MARKET DATA

Miliarder Baru Bermunculan, Ternyata Bukan Lagi Karena Warisan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 August 2026 10:50
Ilustrasi Orang Terkaya. (Dok, Pixabay)
Foto: Ilustrasi Orang Terkaya. (Dok, Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika harga rumah semakin sulit dijangkau, biaya pendidikan terus bertambah, dan penghasilan terasa cepat habis untuk kebutuhan sehari-hari, kekayaan orang-orang super kaya atau yang biasa disebut sebagai miliarder, mudah mengundang pertanyaan.

Bagaimana seseorang dapat mengumpulkan kekayaan hingga ribuan triliun rupiah ketika banyak orang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar?

Kesenjangan tersebut membuat miliarder kerap dianggap sebagai bukti bahwa sistem ekonomi hanya menguntungkan kelompok tertentu. Mereka dituding memperoleh keuntungan dari monopoli, membayar pajak terlalu rendah, dan menggunakan kekayaannya untuk memengaruhi politik.

Namun, melansir analisis dari The Economist menunjukkan bahwa asal kekayaan para miliarder dunia justru sedang mengalami perubahan.

Kini, semakin banyak orang yang masuk kedalam kelompok superkaya setelah membangun perusahaan dan menjual barang atau jasa yang memang produknya digunakan oleh masyarakat, bukan karena menerima dari harta warisan ataupun mempunyai kedekatan khusus dengan sebuah pemerintahan.

Untuk pertama kalinya, sekitar separuh kekayaan miliarder dunia dinilai diperoleh secara relatif wajar. Porsi kekayaan yang berasal dari warisan, oligarki, dan sektor yang bergantung pada akses politik justru mulai menyusut.

Miliarder Menjadi Simbol Ketimpangan

Sentimen negatif terhadap miliarder meningkat setelah inflasi tinggi menekan taraf hidup masyarakat selama beberapa tahun terakhir.

Miliarder dianggap menggunakan kekuatan pasar untuk menaikkan harga berbagai kebutuhan, mulai dari rumah hingga bahan makanan. Keuntungan yang mereka peroleh kemudian dinilai tidak dikenakan pajak secara sebanding.

Politikus juga semakin sering menjadikan miliarder sebagai simbol sistem ekonomi yang tidak adil. Di Amerika Serikat (AS), ungkapan "setiap miliarder adalah kegagalan kebijakan" menjadi seruan yang umum digunakan kelompok kiri.

Menurut Andrew Hall dari Stanford University, email penggalangan dana Partai Demokrat tiga kali lebih sering menyebut miliarder dibandingkan pada 2024. Hampir seluruh penyebutan tersebut bernada negatif.

Penyebutan kata Penyebutan kata "miliarder" di Kongres Amerika Serikat semakin meningkat. Foto: The Economist

Kecurigaan terhadap kelompok superkaya memiliki dasar sejarah. Banyak kekayaan besar memang lahir dari lemahnya aturan persaingan, pengambilalihan aset negara, atau kedekatan dengan penguasa.

John D. Rockefeller membangun Standard Oil ketika aturan persaingan usaha AS masih lemah. Setelah Uni Soviet runtuh, sejumlah oligarki Rusia juga memperoleh aset negara dalam kondisi politik dan ekonomi yang kacau.

Namun, tidak semua miliarder mendapatkan kekayaan melalui cara tersebut. Oprah Winfrey memiliki kekayaan sekitar US$3,4 miliar karena jutaan orang ingin menonton dan mendengarkannya. Tadashi Yanai menjadi salah satu orang terkaya dunia setelah mengembangkan Fast Retailing, perusahaan induk Uniqlo.

Keduanya menjadi kaya karena mampu menarik konsumen dan membangun usaha yang bersaing dengan perusahaan lain.

Separuh Kekayaan Miliarder Dinilai Diperoleh Secara Wajar

Kumupulan data yang diperoleh oleh The Economist, sekitar 7.000 miliarder selama 25 tahun terakhir untuk melihat perubahan sumber kekayaan mereka. Data tersebut berasal dari Forbes, lembaga riset Hurun, dan yayasan asal Swedia, Gapminder.

Kekayaan dikategorikan sebagai "tidak kompetitif" apabila sebagian besar berasal dari sektor seperti perjudian, konstruksi, pertahanan, dan bahan mentah. Sektor-sektor tersebut dinilai lebih bergantung pada izin, kontrak, atau hubungan dengan pemerintah.

Kekayaan dari warisan juga dimasukkan ke kelompok ini. Para pewaris belum tentu melanggar hukum atau merugikan konsumen, tetapi mereka memperoleh kekayaan sangat besar karena lahir atau menikah dengan anggota keluarga tertentu.

Dari 2001 hingga 2014, porsi kekayaan tidak kompetitif sempat meningkat. Arah pergerakannya kemudian berubah.

Dalam satu dekade terakhir, porsi kekayaan milik pengusaha mandiri di sektor kompetitif melonjak ke level tertinggi sepanjang pencatatan. Untuk pertama kalinya, sekitar 50% kekayaan miliarder dunia dinilai diperoleh secara relatif wajar.

Total kekayaan yang berasal dari sektor tidak kompetitif juga mulai menurun sejak 2021.

