Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/3/2026).
Bursa ambruk setelah harga minyak melanjutkan kenaikan karena investor menunggu perkembangan lebih lanjut terkait perang Iran.
Indeks S&P anjlok 0,61 dan ditutup di 6.632,19, Nasdaq Composite jeblok 0,93% dan berakhir di 22.105,36. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 119,38 poin atau 0,26%, menjadi 46.558,47.
Indeks S&P 500 mencatat level terendah baru pada 2026 pada Jumat, membukukan penurunan 1,6% sepanjang pekan ini dan mencatat tiga pekan berturut-turut mengalami penurunan, yang pertama dalam sekitar satu tahun.
Selama sepekan Dow Jones turun sekitar 2% dan Nasdaq melemah 1,3%.
Pasar saham kembali melemah setelah sebelumnya mengalami tekanan ketika harga minyak melonjak. Lonjakan tersebut terjadi setelah Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang sangat penting, seharusnya tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, membuat investor cemas menunggu perkembangan lebih lanjut dari konflik tersebut.
Namun pada Jumat, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menepis kekhawatiran bahwa penutupan jalur tersebut akan menjadi masalah berkepanjangan.
Di Wall Street, muncul kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak dapat memicu kondisi stagflasi, yaitu inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Kekhawatiran ini bahkan membuat investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve tahun ini. Perdagangan fed funds futures kini tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga pada September.
"Kinerja laba perusahaan sebenarnya cukup baik, tetapi sentimen pasar sedang sulit. Faktor harga minyak dan valuasi saham mencerminkan jalur suku bunga yang kini mulai dipertanyakan." tutur David Aspell, Chief Investment Officer Global Macro di Mount Lucas Management, kepada CNBC International.
Perdagangan pasar pekan ini akan sangat singkat yakni dua hari, Senin dan Selasa, sebelum memasuki libur panjang dan cuti bersama Lebaran Idul Fitri mulai Rabu (18/3/2026) hingga Selasa pekan depan.
Sayangnya, sebelum libur panjang, investor justru dibayangi banyak kekhawatiran mengenai kondisi domestic dan global.
Pasar keuangan dunia juga akan menghadapi banyak sentiment dan data-data penting pekan ini. Perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi akan terus menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar global. Isu ini juga akan berperan penting dalam serangkaian keputusan suku bunga dari berbagai bank sentral utama dunia.
Fokus utama pekan ini adalah keputusan bank sentral dunia. Setidaknya ada 11 bank sentral yang menggelar rapat keputusan suku bunga pekan ini, termasuk AS The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia.
Karena pasar Indonesia libur di tengah banyaknya data global, maka investor perlu mencermati dan berhitung apa yang harus dilakukan dalam dua hari pekan ini.
Berikut sejumlah sentiment besar pekan ini:
Keputusan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Senin dan Selasa pekan ini (16-17/3/2026) dan menggelar konferensi pers pada Selasa.
BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 4,75% pada bulan ini demi menjaga nilai tukar rupiah di tengah memanasnya perang Iran dan lonjakan harga minyak.
BI sudah menahan suku bunga acuan sudah berlaku sejak September 2025.
Utang Luar Negeri
BI hari ini akan mengumumkan data utang luar negeri (ULN) Januari 2026.
Sebagai catatan, BI mencatat posisi ULN Indonesia pada triwulan IV 2025 atau Desember 2025 sebesar US$431,7 miliar, naik tipis dari triwulan III 2025 sebesar US$427,6 miliar. Kenaikan ini terutama ditopang oleh sektor publik.
Dari sisi pemerintah, posisi ULN pemerintah pada triwulan IV 2025 tercatat US$214,3 miliar, naik dari US$210,1 miliar pada triwulan III 2025. BI menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi masuknya modal asing ke SBN internasional, seiring kepercayaan investor yang masih terjaga di tengah ketidakpastian global.
Defisit APBN
Lonjakan Harga minyak membuat pemerintah mulai memitigasi risiko terburuk.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto tentang skenario defisit APBN yang sulit dijaga di angka 3% pada Jumat (13/3/2026).
Hal ini dipicu kondisi ketidakpastian geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan terganggunya pasokan minyak di pasar.
Airlangga menyebut, dari berbagai skenario yang telah disimulasikan, seluruhnya mengarahkan bahwa defisit APBN bisa tembus di batas masksimal dalam Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Skenario yang ia ambil untuk menghitung risiko ini ialah dengan membagi efek konflik di Timur Tengah itu berlangsung selama enam bulan hingga 10 bulan, dengan harga rata-rata minyak mentah dunia naik menjadi US$ 97 per barel dan US$ 115 per barel.
Airlangga menjabarkan beberapa skenario bila terjadi perubahan asumsi harga minyak hingga nilai tukar (kurs). Tiga skenario itu antara lain:
1. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 86/barel, kurs Rp 17.000 per US$, sementara di APBN asumsi kursnya Rp 16.500 per US$, kemudian dengan growth dipertahankan di 5,3%, surat berharga negara angkanya lebih tinggi 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18%.
2. Skenario moderat kedua dengan harga ICP US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300, growth 5,2%, SBN lebih tinggi lagi di 7,2%, maka defisit mencapai 3,53%.
3. Skenario terburuk pesimis, dengan harga ICP US$ 115 per barel, kurs Rp 17.500, growth 5,2% SBN 7,2% defisitnya 4,06%.
"Artinya dengan berbagai skenario ini defisit 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja, dan memotong pertumbuhan pak," kata Airlangga dalam Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Dikutip Sabtu (14/3/2026).
Maka dari itu, Airlangga mengusulkan opsi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 untuk merespon kondisi global dan skenario defisti APBN yang telah diproyeksikan.
Libur Panjang Lebaran
Indonesia akan memasuki libur panjang pada Rabu pekan ini hingga Selasa pekan depan. Rangkaian hari libur nasional, dimulai dari Hari Suci Nyepi pada 18-19 Maret 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 20-24 Maret 2026.
Libur panjang ini diharapkan bisa menggerakkan permintaan hingga ekonomi dalam negeri.
Produksi Industri dan Konsumsi China
Agenda ekonomi global pekan ini dibuka dengan rilis produksi industri China untuk periode Januari-Februari yang diumumkan hari ini, Senin (16/3/2026). Konsensus pasar memperkirakan output industri tumbuh sekitar 5% secara tahunan.
Sebelumnya, produksi industri China pada Desember 2025 tercatat naik 5,2% (yoy), ditopang kuatnya sektor manufaktur yang tumbuh 5,7%. Pemerintah China belakangan juga gencar mendorong permintaan domestik guna menopang pertumbuhan ekonomi.
Selain sektor industri, pasar juga akan mencermati penjualan ritel China sebagai indikator konsumsi domestik yang dirilis pada hari ini.
Pada Desember 2025, penjualan ritel hanya tumbuh 0,9% (yoy), melambat dari 1,3% pada bulan sebelumnya dan menjadi yang terlemah sejak Desember 2022. Lemahnya konsumsi masih dipengaruhi pasar tenaga kerja yang rapuh dan turunnya harga properti.
Pasar Tunggu Data Inflasi Produsen AS
Dari Amerika Serikat, investor menanti rilis Producer Price Index (PPI) Februari pada Rabu pekan ini (19/3/2026).
Sebelumnya pada Januari 2026, harga produsen AS naik 0,5% (mom), lebih tinggi dari ekspektasi pasar 0,3%. Kenaikan terutama didorong oleh sektor jasa, sementara harga barang justru turun akibat penurunan harga bensin.
Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan
Sorotan utama pekan ini tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan pada Selasa Rabu waktu AS dan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026).
Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,5%-3,75% setelah tiga kali pemangkasan pada tahun lalu. Pasar kini menanti sinyal arah kebijakan moneter berikutnya, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan kondisi ekonomi global.
Mayoritas analis memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan FOMC Maret. Proyeksi di FedWatch bahkan menunjukkan 99,2% mempertaruhkan suku bunga di tahan.
Namun, peluang pemangkasan suku bunga tahun ini mulai mengecil. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa dimulai pertengahan 2026, kini ekspektasi tersebut mulai mundur. Sejumlah faktor menjadi pemicu seperti lonjakan harga minyak, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian ekonomi global.
Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan AS-Iran yang mengganggu rantai pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.
Akibatnya, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 kemungkinan hanya terjadi satu kali pada tahun ini.
Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.
Pasar mencari sinyal apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini, atau justru menunda lebih lama jika lonjakan harga energi kembali memicu tekanan inflasi.
9 Bank Sentral Gelar Keputusan Suku Bunga
Selain The Fed dan Bank Indonesia, sembilan bank sentral dunia juga akan memutuskan suku bunga pada pekan ini. Di antaranya European Central Bank (ECB),, Bank of England (BoE), Swiss National Bank (SNB), Reserve Bank of Australia (RBA), Bank of Canada (BoC), Sveriges Riksbank (Swedia), People's Bank of China (PBoC), Bank of Japan (BoJ), dan Central Bank of Russia (CBR).
Rapat suku bunga ini sangat krusial dalam menentukan kebijakan di tengah perang dan lonjakan harga minyak.
Perkembangan Perang
Juru bicara militer Israel Effie Defrin mengatakan bahwa militer Israel masih memiliki "ribuan" target untuk diserang di Iran, beberapa jam setelah serangan diperluas hingga mencakup wilayah Iran bagian barat dan tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran tidak meminta Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata.
Dalam wawancara dengan CBS News, mitra media BBC di AS, Araghchi juga mengatakan Iran tidak melihat alasan untuk berbicara dengan Amerika.
Presiden AS Donald Trump selama akhir pekan mengancam akan melakukan serangan tambahan terhadap Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran. Ia juga mengatakan belum siap mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, dan mengguncang pasar energi global.
Pemerintahan Trump berencana mengumumkan paling cepat minggu ini bahwa sejumlah negara telah sepakat membentuk koalisi untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz. Namun, mereka masih membahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah konflik berakhir, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi.
Trump, yang pada Jumat mengatakan Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal tanker minyak, menyatakan bahwa Iran ingin bernegosiasi. Namun klaim tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu.
Beirkut agenda ekonomi hari ini:
- China akan mengumumkan data produksi indystri Januari/Februari
- China akan mengumumkan data penjualan ritel Januari/Februari
- China akan mengumumkan data pengangguran Februari
- Bank Indonesia akan mengumumkan data utang luar negeri Januari 2026
- Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur
- Konferensi pers "Pencanangan Pembangunan Hunian dalam Rangka Mendukung Program 3 Juta Rumah" di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Turut hadir Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, dan Direktur Utama PT KAI.
- Media Briefing bersama Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan dengan topik "Submission Indonesia dalam Investigasi Section 301 Amerika Serikat terkait Structural Excess Capacity pada sektor Manufaktur Indonesia" di Ruang Mezzanine 1, Gedung Utama, kantor Kemendag, Jakarta Pusat.
- Konferensi pers kesiapan pelayanan navigasi penerbangan AirNav Indonesia di Bale Nusa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS Goodyear Indonesia Tbk
RUPS PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]