Banjir Kabar Baik Awal Agustus, Dolar & Minyak Tumbang: IHSG Bangkit?
Awal Agustus banyak kabar baik bagi Indonesia, mulai dari kembali ekspansifnya manufaktur hingga inflasi yang melandai. Namun, data neraca perdagangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Dari luar negeri, sejumlah kabar baik juga mulai berdatangan. Di antaranya melandainya harga minyak hingga dolar AS.
1. Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung dan menyebut ini sebagai "kesempatan terakhir" bagi Teheran untuk menyepakati perjanjian damai setelah perang yang telah berlangsung lima bulan. Namun, Iran membantah adanya negosiasi maupun agenda pertemuan dengan Washington.
Trump mengatakan pembicaraan dilakukan atas permintaan Iran serta sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Pernyataan itu muncul setelah ia membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran akhir pekan lalu.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dan tidak ada perundingan yang dijadwalkan. Teheran menyebut satu-satunya pembahasan yang berlangsung saat ini adalah dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Ketidakselarasan pernyataan kedua pihak menunjukkan peluang penyelesaian diplomatik masih minim. Sengketa terkait Selat Hormuz tetap menjadi titik utama konflik, sementara Iran diyakini berupaya meningkatkan tekanan terhadap AS melalui jalur perdagangan dan energi kawasan.
2. Harga Minyak Melemah, Dolar AS Turun dan Imbal Hasil US Treasury Melandai
Meski ketegangan belum sepenuhnya reda, pasar merespons positif. Harga minyak brent turun 4,73% menjadi US$83,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,11% ke US$80,34 per barel.
Melandainya harga minyak juga berimbas pada melandainya indeks dolar dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun.
Indeks dolar melemah ke 99,89 pada perdagangan kemarin, dari 99,91 pada perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun ke 4,68% dari 4,75% pada hari sebelumnya.
Melemahnya indeks dolar AS membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung menguat karena tekanan terhadap dolar berkurang.
Sementara itu, penurunan imbal hasil (yield) US Treasury membuat aset AS menjadi kurang menarik sehingga aliran modal berpotensi masuk ke pasar negara berkembang dan mendukung penguatan rupiah.
3. Inflasi Juli 2026 Melandai
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen turun atau mengalami deflasi 0,14% secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026.
Adapun, inflasi tahunan mencapai 2,88% (year on year/yoy) dan inflasi kalender sebesar 1,65% (year to date/ytd) pada Juli 2026.
Sementara itu, komponen inti pada Juli 2026 mengalami inflasi 2,76 (YoY) dan 0,14% (MtM).
"Adapun kelompok pengeluaran pendorong deflasi terutama makanan, minuman, tembakau dengan deflasi 0,89% dan kelompok tersebut andil deflasi 0,26%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono, Senin (3/8/2026).
Ateng menjelaskan komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan rawit andil 0,06%, telur ayam ras dan tomat andil 0,03%, jeruk andil deflasi 0,02%.
Selain itu, juga kelompok perawatan pribadi memberikan andil deflasi 0,06%. Deflasi perawatan pribadi dan jasa lainnya didorong emas dan perhiasan 3,58% dan andil deflasi 0,08%
Di sisi lain, kelompok transportasi dan pendidikan mengalami inflasi signifikan pada Juli 2026. Kelompok transportasi inflasi 0,52% dan andil inflasi 0,06%.
"Komoditas dominan kelompok transportasi bensin andil 0,08%, sepeda motor dan oli mesin andil 0,01%," paparnya.
4. Neraca Dagang Kembali Defisit
Neraca dagang Indonesia mencatat defisit selama dua bulan beruntun. Setelah mencatat defisit US$ 1,61 miliar pada Mei, neraca dagang kembali tekor uS$ 450 juta pada Juni 2026.
BPS mencatat nilai ekspor sebesar US$25,46 miliar, naik 8,84% secara tahunan (yoy).
Sepanjang Januari-Juni 2026, ekspor mencapai US$140,81 miliar atau tumbuh 4,13% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, laju impor tumbuh jauh lebih cepat. Pada Juni 2026, impor naik 34,27% yoy menjadi US$25,91 miliar.
Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai impor mencapai US$137,24 miliar atau melesat 18,69% yoy.
Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,58 miliar sepanjang semester I-2026. Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan surplus US$19,35 miliar, meskipun masih tergerus defisit sektor migas yang mencapai US$15,77 miliar.
5. Manufaktur RI Kembali Ekspansif
Sektor manufaktur Indonesia akhirnya kembali masuk zona ekspansif pada awal kuartal III-2026.
Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026, membaik signifikan dari 46,9 pada Juni yang masih berada di fase kontraksi.
Kembalinya PMI ke atas level 50 menandakan aktivitas industri mulai pulih setelah beberapa bulan tertekan.
Pemulihan ditopang oleh meningkatnya volume produksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2026, seiring membaiknya kepercayaan pelanggan dan mulai stabilnya pesanan baru.
Pelaku industri juga melaporkan adanya peningkatan penjualan yang didorong peluncuran sejumlah proyek baru. Namun, pemulihan masih berlangsung secara bertahap karena dunia usaha menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan baku serta persaingan yang semakin ketat.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih dibayangi lemahnya permintaan global. Pesanan ekspor baru kembali menyusut dan telah mencatat kontraksi selama lima bulan berturut-turut, menunjukkan pasar luar negeri belum sepenuhnya pulih meski aktivitas domestik mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
6. Kredit Perbankan Naik
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja perbankan nasional tetap solid hingga Juni 2026. Kredit tumbuh 12,67% secara tahunan (yoy) menjadi Rp9.080 triliun, meningkat dari pertumbuhan 11,51% pada Mei 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pertumbuhan kredit terutama ditopang kredit investasi yang melonjak 24,9% yoy. Sementara kredit modal kerja tumbuh 8,94% dan kredit konsumsi naik 5,75%.
Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross membaik menjadi 2,09% dari 2,17% pada Mei, dengan NPL net sebesar 0,82% dan loan at risk (LAR) 8,47%.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 10,21% yoy menjadi Rp10.281 triliun. Likuiditas tetap kuat dengan AL/NCD 101,9% dan AL/DPK 23,08%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 23,7%.
7. KSSK Ingatkan Gejolak Global
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengingatkan gejolak pasar keuangan global masih tinggi hingga kuartal II-2026. Fenomena flight to safety semakin kuat, mendorong investor global memburu aset aman sehingga dolar AS menguat, imbal hasil obligasi naik, dan arus modal ke negara berkembang tertekan.
Tekanan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dan rantai pasok global. Dampaknya, harga energi terdorong naik, inflasi sulit turun, dan suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Di tengah gejolak global tersebut, Indonesia justru mencatat arus modal asing masuk (capital inflow) sebesar US$ 8,5 miliar pada kuartal II-2026. Dana investor global terutama mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), seiring meningkatnya daya tarik imbal hasil instrumen domestik.
8. LPS Mencatat Simpanan Masyarakat Meningkat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan tren simpanan masyarakat masih tumbuh positif hingga Juni 2026.
Pertumbuhan terjadi di seluruh kelompok nasabah, mulai dari tabungan kecil milik rumah tangga hingga simpanan jumbo korporasi, menandakan daya simpan masyarakat dan dunia usaha masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengungkapkan simpanan dengan saldo di atas Rp5 miliar mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,44% secara tahunan (yoy), didominasi dana korporasi. Sementara simpanan di bawah Rp100 juta, yang mayoritas dimiliki nasabah perorangan, tetap tumbuh 5,16% yoy.
Di sisi lain, LPS mempertahankan tingkat bunga penjaminan (TBP) sebesar 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum, 2% untuk simpanan valas, dan 6,25% untuk BPR. LPS juga mencatat lebih dari 60% rekening perbankan masih berada dalam cakupan penjaminan penuh hingga Rp2 miliar.
9. Manufaktur AS Ekspansif
Aktivitas manufaktur AS semakin ekspansif pada Juli 2026. Indeks PMI Manufaktur ISM naik menjadi 55,6 dari 53,3 pada Juni, melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,0 dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2022.
Penguatan didorong lonjakan produksi yang mencapai level tertinggi sejak November 2021 serta pertumbuhan pesanan baru yang tetap solid. Sementara itu, indeks ketenagakerjaan kembali masuk zona ekspansi untuk pertama kalinya sejak Januari 2025.
ISM mencatat sektor manufaktur masih ditopang oleh percepatan pemesanan barang guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan dan kenaikan biaya akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Investasi terkait kecerdasan buatan (AI) yang kuat juga membantu meredam dampak tarif impor, sementara rendahnya persediaan bisnis membuka ruang bagi ekspansi lebih lanjut.
10. Data JOLTs Amerika Serikat
Hari ini, AS akan merilis data JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) untuk Juni. Data ini adalah laporan bulanan yang dirilis oleh U.S. Bureau of Labor Statistics untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja AS.
Jumlah lowongan kerja diperkirakan turun menjadi 7,25 juta pada Juni dari 7,59 juta pada bulan sebelumnya, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2024.
Sebagai catatan, jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) di AS naik tipis sebanyak 9.000 menjadi 7,594 juta posisi pada Mei 2026.
Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2024 dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta, menandakan pasar tenaga kerja AS masih tangguh di tengah kenaikan biaya energi akibat konflik Iran.
Meski lowongan kerja diproyeksikan menurun, permintaan tenaga kerja AS sejauh ini masih tergolong kuat. Pada Mei, jumlah perekrutan bertahan di sekitar 5,2 juta, sementara pekerja yang mengundurkan diri stabil di 3,1 juta.
Data JOLTs menjadi perhatian karena merupakan petunjuk awal kondisi pasar tenaga kerja menjelang rilis nonfarm payrolls pada akhir pekan. Jika penurunan lowongan kerja terjadi secara moderat, peluang pelonggaran kebijakan The Fed bisa semakin terbuka. Namun, jika penurunannya terlalu dalam, pasar justru dapat khawatir ekonomi AS mulai kehilangan momentum.
Hasil data ini berpotensi menjadi penggerak utama dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan sentimen pasar global dalam beberapa hari ke depan.