MARKET DATA
Newsletter

Prabowo Pidato 2 Kali Hari Ini, Pelaku Pasar Keuangan Memantau Ketat

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
14 August 2026 06:25
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Hari ini menjadi hari penting bagi pasar keuangan RI karena adanya acara krusial yakni Pidato Kenegaraan dan  penyampaian Nota Keuangan pada Sidang Tahunan MPR RI di Gedung DPR RI yang akan dimulai pada 08.30 WIB.

Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI menjadi penting karena Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran 2027.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang digelar pada 16 Agustus, Sidang Bersama tahun ini dimajukan dua hari karena 16 Agustus 2026 jatuh pada Minggu.

Prabowo dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari. Pada siang harinya, Presiden akan menyampaikan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 sekaligus Nota Keuangan.

Dua pidato tersebut akan menjadi sinyal penting bagi pasar.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (BAY ISMOYO/Pool via REUTERS)Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (BAY ISMOYO/Pool via REUTERS) Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (via REUTERS/BAY ISMOYO)



Melalui Pidato Kenegaraan, Prabowo akan menyampaikan pencapaian 2026 dan prioritas pemerintah ke depan. Publik menunggu program prioritas apa saja yang akan menjadi tulang punggung 2027.

Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu hal yang dinanti. Pasalnya, program tersebut bukan hanya menyangkut belanja negara, tetapi juga berkaitan dengan daya beli masyarakat, penyerapan produk dalam negeri, hingga aktivitas ekonomi di daerah.

Namun, perhatian terbesar pelaku pasar akan tertuju pada RAPBN 2027.

Lewat Nota Keuangan, pemerintah akan menunjukkan seberapa besar negara akan membelanjakan uang, dari mana pendapatan akan diperoleh, serta bagaimana pemerintah membiayai berbagai program prioritasnya.


Sejumlah indikator makro juga akan menjadi sorotan, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, hingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP).

Angka-angka tersebut bukan sekadar target di atas kertas. Bagi investor, angka tersebut menjadi gambaran mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Bagi dunia usaha, angka tersebut menjadi petunjuk mengenai prospek permintaan, investasi, biaya usaha, hingga peluang bisnis pada 2027.

Sebelumnya dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, DPR menyampaikan dalam rapat pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, Badan Anggaran DPR (Banggar) dan pemerintah menyepakati RAPBN 2027, di mana pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 mencapai sekitar 5,8% hingga 6,5%.

"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna, dikutip Jumat (3/7/2026).

Setelah adanya kesepakatan ini, pemerintah nantinya akan menjadikan rentang ukuran rancangan awal RAPBN 2027 sebagai bahan untuk menetapkan angka usulan awal Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) beserta Nota Keuangannya pada 16 Agustus 2026.

RUU APBN 2027 itu nantinya akan dibahas lebih detail lagi bersama dengan Komisi XI DPR sebelum akhirnya ditetapkan sebagai UU pada akhir Oktober 2026.

Dalam kesepakatan awal, pemerintah dan Banggar DPR menyepakati sejumlah acuan awal dalam penyusunan RAPBN 2027, mulai dari asumsi ekonomi makro, target pembangunan, hingga postur makro fiskal.

Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan juga menjadi ujian penting bagi pasar saham Indonesia. Investor ingin melihat apakah arah fiskal pemerintah mampu memperbaiki kepercayaan dan menarik kembali dana asing setelah net sell besar sepanjang 2026.

Kemarin, MSCI telah mengumumkan August 2026 Index Review. Namun, review tersebut bukan penentuan ulang perlakuan terhadap Indonesia karena kebijakannya sudah ditetapkan sejak 6 Juli. Evaluasi yang lebih menentukan baru mengarah ke November 2026.

Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 1,13% ke 6.301,77 setelah sempat menyentuh 6.390,33. Sejalan dengan indeks yang terkoreksi, asing membukukan net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar dan Rp1,39 triliun di pasar reguler, setelah mencatatkan net buy Rp725,4 miliar pada Rabu sebelumnya.

Dalam tiga perdagangan setelah 10 Agustus, foreign outflow mencapai sekitar Rp1,37 triliun. Pembalikan itu menghapus sinyal awal dari pembelian bersih dua hari sebelumnya, sementara net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp71,84 triliun di seluruh pasar.

Foreign Outflow Masih Menjadi Beban

Dari 144 hari perdagangan sampai 13 Agustus, asing hanya mencatatkan net buy pada 50 hari dan net sell pada 94 hari. Artinya, hampir dua dari setiap tiga hari perdagangan tahun ini diwarnai penjualan bersih asing.

