AS-Venezuela Panas, Awas Pasar Terguncang Pekan Depan!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan depan sentimen pasar uang akan diselimuti oleh respon akan ketidakpastian yang disebabkan oleh gejolak antara Amerika Serikat dan Venezuela. Hal ini akan berdampak kepada harga komoditas dan pandangan terhadap ketidakpastian global.
Sementara itu, dari domestik menantikan rilis inflasi dan neraca dagang yang akan diumumkan Senin (5/1/2026).
Penangkapan Presiden Venezuela, Awas Turbulensi di Pasar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersuara soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Trump, penangkapan Maduro dan istrinya dilakukan serangan udara besar-besaran. Hal ini berpotensi membuat adanya turbulensi di pasar merespon ketidakstabilan geopolitik di awal tahun 2026.
Serangan ke jantung kota Venezuela, Caracas, itu membuat warga panik dan kondisi kota luluh lantak. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela untuk ditangkap dengan melibatkan penegak hukum AS.
"Dia (Nicolas Maduro), bersama istrinya, telah ditangkap dan diterbangkan keluar negeri. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS," ungkap Trump dikutip APnews, Minggu (4/1/2025).
Sebelumnya, militer AS melakukan serangan yang memporakporandakan beberapa wilayah, termasuk ibu kota Venezuela, Caracas. Video ledakan juga beredar di media sosial memperlihatkan malam horor bagi penduduk setempat.
Sejumlah saksi mengatakan ledakan, pesawat dan asap hitam terlihat pukul 02:00 pagi hari Sabtu waktu setempat selama 90 menit.
Masyarakat setempat terkejut dan beberapa mengambil gambar keadaan sekitarnya. Nampak asap yang mengepul serta kilatan oranye terang di langit. Sejumlah saksi juga mengatakan serangan itu menyebabkan pemadaman listrik di wilayah selatan kota. Kawasan tersebut dekat dengan pangkalan militer.
Serangan itu sendiri berlangsung kurang dari 30 menit dan menimbulkan tujuh ledakan. Tidak diketahui apakah ada korban jiwa atau luka-luka Meski begitu, Trump mengatakan dalam unggahannya bahwa serangan tersebut dilakukan "dengan sukses."
Harga Komoditas Berpeluang Naik
Meningkatnya ekskalasi keteganagn geopoloitk di Amerika akan turut mengerk logam mulia sebagai aset lindung nilai atau safe haven dan cenderung menguat kala terjadi pergolakan.
Harga emas di pasar spot sendiri sepanjang 2025 telang menguat signifikan yakni 64,42% year-on-year (yoy). Sementara harga perak melaju lebih kencang dengan kenaikan 146,80% yoy.
DI sisi lain ketegangan ini juga berpeluang mengerek harga minyak mentah dunia. Pasalnya Venezuela adalah produsen minyak mentah besar di kawasan Amerika Latin. Sehingga akan tersengat dari ketidakstbilan politik di kawsan tersebut.
Inflasi Indonesia Terjaga, Daya Beli Aman?
Kabar baik diharapkan datang dari data inflasi domestik. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan akan melandai ke level 2,6%, bahkan forecast berada di angka lebih rendah yakni 2,5%.
Data terakhir menyampaikan bahwa inflasi tahunan Indonesia turun tipis menjadi 2,72% pada November 2025, melandai dari puncaknya di 2,86% pada bulan sebelumnya. Angka ini masih nyaman berada dalam kisaran target Bank Indonesia (1,5% hingga 3,5%).
Penurunan inflasi ini didorong oleh melambatnya kenaikan harga pangan (4,25%) serta biaya perumahan. Namun, inflasi pada sektor pakaian, transportasi, dan kesehatan tercatat sedikit meningkat.
Inflasi inti-yang menjadi acuan daya beli masyarakat sebenarnya-bertahan stabil di angka 2,36%, level tertingginya sejak Juni.
Data ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa khawatir akan lonjakan harga yang tak terkendali.
Cadangan Devisa Indonesia
Cadangan devisa Indonesia Desember diperkirakan akan diumumkan pada Kamis (8/1/2026). Pada November 2025, cadangan devisa naik menjadi US$150,1 miliar pada November 2025, naik dari US$149,9 miliar pada bulan sebelumnya, menandai level tertinggi sejak Agustus.
Peningkatan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah langkah-langkah stabilisasi rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Level saat ini cukup untuk menutupi impor selama 6,2 bulan, atau 6,0 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas patokan kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan ketahanan sektor eksternal akan tetap kuat, didukung oleh prospek ekspor yang berkelanjutan dan arus masuk investasi asing yang terus berlanjut.
Prospek ini mencerminkan sentimen investor yang positif terhadap prospek ekonomi domestik Indonesia dan imbal hasil investasi yang menarik.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH