Dolar Ditendang di Mana-Mana: Rupiah, Won-Yen Perkasa, Ringgit Nangis
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia membuka perdagangan awal pekan dengan performa positif. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) membuat mayoritas mata uang kawasan mampu menguat pada perdagangan Senin (3/8/2026).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak delapan mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara satu mata uang melemah dan satu lainnya stagnan.
Rupiah ikut bergerak positif. Mata uang Garuda menguat 0,06% ke posisi Rp17.980/US$. Penguatan ini membawa rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000/US$.
Namun demikian, penguatan paling tajam masih dicatatkan oleh won Korea Selatan. Won melesat 0,90% ke posisi KRW1.429/US$, menjadi mata uang terbaik Asia pada pagi ini.
Yen Jepang juga menguat signifikan, yakni 0,65% ke posisi JPY156,54/US$. Penguatan yen terjadi ketika pasar masih mencermati potensi intervensi lanjutan dari otoritas Jepang serta bantuan dari AS.
Intervensi tersebut terjadi setelah yen sebelumnya berada di sekitar level terlemah dalam 40 tahun.
Peso Filipina turut menguat 0,30% ke posisi PHP61,030/US$, disusul baht Thailand yang naik 0,24% ke THB33,32/US$.
Dolar Singapura menguat 0,08%. dolar Taiwan naik 0,04%, sementara dong Vietnam menguat tipis 0,01% ke VND26.289/US$.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah. Ringgit turun 0,05% ke posisi MYR 4,085/US$. Adapun yuan China stagnan di posisi CNY 6,7509/US$.
Penguatan mayoritas mata uang Asia pagi ini terjadi seiring melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada waktu yang sama terpantau turun 0,21% ke posisi 99,707.
Dolar AS kembali berada di bawah tekanan setelah melemah lebih dari 1,5% pada pekan lalu. Tekanan terhadap greenback ikut dipicu oleh aksi beli yen, yang dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian utama pasar valuta asing.
Selain faktor yen, penurunan harga minyak juga ikut menekan dolar AS. Harga minyak dunia melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah membatalkan serangan terhadap Iran dan pembicaraan antara kedua pihak akan berlangsung pada Senin.
Penurunan harga minyak meredakan sebagian kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat tekanan terhadap dolar AS bertambah, sekaligus memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat.
Namun, pasar belum sepenuhnya lepas dari kewaspadaan. Fokus investor pekan ini akan tertuju pada data tenaga kerja AS, yakni nonfarm payrolls, yang akan dirilis Jumat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan The Federal Reserve/The Fed.
Analis OCBC menilai data ekonomi AS pekan ini akan sangat menentukan arah ekspektasi pasar terhadap The Fed.
"Pasar tenaga kerja yang masih tangguh atau tanda-tanda bahwa disinflasi mulai tertahan dapat meningkatkan tekanan terhadap The Fed untuk memperkuat kredibilitasnya dalam melawan inflasi," tulis analis OCBC, dikutip dari Reuters.
OCBC juga menilai data-data yang masuk sebelum rapat FOMC September akan menjadi sangat penting bagi arah kebijakan moneter AS.
"Dengan dua laporan inflasi dan dua laporan tenaga kerja yang akan dirilis sebelum rapat FOMC September, data yang masuk akan menjadi sangat penting, dimulai dari laporan payrolls pekan ini," tulis OCBC.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)