MARKET DATA

Susu, Beras - Babi, Ini 40 Komoditas Makanan Paling Bernilai di Dunia

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
11 August 2026 18:00
Kolase Foto Ilustrasi Jagung Beras Gandum (Pixabay)
Foto: Kolase Foto Ilustrasi Jagung Beras Gandum (Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bukan beras, gandum, atau jagung. Komoditas makanan dengan nilai produksi terbesar di dunia pada 2024 justru susu.

Nilai produksi 40 komoditas makanan yang masuk dalam daftar mencapai sekitar US$4,3 triliun pada 2024. Dari jumlah tersebut, susu menyumbang US$379 miliar, sedikit di atas beras yang mencapai US$362 miliar.

Data tersebut berasal dari Food and Agriculture Organization (FAO) dan mencakup berbagai komoditas, mulai dari pangan pokok, daging, produk susu, buah, sayuran hingga komoditas perkebunan.

Berikut 40 komoditas makanan dengan nilai produksi terbesar di dunia:

Susu Ungguli Beras dan Daging Babi

Susu berada di posisi teratas dengan nilai produksi US$379 miliar. Namun, keunggulannya tidak terlalu jauh dari dua komoditas berikutnya.

Beras berada di posisi kedua dengan US$362 miliar, sedangkan daging babi mencapai US$355 miliar. Artinya, hanya terdapat selisih US$24 miliar antara susu dan daging babi.

 

Jika digabungkan, tiga komoditas teratas tersebut menghasilkan nilai produksi sekitar US$1,1 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar skala ekonomi yang berada di balik sejumlah pangan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat.

Posisi susu juga tidak lepas dari besarnya produksi global. FAO mencatat produksi susu dunia mencapai 985 juta ton pada 2024, dengan sapi menyumbang sekitar 81% dari total produksi.

Kerbau menjadi sumber susu penting lainnya, terutama di kawasan Asia.

Lima Komoditas Daging Tembus US$1 Triliun

Produk hewani mendominasi papan atas daftar. Lima komoditas daging, yakni babi, sapi, ayam, domba, dan kambing, memiliki nilai produksi gabungan sekitar US$1,02 triliun.

Daging babi menjadi yang terbesar dengan US$355 miliar, diikuti daging sapi US$306 miliar dan ayam US$264 miliar. Sementara itu, daging domba dan kambing masing-masing bernilai US$61 miliar dan US$38 miliar.

Dengan demikian, lima produk hewani tersebut saja menghasilkan nilai yang hampir seperempat dari total 40 komoditas dalam daftar.

 

Produksi daging dunia mencapai 374 juta ton pada 2024, naik sekitar 7 juta ton dari tahun sebelumnya.

Ke depan, produksi peternakan diproyeksikan tumbuh 15% hingga 2035. Pertumbuhan ini diperkirakan melampaui produksi tanaman seiring meningkatnya pendapatan di negara-negara berpendapatan menengah yang mendorong perubahan pola konsumsi ke lebih banyak produk hewani.

Tomat Jadi Komoditas Buah dan Sayuran dengan Produktivitas Tertinggi

Di luar produk hewani dan pangan pokok, sejumlah buah dan sayuran juga memiliki skala ekonomi yang besar.

Tomat menjadi komoditas hasil pertanian dengan nilai produksi tertinggi dalam kelompok tersebut, mencapai US$136 miliar dan menempati posisi ke-10 secara keseluruhan.

 

Kentang berada di posisi berikutnya dengan US$122 miliar, disusul apel US$112 miliar, anggur US$97 miliar, dan ubi jalar US$89 miliar.

Jika seluruh komoditas hasil pertanian yang masuk dalam daftar digabungkan, nilainya mencapai lebih dari US$1,2 triliun.

Berbeda dengan daging yang terkonsentrasi pada beberapa komoditas utama, nilai produksi kelompok ini tersebar pada lebih banyak jenis pangan.

Ada Jamur hingga Singkong di Atas US$50 Miliar

Tidak semua komoditas bernilai besar adalah pangan yang biasanya mendominasi pembahasan soal perdagangan atau ketahanan pangan global.

Jamur misalnya berada di posisi ke-22 dengan nilai produksi US$61 miliar. Nilai tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan pisang yang mencapai US$52 miliar.

Semangka menghasilkan US$53 miliar, sementara singkong dan cabai masing-masing mencapai US$52 miliar dan US$51 miliar.

Di bawahnya masih terdapat bawang bombai dengan US$48 miliar dan mangga US$45 miliar.

Beras Tetap Jadi Komoditas Raksasa

Meski tidak menjadi yang terbesar, beras tetap berada di jajaran teratas. Dengan nilai produksi US$362 miliar, beras menjadi komoditas makanan paling bernilai kedua dalam daftar.

Jagung dan gandum juga masuk lima besar dengan nilai produksi masing-masing US$270 miliar dan US$209 miliar.

Sementara itu, kedelai berada di posisi kesembilan dengan US$142 miliar. Minyak sawit, yang cukup dekat dengan Indonesia, berada di peringkat ke-20 dengan nilai produksi US$67 miliar.

Dari susu hingga bayam, 40 komoditas dalam daftar tersebut menghasilkan sekitar US$4,3 triliun pada 2024.

Besarnya angka itu menunjukkan luasnya ekonomi pangan global. Nilai tidak hanya terkumpul pada bahan pangan pokok, tetapi juga tersebar pada daging, produk susu, buah, sayuran, hingga komoditas seperti jamur, semangka, singkong, dan cabai.

Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masih berpotensi menggeser komposisi tersebut. Produksi peternakan yang diproyeksikan tumbuh lebih cepat hingga 2035 menunjukkan bahwa apa yang masuk ke meja makan juga ikut menentukan arah ekonomi pangan dunia.





(mae/mae)



Most Popular