MARKET DATA
Newsletter

Tegang Jelang Liburan: 11 Bank Sentral Rapat, Risiko Defisit Membesar

mae,  CNBC Indonesia
16 March 2026 06:20
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Perdagangan pasar pekan ini akan sangat singkat yakni dua hari, Senin dan Selasa, sebelum memasuki libur panjang dan cuti bersama Lebaran Idul Fitri mulai Rabu (18/3/2026) hingga Selasa pekan depan.

Sayangnya, sebelum libur panjang, investor justru dibayangi banyak kekhawatiran mengenai kondisi domestic dan global.

Pasar keuangan dunia juga akan menghadapi banyak sentiment dan data-data penting pekan ini. Perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi akan terus menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar global. Isu ini juga akan berperan penting dalam serangkaian keputusan suku bunga dari berbagai bank sentral utama dunia.

Fokus utama pekan ini adalah keputusan bank sentral dunia. Setidaknya ada 11 bank sentral yang  menggelar rapat keputusan suku bunga pekan ini, termasuk AS The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia. 

Karena pasar Indonesia libur di tengah banyaknya data global, maka investor perlu mencermati dan berhitung apa yang harus dilakukan dalam dua hari pekan ini.

Berikut sejumlah sentiment besar pekan ini:

Keputusan Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Senin dan Selasa pekan ini (16-17/3/2026) dan menggelar konferensi pers pada Selasa.

BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 4,75% pada bulan ini demi menjaga nilai tukar rupiah di tengah memanasnya perang Iran dan lonjakan harga minyak.
BI sudah menahan suku bunga acuan sudah berlaku sejak September 2025.

Utang Luar Negeri

BI hari ini akan mengumumkan data utang luar negeri (ULN) Januari 2026.

Sebagai catatan, BI mencatat posisi ULN Indonesia pada triwulan IV 2025 atau Desember 2025 sebesar US$431,7 miliar, naik tipis dari triwulan III 2025 sebesar US$427,6 miliar. Kenaikan ini terutama ditopang oleh sektor publik.

Dari sisi pemerintah, posisi ULN pemerintah pada triwulan IV 2025 tercatat US$214,3 miliar, naik dari US$210,1 miliar pada triwulan III 2025. BI menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi masuknya modal asing ke SBN internasional, seiring kepercayaan investor yang masih terjaga di tengah ketidakpastian global.

Defisit APBN

Lonjakan Harga minyak membuat pemerintah mulai memitigasi risiko terburuk.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto tentang skenario defisit APBN yang sulit dijaga di angka 3% pada Jumat (13/3/2026).
Hal ini dipicu kondisi ketidakpastian geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan terganggunya pasokan minyak di pasar.

Airlangga menyebut, dari berbagai skenario yang telah disimulasikan, seluruhnya mengarahkan bahwa defisit APBN bisa tembus di batas masksimal dalam Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Skenario yang ia ambil untuk menghitung risiko ini ialah dengan membagi efek konflik di Timur Tengah itu berlangsung selama enam bulan hingga 10 bulan, dengan harga rata-rata minyak mentah dunia naik menjadi US$ 97 per barel dan US$ 115 per barel.

Airlangga menjabarkan beberapa skenario bila terjadi perubahan asumsi harga minyak hingga nilai tukar (kurs). Tiga skenario itu antara lain:

1. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 86/barel, kurs Rp 17.000 per US$, sementara di APBN asumsi kursnya Rp 16.500 per US$, kemudian dengan growth dipertahankan di 5,3%, surat berharga negara angkanya lebih tinggi 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18%.

2. Skenario moderat kedua dengan harga ICP US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300, growth 5,2%, SBN lebih tinggi lagi di 7,2%, maka defisit mencapai 3,53%.

3. Skenario terburuk pesimis, dengan harga ICP US$ 115 per barel, kurs Rp 17.500, growth 5,2% SBN 7,2% defisitnya 4,06%.


"Artinya dengan berbagai skenario ini defisit 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja, dan memotong pertumbuhan pak," kata Airlangga dalam Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Dikutip Sabtu (14/3/2026).

Maka dari itu, Airlangga mengusulkan opsi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 untuk merespon kondisi global dan skenario defisti APBN yang telah diproyeksikan.

Libur Panjang Lebaran

Indonesia akan memasuki libur panjang pada Rabu pekan ini hingga Selasa pekan depan.  Rangkaian hari libur nasional, dimulai dari Hari Suci Nyepi pada 18-19 Maret 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 20-24 Maret 2026. 

Libur panjang ini diharapkan bisa menggerakkan permintaan hingga ekonomi dalam negeri.

Produksi Industri dan Konsumsi China

Agenda ekonomi global pekan ini dibuka dengan rilis produksi industri China untuk periode Januari-Februari yang diumumkan hari ini, Senin (16/3/2026). Konsensus pasar memperkirakan output industri tumbuh sekitar 5% secara tahunan.

Sebelumnya, produksi industri China pada Desember 2025 tercatat naik 5,2% (yoy), ditopang kuatnya sektor manufaktur yang tumbuh 5,7%. Pemerintah China belakangan juga gencar mendorong permintaan domestik guna menopang pertumbuhan ekonomi.  

Selain sektor industri, pasar juga akan mencermati penjualan ritel China sebagai indikator konsumsi domestik yang dirilis pada hari ini.

Pada Desember 2025, penjualan ritel hanya tumbuh 0,9% (yoy), melambat dari 1,3% pada bulan sebelumnya dan menjadi yang terlemah sejak Desember 2022. Lemahnya konsumsi masih dipengaruhi pasar tenaga kerja yang rapuh dan turunnya harga properti.

Pasar Tunggu Data Inflasi Produsen AS

Dari Amerika Serikat, investor menanti rilis Producer Price Index (PPI) Februari pada Rabu pekan ini (19/3/2026).

Sebelumnya pada Januari 2026, harga produsen AS naik 0,5% (mom), lebih tinggi dari ekspektasi pasar 0,3%. Kenaikan terutama didorong oleh sektor jasa, sementara harga barang justru turun akibat penurunan harga bensin.

Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Sorotan

Sorotan utama pekan ini tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan pada Selasa Rabu waktu AS dan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026).

Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,5%-3,75% setelah tiga kali pemangkasan pada tahun lalu. Pasar kini menanti sinyal arah kebijakan moneter berikutnya, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan kondisi ekonomi global.

Mayoritas analis memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan FOMC Maret. Proyeksi di FedWatch bahkan menunjukkan 99,2% mempertaruhkan suku bunga di tahan. 

Namun, peluang pemangkasan suku bunga tahun ini mulai mengecil. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa dimulai pertengahan 2026, kini ekspektasi tersebut mulai mundur. Sejumlah faktor menjadi pemicu seperti lonjakan harga minyak, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian ekonomi global.

Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan AS-Iran yang mengganggu rantai pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.

Akibatnya, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 kemungkinan hanya terjadi satu kali pada tahun ini.

Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.

Pasar mencari sinyal apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini, atau justru menunda lebih lama jika lonjakan harga energi kembali memicu tekanan inflasi.

9 Bank Sentral Gelar Keputusan Suku Bunga

Selain The Fed dan Bank Indonesia, sembilan bank sentral dunia juga akan memutuskan suku bunga pada pekan ini. Di antaranya European Central Bank (ECB),Bank of England (BoE), Swiss National Bank (SNB), Reserve Bank of Australia (RBA), Bank of Canada (BoC), Sveriges Riksbank (Swedia),   People's Bank of China (PBoC), Bank of Japan (BoJ), dan Central Bank of Russia (CBR).

Rapat suku bunga ini sangat krusial dalam menentukan kebijakan di tengah perang dan lonjakan harga minyak.

Perkembangan Perang

Juru bicara militer Israel Effie Defrin mengatakan bahwa militer Israel masih memiliki "ribuan" target untuk diserang di Iran, beberapa jam setelah serangan diperluas hingga mencakup wilayah Iran bagian barat dan tengah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran tidak meminta Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata.

Dalam wawancara dengan CBS News, mitra media BBC di AS, Araghchi juga mengatakan Iran tidak melihat alasan untuk berbicara dengan Amerika.

Presiden AS Donald Trump selama akhir pekan mengancam akan melakukan serangan tambahan terhadap Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran. Ia juga mengatakan belum siap mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, dan mengguncang pasar energi global.

Pemerintahan Trump berencana mengumumkan paling cepat minggu ini bahwa sejumlah negara telah sepakat membentuk koalisi untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz. Namun, mereka masih membahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah konflik berakhir, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi.

Trump, yang pada Jumat mengatakan Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal tanker minyak, menyatakan bahwa Iran ingin bernegosiasi. Namun klaim tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu.

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features