Porsi kekayaan miliarder dunia yang berasal dari kegiatan kompetitif terus meningkat.Porsi kekayaan miliarder dunia yang berasal dari kegiatan kompetitif terus meningkat. Foto: The Economist

Oligarki dan Kekayaan Warisan Mulai Menyusut

Penurunan terlihat pada kelompok oligarki yang muncul setelah runtuhnya Uni Soviet. Total kekayaan mereka pernah mencapai sekitar US$500 miliar pada 2008, tetapi kini berada di kisaran US$400 miliar.

Roman Abramovich, pengusaha Rusia dan mantan pemilik klub sepak bola Chelsea, diperkirakan kehilangan sekitar US$5 miliar sejak 2021. Kekayaannya tertekan setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang dinilai dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Miliarder properti juga mengalami tekanan. Total kekayaan mereka turun sekitar sepertiga sejak 2018 akibat kenaikan suku bunga, krisis properti China, dan berkurangnya kebutuhan ruang kantor setelah pandemi Covid-19.

Wang Jianlin, pendiri Dalian Wanda Group, kini memiliki kekayaan sekitar US$4,4 miliar. Nilai tersebut jauh di bawah kekayaannya pada 2017 yang mencapai US$31 miliar.

Kekayaan dari warisan masih tetap besar. Keluarga Sam Walton, pendiri Walmart yang meninggal pada 1992, diperkirakan memiliki total kekayaan sekitar US$500 miliar.

Namun, dominasi kekayaan lama terus menurun. Pada awal 2000-an, hampir separuh kekayaan miliarder dunia berasal dari warisan. Kini porsinya tinggal sekitar seperempat.

Miliarder Baru Tidak Hanya Lahir dari Teknologi

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan memang memperbesar kekayaan sejumlah para pengusaha. Namun, kenaikan jumlah orang super kaya ternyata tidak hanya berasal dari sektor teknologi.

Kekayaan baru juga bermunculan dari industri keuangan, makanan, manufaktur, barang konsumsi, dan ritel.

Dalam satu dekade terakhir, kekayaan Bernard Arnault bertambah sekitar US$100 miliar setelah membangun LVMH menjadi raksasa barang mewah dunia.

Robin Zeng, yang mendirikan produsen baterai China CATL sekitar 15 tahun lalu, kini memiliki kekayaan sekitar US$60 miliar.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan miliarder mandiri tidak hanya menjadi cerita tentang perusahaan teknologi di Silicon Valley.

Tiga Mesin Pencetak Miliarder Baru

Perubahan sumber kekayaan miliarder didorong oleh tiga faktor utama.

Pertama, kenaikan pasar saham global selama lebih dari satu dekade. Saham global memberikan imbal hasil rata-rata lebih dari 13% per tahun.

Kondisi tersebut memperbesar kekayaan pendiri perusahaan karena sebagian besar aset mereka tersimpan dalam bentuk saham. Suku bunga rendah pada awal periode itu juga mendorong investor membeli aset berisiko.

Kedua, pertumbuhan ekonomi China. Dalam satu dekade, jumlah miliarder di negara tersebut meningkat dari sekitar 200 menjadi 800 orang.

Meski pertumbuhan ekonomi China melambat, semakin banyak pengusaha telah berada dekat dengan batas kekayaan US$1 miliar. Pertumbuhan yang lebih rendah pun cukup membawa mereka masuk ke kelompok miliarder.

Ketiga, perkembangan internet berbasis telepon seluler sejak pertengahan 2010-an. Teknologi tersebut membuat pembayaran dan komunikasi semakin mudah sekaligus memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen kapan saja.

Berbagai perusahaan di bidang video, streaming, pembayaran, transportasi, dan pengantaran barang kemudian dapat berkembang dengan sangat cepat. Para pendirinya pun mampu mengumpulkan kekayaan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan generasi sebelumnya.

Perdebatan Pajak Kekayaan Menjadi Lebih Rumit

Meningkatnya jumlah miliarder mandiri tidak menghapus seluruh persoalan. Kelompok superkaya tetap dapat menggunakan uangnya untuk memperoleh pengaruh politik yang terlalu besar.

Namun, masalah tersebut tidak selalu harus diselesaikan melalui pajak kekayaan. Pemerintah juga dapat memperketat aturan sumbangan politik dan membatasi penggunaan uang dalam pemilu.

Perubahan sumber kekayaan membuat pandangan bahwa seluruh harta miliarder tidak pernah benar-benar diperoleh melalui usaha semakin sulit dipertahankan.

Mengenakan pajak tinggi kepada oligarki yang kaya karena kedekatan dengan pemerintah mungkin mudah diterima. Perlakuan yang sama menjadi lebih sulit dibenarkan apabila diterapkan kepada atlet, pekerja hiburan, atau pendiri perusahaan yang membangun bisnis melalui persaingan terbuka.

Perusahaan yang mereka bangun juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas. Pajak yang terlalu tinggi dapat mendorong pendiri perusahaan pindah ke negara lain, mengurangi investasi, atau menahan ekspansi bisnis.

Miliarder mungkin semakin tidak disukai. Namun, ketika semakin banyak kekayaan berasal dari inovasi dan persaingan, pemerintah tidak dapat memperlakukan oligarki, pewaris, atlet, dan pendiri perusahaan seolah-olah mereka memperoleh kekayaan dengan cara yang sama.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular