MARKET DATA
Newsletter

Prabowo Pidato 2 Kali Hari Ini, Pelaku Pasar Keuangan Memantau Ketat

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
14 August 2026 06:25
Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) at the end of the day's trading in Manhattan, New York, U.S., August 27, 2018. REUTERS/Andrew Kelly
Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Dari pasar saham Amerika, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi intraday baru pada Kamis, seiring harga minyak turun dan investor mencerna data inflasi terbaru.

Indeks S&P naik 0,65% dan untuk pertama kalinya menembus level 7.800. S&P 500 juga mencatat rekor penutupan di 7.798,99.

Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,81% ke level 26.803,03, didorong kenaikan saham Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,13%, atau 69,72 poin, menjadi 53.839,99.

 

Harga minyak turun lebih dari 2%

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun lebih dari 2% dan ditutup di US$87,07 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dari 2% ke US$81,25 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi ketika investor mempertimbangkan melemahnya permintaan minyak, di tengah perang AS-Iran yang masih berlangsung.

Inflasi AS lebih jinak

Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli tidak mengalami perubahan alias 0% secara bulanan.

Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memperkirakan PPI naik 0,2%.

Tidak termasuk harga pangan dan energi yang volatil, core PPI naik 0,2%, sedikit di bawah ekspektasi ekonom sebesar 0,3%.

 

Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan tersebut muncul sehari setelah rilis Indeks Harga Konsumen (CPI).

CPI AS pada Juli naik 0,1% secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi pasar. Data inflasi yang relatif jinak tersebut membantu mendorong S&P 500 menguat setelah sebelumnya turun selama dua sesi berturut-turut.

Data tersebut juga membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

"Gambaran inflasi saat ini belum cukup untuk menggagalkan pasar yang pada dasarnya masih didorong oleh kinerja laba perusahaan," kata Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari CNBC International.

Menurutnya, pasar masih menunggu bagaimana The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh akan menafsirkan data inflasi tersebut dan menentukan kebijakan selanjutnya.

Namun, ia menilai moderasi bertahap pada angka CPI dan PPI saat ini merupakan perkembangan yang positif bagi pasar.

Saham Cisco tertekan. Saham Cisco Systems menjadi salah satu pemberat utama pasar pada Kamis. Saham perusahaan tersebut anjlok lebih dari 8% setelah laporan keuangan kuartal terbarunya gagal memenuhi ekspektasi investor.

Saham Cerebras juga merosot hampir 12%, sedangkan Coherent turun sekitar 8% setelah keduanya merilis laporan kinerja terbaru.

(gls/gls)


Most Popular
Features