MARKET DATA

Keluar dari "Neraka" di Juli, Saatnya IHSG Merdeka Terbang di Agustus!

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
03 August 2026 15:15
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali Agustus 2026 masih melaju kencang. Laju positif ini melanjutkan tren positif IHSG yang melesat di Juli 2026.

Sebagai catatan, IHSG keluar dari "kerak neraka" dan untuk pertama kali mencatat kenaikan bulanan di Juli 2026.

Hingga Juni, IHSG bahkan belum mencetak kenaikan secara bulanan. Rekor ini menjadi yang terburuk dalam sejarah Indonesia, setidaknya sejak 1990. IHSG akhirnya mmenguat 10,51% secaa bulanan di Juli.

Laju positif Juli masih berlanjut di awal Agustus.

Pada perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026), IHSG sesi I ditutup tipis melemah 0,03% ke posisi 6.234,29 dengan volume perdagangan mencapai 22,24 miliar saham.

Posisi tersebut mencerminkan penurunan sekitar 27,90% sejak awal tahun dan koreksi 31,75% dari rekor penutupan 9.134,70 pada Januari lalu.

Meskipun masih turun tajam secara tahunan, momentum jangka pendek mulai memperlihatkan perbaikan.

IHSG  secara teknikal mulai membaik apabila dilihat dari beberapa indikator yang menunjukkan momentum netral menuju positif dan belum memasuki area jenuh beli.

Namun, tren besar belum sepenuhnya bullish karena IHSG masih berada sekitar 17% di bawah MA200 yang berada di kisaran 7.553.

Agustus Secara Historis Bersahabat dengan IHSG

Dalam sepuluh tahun terakhir, Agustus menjadi salah satu bulan yang relatif positif bagi pasar saham Indonesia. IHSG mencatatkan penguatan sebanyak sembilan kali dan hanya sekali mengalami koreksi.

Return Agustus dihitung dari penutupan perdagangan terakhir Juli menuju penutupan perdagangan terakhir Agustus pada tahun yang sama.

Data tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan historis sebesar 90%, dengan return rata-rata 2,10% dan median 1,55%. Rata-rata kenaikan pada sembilan tahun yang positif mencapai sekitar 2,45%.

Tahun 2024 mencatatkan kinerja Agustus terbaik dengan kenaikan 5,72%. Sebaliknya, satu-satunya penurunan terjadi pada 2019 sebesar 0,97%.

Jika IHSG mengulang return rata-rata Agustus sebesar 2,10%, indeks secara matematis berpeluang mengakhiri bulan di sekitar 6.367. Jika kenaikannya menyamai rata-rata pada tahun-tahun positif sebesar 2,45%, penutupan akhir bulan berada di sekitar 6.389.

Namun, pola musiman tidak dapat menjadi dasar tunggal. Kondisi pasar 2026 jauh lebih menantang akibat pelemahan rupiah, tingginya suku bunga, dan kekhawatiran investor asing mengenai pasar Indonesia.

Level 6.450 Menjadi Gerbang Rally

Secara teknikal, area 6.450 merupakan resistance paling penting bagi IHSG terutama apabila dilihat dari sisi candle weekly chartnya.

Pada 23 Juli 2026, IHSG sempat menyentuh 6.454,31, tetapi gagal mempertahankan kenaikan dan ditutup di level 6.315,31. Kegagalan tersebut terjadi dengan volume perdagangan sangat besar, mencapai 57,06 miliar saham.

Candle yang terbentuk memiliki upper shadow panjang. Pola ini menunjukkan tekanan jual besar muncul ketika indeks memasuki area 6.450. Dengan demikian, kenaikan melewati level tersebut secara intraday belum dapat langsung dianggap sebagai breakout.

Breakout baru dinilai lebih valid jika IHSG ditutup di atas 6.450, idealnya pada kisaran 6.475-6.500. Candle juga perlu memiliki body hijau solid, penutupan dekat titik tertinggi harian, dan upper shadow relatif pendek.

