MARKET DATA

Operasi Rahasia AS Beli Yen Terbongkar, Pasar Global Siaga Satu

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 August 2026 13:10
Ilustrasi mata uang Japan Yen dan US Dollar. (Foto : REUTERS/Thomas White/)
Foto: REUTERS/Thomas White/

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) baru saja melakukan sebuah langkah yang cukup langka dengan turun langsung ke pasar valuta asing untuk membantu Jepang dalam memperkuat mata uangnya, Yen.

Hal ini dilakukan oleh Departemen Keuangan AS yang melakukan pembelian yen Jepang pada Jumat (31/7/2026), setelah Tokyo lebih dahulu melakukan intervensi sehari sebelumnya.

Seperti dilansir dari Reuters, transaksi tersebut dijalankan oleh Federal Reserve Bank of New York atas nama Departemen Keuangan AS. New York Fed dilaporkan menjual euro untuk membeli yen melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley. Besarnya transaksi belum diumumkan secara resmi.

Rencana pembelian yen sempat terungkap dari foto catatan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam rapat kabinet di Camp David.

Dalam catatan tersebut tertulis rencana pembelian yen senilai US$5 - US$10 miliar. Namun, Departemen Keuangan AS belum memberikan konfirmasi mengenai angka tersebut.

Sebelum transaksi dilakukan, pemerintah AS telah meminta sejumlah bank bersiap menghadapi kemungkinan intervensi. Langkah ini memberikan sinyal bahwa Washington tidak hanya mendukung Jepang melalui pernyataan, tetapi juga bersedia masuk langsung ke pasar.

AS bergerak setelah Jepang melakukan intervensi besar pada Kamis (30/7/2026). Pergerakan rekening Bank of Japan (BOJ) menunjukkan Tokyo diperkirakan menjual dolar hingga sebanyak 58,97 miliar dolar AS untuk membeli yen.

Intervensi besar tersebut dilakukan setelah yen mengalami pelemahan panjang dan sempat menyentuh JPY 163,98/US$ pada 23 Juli 2026. Posisi itu menjadi level terlemah yen sejak Desember 1986.

Tekanan terhadap yen terutama datang dari perbedaan tingkat bunga Jepang dan AS.

BOJ baru saja memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di level 1% dalam pertemuan Jumat (31/7/2026), sementara bunga The Fed masih berada pada kisaran 3,50%-3,75%.

Selisih tersebut membuat aset dolar masih menawarkan imbal hasil lebih tinggi daripada aset yen. Investor pun memiliki alasan untuk menjual yen dan memindahkan dananya ke AS atau negara lain yang memberikan keuntungan lebih besar.

Kondisi tersebut juga mendorong transaksi yen carry trade. Investor meminjam yen dengan bunga rendah, menukarnya ke mata uang lain, lalu membeli saham, obligasi, atau aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

Pelemahan yen semakin dalam akibat kenaikan harga energi selama perang di Timur Tengah. Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya sehingga lonjakan harga energi memperbesar permintaan dolar untuk membayar impor.

Pada saat bersamaan, normalisasi kebijakan BOJ berjalan secara bertahap.

Meskipun bunga telah naik ke level tertinggi dalam 31 tahun, pasar menilai langkah tersebut belum cukup untuk menutup jarak dengan suku bunga AS.

BOJ memang memberikan sinyal dapat kembali menaikkan bunga pada pertemuan September mendatang. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan risiko kenaikan inflasi semakin besar, terutama akibat pelemahan yen, harga energi, dan peningkatan permintaan terkait kecerdasan buatan.

Sinyal kenaikan bunga menjadi penting karena intervensi hanya mengubah permintaan dan penawaran mata uang secara langsung.

Langkah tersebut dapat menghentikan penurunan yen dengan cepat, tetapi tidak menghilangkan penyebab utama pelemahannya.

Selama bunga Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan AS, pasar tetap memiliki alasan untuk menjual yen. Penguatan mata uang Jepang juga berisiko kembali berbalik apabila BOJ tidak melanjutkan kenaikan bunga atau The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Lalu Apa Dampak Terhadap Pasar Keuangan?

Dampak paling langsung dari intervensi Jepang dan AS terlihat di pasar valuta asing.

Pembelian yen mendorong mata uang Jepang menguat sekaligus menekan dolar AS. Keterlibatan Negeri Paman Sam juga memberikan sinyal bahwa AS tidak menginginkan pelemahan yen terus berlangsung tanpa kendali.

Melansir Refinitiv, Indeks dolar turun lebih dari 1,5% sepanjang pekan lalu dan berada di sekitar 99,707 pada perdagangan Senin pagi (3/8/2026).

