MARKET DATA

Venezuela Membara, Minyak Dunia Santai Saja: Apa Untungnya Buat RI?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 January 2026 13:20
Minyak
Foto: Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran terhadap meningkatnya volatilitas harga minyak dunia mulai mencuat setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Peristiwa tersebut tidak hanya memicu eskalasi geopolitik di kawasan Amerika Latin, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian baru mengenai ke mana arah pergerakan harga minyak dunia ke depan.

Venezuela yang dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, otomatis setiap perubahan yang terjadi di dalam negerinya selalu mendapatkan perhatian pasar akibat dari pengaruh terhadap pergerakan atau gejolak harga minyak dunia.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Venezuela menurun tajam akibat dari tekanan ekonomi oleh sanksi internasional khususnya AS serta penurunan investasi di sektor migas.

Kondisi ini membuat kontribusi Venezuela terhadap pasokan minyak global saat ini relatif kecil, meskipun secara potensi dari cadangan yang dimiliki tetap memiliki posisi yang strategis dalam pembentukan ekspektasi pasar.

Lantas bagaimana perkiraan harga minyak ke depan seletah terjadinya kondisi ini

Harga Minyak Diperkirakan Justru Turun

Dalam jangka pendek, gejolak politik dan ketidakpastian geopolitik memang berpotensi meningkatkan volatilitas pada pergerakan harga minyak.

Operasi militer, reposisi kekuatan politik, serta kemungkinan gangguan logistik dapat memicu kenaikan premi risiko di pasar energi.

Namun secara fundamental, potensi gangguan produksi Venezuela diperkirakan tidak cukup besar untuk mengubah struktur pasokan minyak dunia, mengingat porsi produksinya saat ini masih berada di bawah satu persen dari total output global.

Hal ini juga disampaikan dalam riset Bank Mandiri melalui OCE BMRI Macro Blast.

"Venezuela saat ini hanya memproduksi kurang dari 1% dari total produksi minyak global, sehingga gangguan produksinya diperkirakan hanya menimbulkan volatilitas kecil dan tekanan sementara pada harga minyak," Dikutip dari OCE BMRI Macro Blast.

Yang lebih akan diperhatikan oleh pasar adalah prospek jangka menengah daripada pergerakan harga minyak itu.

Sebagai catatan, merujuk data Refinitiv pada perdagangan Senin (5/1/2025), harga minyak dunia ditutup menguat meski kenaikannya masih terbatas. Brent naik 1,66% ke US$61,76 per barel, sementara WTI menguat 1,74% ke US$58,32 per barel.

Namun, penguatan tersebut belum sebanding dengan lonjakan besar yang terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari hingga Maret 2022, ketika harga minyak sempat melesat dan menembus sekitar US$123 per barel, level tertinggi sejak 2008.

Penangkapan Maduro dan kemungkinan perubahan arah kebijakan energi justru membuka peluang dilonggarkannya sanksi terhadap sektor migas Venezuela, sekaligus membuka ruang masuknya perusahaan minyak asal AS untuk pengelolaan aset produksi migas Venezuela.

Jika proses restrukturisasi dan revitalisasi ladang minyak berjalan maka kapasitas produksi Venezuela berpotensi meningkat setelah periode penurunan produksi yang cukup panjang.

Laporan NH Korindo menilai bahwa masuknya perusahaan migas AS ke aset Venezuela berpotensi "mengurangi dominasi OPEC+ di pasar minyak global melalui dorongan peningkatan produksi."

Pada saat yang sama, produksi minyak AS tengah berada dalam tren kenaikan dan diperkirakan terus bertumbuh dalam beberapa tahun mendatang.

Kombinasi pemulihan suplai Venezuela dan ekspansi output minyak AS berpotensi menambah tekanan pada pasokan global. Dengan suplai yang semakin melimpah, harga minyak justru diperkirakan bergerak ke kecenderungan yang lebih rendah dalam jangka menengah, terutama jika kondisi permintaan global belum pulih secara signifikan.

NH Korindo bahkan memperkirakan bahwa harga Brent Crude berpotensi melanjutkan siklus penurunan menuju kisaran US$45 - US$50 per barel.

Dengan demikian, panas nya isu geopolitik antara AS dengan Venezuela tidak secara otomatis menjadi pemicu kenaikan harga minyak. Dalam kerangka proyeksi pasar saat ini, skenario yang lebih dominan justru mengarah pada potensi koreksi harga dalam beberapa waktu ke depan.

Pengaruhnya Bagi Indonesia

Bagi Indonesia, apabila skenario penurunan harga minyak benar terjadi, kondisi ini berpotensi memberikan dampak ganda. Di sisi lain, ini bisa menjadi dorongan positif bagi perekonomian melalui beberapa saluran. Tekanan inflasi berpeluang mereda seiring turunnya harga BBM, beban subsidi energi pemerintah dapat berkurang, serta keseimbangan perdagangan migas berpotensi membaik.

Di sisi lain, pelemahan harga minyak bisa menekan mengurangi pendapatan emiten minyak seperti PT Medco Energi Internasional (MEDC), PT AKR Corporindo (AKRA), dan PT Elnusa (ELSA).

Bagi APBN, pelemahan harga minyak lebih berdampak positif. Dokumen APBN 2026 menyebutkan jika setiap pelemahan US$1/barel maka belanja negara bisa berkurang Rp 10,3 triliun. Namun, pendapatan negara juga melemah Rp 3,5 triliun.

Sensitivitas APBN terhadap asumsiFoto: Kementerian Keuangan
Sensitivitas APBN terhadap asumsi

Risiko terhadap nilai tukar rupiah tetap perlu diwaspadai. Penurunan harga minyak yang terjadi bersamaan dengan penguatan ekonomi Amerika Serikat (AS) atau kenaikan indeks dolar (DXY) dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Dalam kondisi tersebut, rupiah masih menghadapi potensi pelemahan meskipun harga minyak dunia melemah.

NH Korindo menilai bahwa penguatan dolar berpotensi mendorong kenaikan DXY yang pada akhirnya dapat menekan rupiah, terutama pada awal 2026.

Di sisi lain, apabila volatilitas jangka pendek justru mendorong kenaikan harga minyak sementara, beban subsidi energi dan risiko inflasi dapat meningkat, terutama bila harga minyak bergerak di atas asumsi APBN.

Sebagai catatan, berdasarkan asumsi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$70 per barel.

Sementara itu, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai impor bahan bakar minyak (BBM) periode Januari-November 2025 mencapai US$3,21 miliar, atau setara sekitar Rp53,6 triliun dengan asumsi kurs Rp16.700/US$.

Bank Mandiri mencatat bahwa kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan negara dari pajak dan royalti diperkirakan hanya sekitar Rp3,5 triliun.

Mandiri juga memperkirakan bahwa kenaikan harga Pertalite 10% dapat meningkatkan inflasi sekitar 0,27 poin persentase, sedangkan kenaikan Solar 10% berpotensi menambah inflasi sekitar 0,05 poin persentase.

Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang kebijakan fiskal serta meningkatkan sensitivitas pasar terhadap pergerakan rupiah, terutama apabila ketidakpastian global mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman dan menekan mata uang negara berkembang.

CNBCINDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular