MARKET DATA
Newsletter

Banjir Kabar Baik Awal Agustus, Dolar & Minyak Tumbang: IHSG Bangkit?

mae,  CNBC Indonesia
04 August 2026 06:24
FILE PHOTO: The Wall Street entrance to the New York Stock Exchange (NYSE) is seen in New York City, U.S., November 15, 2022. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Dari bursa saham AS, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin atau Selasa waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones bahkan mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Kenaikan didorong lonjakan saham-saham teknologi besar serta meredanya kekhawatiran geopolitik setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Dow Jones Industrial Average melonjak 693,38 poin atau 1,32% ke level 53.178,41. Sementara itu, S&P 500 naik 1,48% menjadi 7.600,50, hanya sekitar 0,3% dari rekor tertingginya yang dicapai pada awal Juni. Nasdaq Composite melesat 2,13% ke posisi 25.913,90.

Sektor teknologi dan layanan komunikasi menjadi motor utama penguatan pasar. Saham Meta Platforms melesat 6%, sedangkan Amazon naik lebih dari 4%, menembus kapitalisasi pasar US$3 triliun dan mencetak rekor penutupan baru. Nvidia menguat hampir 3%, sementara Alphabet dan Microsoft masing-masing naik hampir 5%.

 

Kinerja ini berbanding terbalik dengan Juli yang berat bagi saham teknologi.

ETF teknologi State Street Technology Select Sector SPDR (XLK) anjlok hampir 8% pada bulan lalu akibat kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja modal perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Namun, sentimen investor kembali membaik setelah sejumlah perusahaan teknologi melaporkan kinerja keuangan yang lebih kuat dari perkiraan.

Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan pasar mulai menilai bahwa belanja modal raksasa teknologi memberikan imbal hasil yang menarik.

"Permintaan terhadap komputasi berakselerasi masih jauh melampaui pasokan, dan kesenjangan tersebut belum menyempit," ujar Ellerbroek kepada CNBC International.

 

Ia menambahkan bahwa raksasa cloud computing masih berada dalam posisi yang sangat kuat, sementara industri semikonduktor tetap berada dalam fase pertumbuhan pesat.

Sentimen positif pasar juga didukung oleh penurunan harga minyak. Kontrak berjangka Brent turun 4,73% menjadi US$83,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,11% ke US$80,34 per barel.

Penurunan harga energi terjadi setelah Trump mengumumkan pembatalan serangan terhadap Iran dan menyatakan bahwa perundingan antara kedua negara akan kembali dilanjutkan pada Senin.

Sebelumnya, media AS melaporkan Washington tengah mempersiapkan gelombang serangan baru di tengah memudarnya harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

Partner sekaligus manajer portofolio Founder ETFs, Michael Monaghan, menilai meredanya ketegangan Timur Tengah turut mengangkat minat investor terhadap saham-saham teknologi, khususnya sektor AI.

"Pasar melihat peluang penyelesaian konflik kembali terbuka sehingga kekhawatiran terhadap ketidakstabilan kawasan mulai berkurang," katanya.

 

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun turun hampir 6 basis poin ke sekitar 4,688%, mencerminkan meredanya kekhawatiran inflasi.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati. Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai pasar masih menyadari bahwa konflik geopolitik belum tentu segera berakhir dan berpotensi kembali memicu volatilitas.

Perdagangan Senin sekaligus menjadi awal bulan Agustus, setelah pasar saham AS mengalami pergerakan yang cukup bergejolak sepanjang Juli.

(mae/mae)


Most Popular
Features