11 Bahan Pangan RI Ini Dibeli Pakai Dolar, Jadi Favorit Warga RI
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Pelemahan rupiah kembali memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga berbagai komoditas pangan impor strategis di dalam negeri.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada perdagangan Senin (18/5/2026) pukul 11.31 WIB, rupiah ambruk 1,14% ke Rp 17.662/US$1. Pelemahan ini berpotensi membuat berbagai barang impor menjadi lebih mahal,
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor bahan pangan. Padahal, Indonesia masih membeli sejumlah komoditas strategis pangan.
Deretan Komoditas Impor yang Rentan Naik Harga Saat Rupiah Melemah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, komoditas yang paling rentan terdampak ialah gandum dan meslin, gula, hingga kedelai karena nilai impor dan volumenya sangat besar sepanjang 2025.
Nilai impor gandum dan meslin menembus US$ 3,05 miliar atau sekitar Rp 53,9 triliun rupiah(US$1=Rp 17.662)
Impor kedelai juga sangat tinggi yakni mencapai US$ 1,19 miliar atau Rp 21,02 triliun.
Ini artinya besar peluang terjadi kenaikan harga untuk produk olahan yang menggunakan bahan baku tersebut. Sebut saja mie instan, tempe dan tahu, hingga berbagai minuman dan makanan manis.
Tidak hanya mengganggu urusan dapur individual masyarakat, kenaikan ini akan mengganggu banyak bisnis-dari perusahaan besar hingga pelaku UMKM.
Pelemahan rupiah akan semakin meningkatkan nilai CIF (Cost, Insurance, and Freight) dalam kegiatan impor. CIF adalah skema kesepakatan perdagangan internasional dimana penjual bertanggung jawab menanggung semua biaya pengiriman, premi asuransi, dan ongkos angkut hingga barang tiba di pelabuhan tujuan pembeli.
Â
(mae/mae) Add
source on Google