Juli membuktikan IHSG dapat naik tanpa pembelian asing yang merata. Indeks melonjak 10,51%, meskipun asing mencatatkan net sell dalam 16 dari 23 hari perdagangan.

Namun, surplus asing Juli sangat bergantung pada net buy Rp8,97 triliun tanggal 29 Juli. Tanpa transaksi besar tersebut, Juli sebenarnya masih mencatatkan net sell sekitar Rp7,35 triliun.

Artinya, likuiditas domestik dapat menghasilkan rally jangka pendek. Tetapi untuk membentuk tren yang lebih panjang dan merata, IHSG tetap membutuhkan foreign inflow yang konsisten.

MSCI Agustus Sudah Final, November Jadi Ujian Besar

MSCI secara resmi mengumumkan August 2026 Index Review pada 12 Agustus waktu setempat atau 13 Agustus dini hari waktu Indonesia yang akan diimplementasikan pada 1 September. Hasilnya, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Global Standard Indexes.

MSCI telah menetapkan bahwa kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares untuk saham Indonesia tetap dibekukan. Tidak ada penambahan saham Indonesia ke Investable Market Indexes maupun perpindahan naik dari Small Cap menuju Standard Index.

Risiko Agustus telah terlihat secara teknis, yaitu GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, CPIN turun dari Global Standard menuju Global Small Cap, serta sembilan saham dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes. Perubahan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus atau efektif pada 1 September.

Ujian yang lebih menentukan berada pada November. MSCI akan menilai apakah reformasi transparansi kepemilikan, pengawasan konsentrasi pemegang saham dan perbaikan free float sudah diterapkan secara konsisten.

Jika kemajuan Indonesia dinilai belum memadai, MSCI dapat mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Namun, Indonesia tidak otomatis turun kelas pada November.

Dengan demikian, Nota Keuangan menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat kepercayaan investor selama tiga bulan menuju evaluasi tersebut.

Domestik Menahan Pasar, Asing Dibutuhkan untuk Rally

Pasar saham Indonesia tidak sepenuhnya ditopang investor ritel. Data perdagangan dan kepemilikan memperlihatkan peranan besar institusi domestik.

Investor domestik mampu menahan penurunan dan memicu rebound. Namun, foreign inflow tetap dibutuhkan karena kepemilikan asing pada saham-saham berkapitalisasi besar masih signifikan dan sangat menentukan arah IHSG.

Fundamental emiten sebenarnya cukup mendukung. Dari 763 perusahaan dalam data semester I, sekitar 65,4% mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan 60% membukukan perbaikan laba atau berbalik untung. Hambatan pasar bukan semata-mata kinerja perusahaan, tetapi belum tersedianya arus dana yang cukup besar untuk melakukan repricing.

IHSG Terbang ke 8.000 Saat Pidato Kenegaraan 2025, Bagaimana Tahun Ini?

Pengalaman 2025 memperlihatkan pidato Nota Keuangan dapat memunculkan optimisme, tetapi tidak menjamin kenaikan berkelanjutan. Pada 15 Agustus 2025 tepat saat Prabowo akan menyampaikan Pidato Kenegaraan, IHSG sempat menyentuh 8.017 secara intraday, tetapi akhirnya ditutup turun 0,41% ke 7.898,38.

Dari posisi 6.301,77, IHSG membutuhkan kenaikan sekitar 2,4% untuk mencapai 6.450 pada hari ini. Level itu paling mungkin dicapai apabila tekanan teknis setelah review MSCI mereda, rupiah tetap stabil dan Nota Keuangan menunjukkan program yang sangat kredibel, defisit terkendali serta pembiayaan utang yang terukur.

Namun, kunci utamanya tetap foreign inflow. Net buy Rp1,56 triliun sepanjang 1-12 Agustus merupakan awal yang solid, tetapi net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar pada 13 Agustus menunjukkan arus tersebut belum konsisten.

IHSG membutuhkan foreign inflow besar dan kuat pada hari ini agar mampu ditutup di atas 6.450 sekaligus membentuk candle mingguan yang sangat positif.

Penutupan mingguan di atas level tersebut menjadi penting untuk memperkuat momentum kenaikan dan membuka peluang rally lanjutan di IHSG, mengingat kenangan manis pada momen yang sama tahun lalu ketika IHSG sempat menyentuh level 8.000 untuk pertama kali dalam sejarah.

(gls/gls)


Most Popular
Features