Pelemahan dolar memberikan ruang bagi mata uang utama lainnya untuk menguat.

Euro naik ke level tertinggi dalam satu setengah bulan, sementara poundsterling mendekati posisi tertinggi dalam dua pekan. Hingga mata uang Asia yang bergerak kompak menguat.

Namun, pergerakan dolar turut dipengaruhi penurunan harga minyak, situasi Timur Tengah, dan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Carry Trade Terancam

Meski demikian, penguatan yen yang terlalu cepat membawa risiko baru bagi pasar keuangan dunia, terutama melalui pembongkaran yen carry trade.

Selama ini, investor meminjam yen dengan bunga rendah, menukarkannya ke dolar atau mata uang lain, kemudian menggunakan dana tersebut untuk membeli saham dan obligasi berimbal hasil lebih tinggi.

Strategi tersebut menguntungkan selama yen tetap lemah.

Namun ketika yen menguat, biaya untuk membeli kembali mata uang Jepang dan melunasi pinjaman ikut meningkat. Penguatan yen dari level yang hampir menyentuh JPY 164/US$ menjadi sekitar JPY 155/US$ berarti mata uang Jepang naik hampir 6%.

Pergerakan sebesar itu dapat menghapus keuntungan yang diperoleh investor dari selisih bunga.

Investor yang ingin menutup carry trade harus menjual aset yang dimiliki dan membeli kembali yen.

Apabila dilakukan secara bersamaan, proses tersebut dapat meningkatkan tekanan jual pada saham, obligasi, dan mata uang negara-negara yang sebelumnya menjadi tujuan dana tersebut. Risiko terbesar muncul jika posisi investor menggunakan utang dalam jumlah besar sehingga penurunan harga aset memaksa penjualan lanjutan.

Dampak penguatan yen juga terlihat pada pasar saham Jepang.

Saham perusahaan eksportir seperti otomotif, elektronik, dan mesin berisiko tertekan karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih kecil ketika dikonversi ke yen. Produk Jepang juga menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri sehingga daya saing ekspornya dapat melemah.

Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada impor dapat memperoleh keuntungan.

Yen yang lebih kuat menurunkan biaya pembelian minyak, gas, pangan, dan bahan baku dari luar negeri. Maskapai penerbangan, perusahaan ritel, dan industri yang memiliki biaya besar dalam dolar berpeluang terbantu oleh penguatan mata uang Jepang.

Tekanan tidak hanya berpotensi terjadi di bursa Jepang. Jika pembongkaran carry trade meluas, investor dapat menjual saham di AS, Eropa, dan negara berkembang untuk mendapatkan yen.

Kondisi serupa pernah terlihat pada Agustus 2024 ketika penguatan yen dan perubahan arah kebijakan BOJ memicu penjualan saham global, meskipun volatilitas kemudian mereda.

Pasar obligasi juga menghadapi tekanan dari dua arah.

Pertama, Jepang membutuhkan dolar untuk membeli yen sehingga berpotensi menjual sebagian kepemilikan obligasi pemerintah AS atau Treasury.

Kedua, investor carry trade dapat melepas obligasi luar negeri untuk mendapatkan yen dan melunasi pinjaman. Penjualan tersebut dapat menurunkan harga obligasi dan mendorong yield global naik.

Risiko tersebut berusaha dibatasi melalui FIMA Repo Facility milik The Fed.

Melalui fasilitas ini, Jepang dapat menjaminkan Treasury untuk mendapatkan dolar sementara tanpa menjual obligasi AS langsung ke pasar. Namun, jika intervensi terus dilakukan dan investor Jepang mulai membawa pulang dana dari luar negeri, permintaan terhadap Treasury serta obligasi negara lain tetap berisiko berkurang.

Tekanan pada pasar obligasi AS terlihat ketika Jepang dan AS melakukan intervensi.

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik dari 4,622% pada Rabu (29/7/2026) menjadi 4,663% pada Kamis, ketika Jepang mulai membeli yen. Yield tersebut kemudian melonjak ke 4,745% pada Jumat saat AS ikut melakukan intervensi.

Kenaikan juga terjadi pada Treasury tenor 30 tahun. Yield-nya meningkat dari 5,143% pada Rabu menjadi 5,207% pada Kamis dan kembali naik menjadi 5,275% pada Jumat.

Dalam dua hari, yield Treasury 10 tahun melonjak 12,3 basis poin, sedangkan tenor 30 tahun naik 13,2 basis poin. Posisi Jumat menjadi level tertinggi kedua tenor tersebut sepanjang 2026.

Meskipun, kenaikan yield ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh intervensi yen. Pasar juga sedang memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, risiko inflasi akibat harga energi, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular