MARKET DATA

Tanda Krisis Pangan Muncul, Harga Beras, Gandum- Gula Melonjak

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 June 2026 10:35
10 Daerah Penghasil Padi Terbanyak di Indonesia, Jawa Adalah Kunci
Foto: Infografis/ 10 Daerah Penghasil Padi Terbanyak di Indonesia, Jawa Adalah Kunci/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia- Kenaikan harga pangan dunia belum kembali ke level krisis seperti yang terjadi pada 2022. Namun laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperlihatkan arah pasar mulai berubah. Gandum, jagung, beras, dan gula bergerak naik bersamaan pada Mei 2026, sementara produksi serealia dunia diperkirakan menyusut pada musim tanam berikutnya.

Melansir dari FAO Food Price Index, indeks harga pangan dunia berada di level 130,8 poin pada Mei 2026. Angka tersebut turun tipis 0,2% dibandingkan April. Secara tahunan, indeks masih lebih tinggi 2,9%. Meski demikian, posisi saat ini masih berada 18,4% di bawah rekor tertinggi yang tercapai pada Maret 2022 saat pasar pangan global terguncang oleh perang Rusia-Ukraina.

Kondisi yang terlihat stabil di permukaan ternyata menyimpan dinamika berbeda pada masing-masing komoditas.

Kelompok serealia menjadi sumber kenaikan terbesar. Indeks harga serealia FAO naik 2,6% dibandingkan bulan sebelumnya dan 4,9% dibandingkan Mei tahun lalu. Harga gandum dunia naik untuk bulan keempat berturut-turut setelah prospek panen di sejumlah negara eksportir utama memburuk.

FAO menyebut kondisi tanaman gandum musim dingin Amerika Serikat berada pada salah satu tingkat terlemah dalam beberapa dekade. Kenaikan harga bahan bakar dan pupuk memperberat tekanan di pasar.

Jagung mengikuti pola yang sama. Permintaan impor dari sejumlah negara meningkat ketika pasokan dari Brasil dan Amerika Serikat mulai mengetat.

Harga energi yang lebih tinggi mendorong permintaan jagung untuk produksi etanol. Efeknya langsung terlihat pada pasar internasional. Harga sorgum dan jelai turut naik karena pasar mencari alternatif ketika pasokan gandum dan jagung semakin ketat.

Beras pun bergerak ke arah yang sama. Indeks harga beras FAO naik 2,7% pada Mei. Kekhawatiran terhadap kondisi cuaca di sejumlah negara eksportir Asia muncul bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dan produk turunannya. Kombinasi tersebut meningkatkan biaya produksi sekaligus biaya distribusi sehingga mendukung kenaikan harga.

Tekanan berikutnya datang dari pasar gula. Indeks harga gula melonjak 7,5% dalam satu bulan dan mencapai posisi tertinggi sejak Oktober 2025. Melansir dari FAO, pasar bereaksi terhadap data terbaru dari Brasil yang memperlihatkan porsi tebu untuk produksi gula lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Sebagian tebu berpotensi dialihkan untuk kebutuhan etanol. Pada saat yang sama, pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko cuaca akibat El Niño terhadap produksi gula India dan Thailand pada musim 2026/2027. Kedua negara tersebut merupakan pemasok penting bagi perdagangan gula dunia.

Di tengah kenaikan harga serealia dan gula, pasar minyak nabati bergerak ke arah berlawanan. Indeks harga minyak nabati FAO turun 4,6%, menjadi penurunan pertama sepanjang 2026. Harga minyak sawit melemah setelah naik selama lima bulan beruntun.

FAO menyebut prospek permintaan impor global yang lebih lemah serta ketidakpastian di pasar energi sebagai faktor utama. Harga minyak kedelai juga mendapat tekanan dari meningkatnya pasokan ekspor Amerika Selatan. Penurunan minyak nabati membuat indeks pangan dunia secara keseluruhan tetap bergerak datar.

Pergerakan harga daging relatif lebih tenang. Indeks harga daging naik tipis 0,1% dibandingkan April dan berada 6,3% di atas posisi tahun lalu. Harga daging sapi masih mendapat dukungan dari permintaan impor yang kuat, terutama dari China dan Amerika Serikat.

FAO mencatat kuota impor China terus terserap dengan cepat sementara pasokan ekspor dari sejumlah negara produsen masih terbatas karena proses pemulihan populasi ternak. Sebaliknya, harga daging babi turun akibat pasokan yang melimpah di Uni Eropa dan lemahnya permintaan impor.

 

Sementara itu, indeks harga produk susu turun 0,5% dibandingkan bulan sebelumnya dan tercatat 22,4% lebih rendah dibandingkan Mei 2025. Harga mentega internasional terus melemah karena pasokan lemak susu meningkat di Eropa dan Oseania. Di sisi lain, harga susu bubuk skim mendapat dukungan dari permintaan kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Asia.

FAO juga mengingatkan risiko yang lebih besar berada pada sisi produksi. Dalam laporan terpisah mengenai pasokan dan permintaan serealia global, organisasi tersebut memperkirakan produksi serealia dunia pada musim 2026/2027 mencapai 2,982 miliar ton atau turun 2% dibandingkan musim sebelumnya.

Penurunan terutama berasal dari gandum. Pada saat yang sama konsumsi serealia global masih diperkirakan meningkat 0,6%.

Perdagangan serealia dunia juga diproyeksikan menyusut 0,3% menjadi 507,2 juta ton pada musim mendatang.

Gandum dan jelai diperkirakan mengalami penurunan volume perdagangan, sementara jagung dan beras masih bertumbuh.

Bagi negara pengimpor pangan seperti Indonesia, perkembangan ini layak mendapat perhatian karena gandum, jagung, dan gula merupakan komoditas yang memiliki peran penting dalam industri makanan, pakan ternak, dan rantai pasok pangan nasional.

Jika tren kenaikan harga berlanjut bersamaan dengan produksi yang menurun, tekanan biaya dapat muncul kembali di pasar pangan global dalam beberapa kuartal ke depan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular