dari sisi protein, hasil uji laboratorium yang dikutip dari publikasi pertanian nasional menunjukkan kadar protein kedelai hitam Malika mencapai sekitar 40,4 gram per 100 gram biji kering. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata kedelai kuning yang berkisar antara 34-36 gram per 100 gram.

Selain itu, kandungan isoflavon dalam kedelai terutama genistein dan daidzein memberikan potensi efek fisiologis positif bagi tubuh, seperti menjaga kesehatan jantung, membantu keseimbangan hormon, dan berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif. Meskipun manfaat ini lebih banyak ditemukan pada penelitian pra-klinis, ia memperkuat narasi kedelai Malika sebagai bahan pangan fungsional bernilai tinggi.

Dampak ekonomi dan sosial di akar rumput

Kemitraan Unilever-UGM juga merupakan program pemberdayaan ekonomi desa. Melalui pendekatan "berbagi nilai" (shared value), Unilever memastikan bahwa keuntungan bisnis juga dirasakan oleh petani di lapangan.

Petani yang tergabung dalam program memperoleh pendampingan teknis budidaya, akses pembiayaan, hingga pelatihan kewirausahaan. Dalam banyak kasus, Unilever bekerja sama dengan koperasi atau kelompok tani perempuan untuk memperkuat struktur sosial lokal.

 

Meski telah menunjukkan hasil positif, program kedelai Malika masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, ketergantungan petani pada satu pembeli besar dapat menciptakan kerentanan pasar jika kebijakan perusahaan berubah.

Kedua, produktivitas kedelai nasional masih stagnan, sehingga sulit bersaing dengan kedelai impor yang lebih murah.

Ketiga, perubahan iklim memengaruhi pola tanam dan risiko gagal panen.

Namun, peluang tetap terbuka lebar. Dengan dukungan teknologi budidaya, digitalisasi rantai pasok, dan kebijakan pemerintah yang mendukung varietas lokal, kedelai Malika bisa menjadi tonggak transformasi kemandirian pangan berbasis inovasi lokal.

Kisah Malika bagai potret bagaimana industri dapat bersinergi dengan ilmu pengetahuan dan masyarakat untuk menciptakan nilai bersama.

Unilever, lewat kecap Bango, berhasil menjadikan kemitraan petani sebagai bagian dari identitas merek sebuah narasi bahwa rasa autentik lahir dari kesejahteraan dan keberlanjutan di hulu.

Kini, di setiap tetes kecap yang menghitamkan masakan Nusantara, tersimpan perjalanan panjang ribuan petani sebagai #PahlawanKita, peneliti, dan pekerja yang menjaga agar cita rasa Indonesia tetap hidup.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular