MARKET DATA
Newsletter

Tegang Jelang Liburan: 11 Bank Sentral Rapat, Risiko Defisit Membesar

mae,  CNBC Indonesia
16 March 2026 06:20
Ekspresi Trader di lantai bursa amerika di New York Stock Exchange (NYSE) di New York City, AS, 12 November 2018. REUTERS / Brendan McDermid
Foto: Ekspresi Trader di lantai di New York Stock Exchange (NYSE) di New York City, AS, 12 November 2018. REUTERS / Brendan McDermid

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/3/2026).

Bursa ambruk setelah harga minyak melanjutkan kenaikan karena investor menunggu perkembangan lebih lanjut terkait perang Iran.

Indeks S&P anjlok 0,61 dan ditutup di 6.632,19, Nasdaq Composite jeblok 0,93% dan berakhir di 22.105,36. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 119,38 poin atau 0,26%, menjadi 46.558,47.

Indeks S&P 500 mencatat level terendah baru pada 2026 pada Jumat, membukukan penurunan 1,6% sepanjang pekan ini dan mencatat tiga pekan berturut-turut mengalami penurunan, yang pertama dalam sekitar satu tahun.

Selama sepekan Dow Jones turun sekitar 2% dan Nasdaq melemah 1,3%.

Pasar saham kembali melemah setelah sebelumnya mengalami tekanan ketika harga minyak melonjak. Lonjakan tersebut terjadi setelah Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang sangat penting, seharusnya tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir sepenuhnya terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, membuat investor cemas menunggu perkembangan lebih lanjut dari konflik tersebut.

Namun pada Jumat, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menepis kekhawatiran bahwa penutupan jalur tersebut akan menjadi masalah berkepanjangan.

Di Wall Street, muncul kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak dapat memicu kondisi stagflasi, yaitu inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Kekhawatiran ini bahkan membuat investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve tahun ini. Perdagangan fed funds futures kini tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga pada September.

"Kinerja laba perusahaan sebenarnya cukup baik, tetapi sentimen pasar sedang sulit. Faktor harga minyak dan valuasi saham mencerminkan jalur suku bunga yang kini mulai dipertanyakan." tutur David Aspell, Chief Investment Officer Global Macro di Mount Lucas Management, kepada CNBC International.

 

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features