Dari sisi transaksi, rata-rata volume 20 hari berada sekitar 26,78 miliar saham. Karena itu, penembusan 6.450 idealnya didukung volume minimal sekitar di atas 32 miliar saham, setara 1,2 kali rata-rata tersebut.

Volume perdagangan terakhir yang hanya sebesar 22,24 miliar saham atau sekitar 83% dari rata-rata menunjukkan bahwa tenaga untuk menembus resistance belum sepenuhnya terbentuk.

Global Masih Menjadi Penghambat

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada rentang 3,50%-3,75% dalam pertemuan 29 Juli. Namun, keputusan tersebut masih bernuansa hawkish karena tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Yield US Treasury tenor 10 tahun juga berada sekitar 4,70%. Tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dapat membuat dana global tetap bertahan pada aset dolar dan mengurangi aliran modal menuju emerging markets seperti Indonesia.

Harga minyak Brent di sekitar US$87 per barel memberikan dampak campuran. Harga tinggi berpotensi mendukung saham komoditas, tetapi juga meningkatkan risiko inflasi dan biaya impor energi Indonesia.

Rupiah dan MSCI Menjadi Risiko Domestik

Rupiah masih diperdagangkan mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah dapat mengurangi return investor asing setelah dikonversi ke dolar sehingga membatasi minat beli pada saham Indonesia.

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Kebijakan ini mendukung stabilitas, tetapi juga mempertahankan biaya modal dan tingkat diskonto saham pada level tinggi.

Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia masih memberikan bantalan.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan, sementara inflasi Juli berada di level 2,88%. Pertumbuhan kredit sepanjang 2026 juga diproyeksikan berada pada kisaran 8%-12%.

Risiko lain datang dari evaluasi MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan dan kualitas pembentukan harga di pasar Indonesia.

MSCI akan kembali menilai perkembangan reformasi tersebut menjelang review November 2026. Ketidakpastian ini dapat membuat investor asing tetap selektif.

Dari ketiga proyeksi tersebut, base case menjadi skenario yang paling memungkinkan.

IHSG diperkirakan bergerak sideways-bullish dan menutup Agustus pada kisaran area fair value di level 6.450 melihat momentum yang sudah terbangun hingga hari ini.

Skenario tersebut sejalan dengan pola historis Agustus yang positif dapat dilihat dari posisi RSI (Relative Strength Index) IHSG yang mulai bergerak di atas level netral. Namun, penguatan diperkirakan berlangsung bertahap karena volume belum besar dan tekanan terhadap rupiah masih tinggi.

RSI adalah indikator teknikal yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan momentum pergerakan harga saham. RSI bergerak pada skala 0 hingga 100 dan paling sering menggunakan periode 14 hari.

Dari sisi bull case, IHSG mampu menuju 6.650 dan baru terbuka apabila IHSG mampu ditutup di atas 6.450 dengan candle hijau solid dan volume minimal sekitar 32 miliar saham pada weekly chartnya. Rally juga perlu didukung saham-saham perbankan dan big caps, bukan hanya emiten berkapitalisasi kecil.

Jadi, IHSG Bakal ke Mana?

IHSG memiliki modal historis yang cukup kuat untuk mengakhiri Agustus di zona positif. Dalam sepuluh Agustus terakhir, indeks berhasil menguat sebanyak sembilan kali dengan return rata-rata 2,10%.

Meski demikian, level 6.450 tetap menjadi gerbang utama. Selama IHSG belum mampu ditutup secara meyakinkan di atas level tersebut, pergerakan indeks masih dikategorikan sebagai konsolidasi dan belum memasuki fase rally penuh.

Skenario paling memungkinkan adalah IHSG bergerak sideways-bullish dan menutup Agustus pada kisaran 6.450. Area 6.450 diperkirakan menjadi pusat tarik-menarik antara buyer dan seller hingga akhir bulan.

Dengan demikian, angka yang perlu diperhatikan investor sepanjang Agustus adalah 6.000 sebagai batas bawah, 6.450 sebagai gerbang breakout, serta 6.700 sebagai target apabila rally memperoleh konfirmasi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular