MARKET DATA

Tiba-Tiba Harga Minyak Dunia Mendidih Lagi, Ada Apa?

ras,  CNBC Indonesia
25 January 2026 07:00
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo
Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia mendadak bangkit di pekan ketiga Januari 2026 setelah mengalami tren menurun dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat WTI pada perdagangan Jumat (23/1/2026) tercatat ditutup di US$61,07 per barel atau menguat 2,88% dari hari sebelumnya. Sementara, secara mingguan kinerja WTI tercatat positif 2,74%.

Kemudian minyak mentah acuan Brent tercatat di US$65,88 per barel atau naik 2,84% secara harian dan melejit 2,73% secara mingguan.

Penguatan harga minyak mentah tidak lepas dari sentimen geopolitik di Venezuela. Kilang minyak Valero Energy dilaporkan membeli satu kargo minyak mentah Venezuela dari Vitol, menandai transaksi pertama oleh kilang Pantai Teluk AS sebagai bagian dari kesepakatan Washington-Caracas untuk membeli hingga 50 juta barel minyak Venezuela.

Minyak Venezuela tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar US$8,5-US$9,5 per barel terhadap Brent, mencerminkan upaya agresif Caracas untuk kembali masuk ke pasar global setelah pelonggaran izin pemasaran minyak oleh AS bulan ini.

Sebelum sanksi diberlakukan pada 2019, kilang-kilang besar AS tercatat mengolah sekitar 800.000 barel per hari minyak berat Venezuela. Artinya, kembalinya aliran ini berpotensi menambah pasokan di pasar, namun dalam jangka pendek justru dipandang sebagai faktor stabilisasi bagi rantai pasok global.

Selain itu, sentimen geopolitik Greenland juga jadi pemicu. Harga minyak ikut terungkit oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali ancaman tarif terkait sengketa Greenland. Redanya risiko perang dagang AS-Eropa dinilai pasar sebagai kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi energi.

Selain itu, Trump juga menegaskan tidak akan ada aksi militer lanjutan terhadap Iran selama Teheran tidak mengaktifkan kembali program nuklirnya. Kombinasi pernyataan ini menciptakan efek psikologis positif, meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Analis menilai selama risiko geopolitik besar dapat diredam dan konflik tidak meningkat menjadi gangguan pasokan nyata, harga minyak cenderung bertahan di kisaran US$60-65 per barel.

Ada juga International Energy Agency (IEA) memberikan sentimen positif dengan merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 930.000 barel per hari, dari sebelumnya 860.000 bpd.

Namun, revisi tersebut belum cukup untuk menghapus bayang-bayang surplus. Berdasarkan perhitungan Reuters, pasokan global masih diperkirakan melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari tahun ini. IEA sendiri menegaskan bahwa "neraca pasokan yang gemuk" masih menjadi rem alami bagi lonjakan harga.

Di sisi lain, data persediaan minyak AS masih menjadi penahan laju harga minyak. American Petroleum Institute (API) mencatat kenaikan stok minyak mentah sebesar 3,04 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya sekitar 1,1 juta barel.

Lonjakan stok ini menegaskan bahwa pasar masih berada dalam kondisi oversupply, sehingga ruang kenaikan harga menjadi terbatas meskipun sentimen geopolitik dan permintaan membaik.

(ras/luc)



Most Popular