MARKET DATA
Newsletter

Ekonomi China Mulai Goyang, Awas IHSG-Rupiah Terancam Ikut Terguncang!

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
16 July 2026 06:20
Terungkap, Rahasia Orang China Sukses Bisnis & Kuasai Dunia
Foto: Infografis/ Terungkap, Rahasia Orang China Sukses Bisnis & Kuasai Dunia/ Ilham Restu

Pada perdagangan hari ini, pelaku pasar global dan domestik tengah mencerna rilis serangkaian indikator makroekonomi esensial yang dipublikasikan pada hari Rabu kemarin.

Terdapat pergeseran sentimen yang signifikan setelah data menunjukkan perlambatan tak terduga pada laju pertumbuhan ekonomi China, yang berpadu dengan mendinginnya inflasi di tingkat produsen Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia juga merilis data utang luar negeri yang memberikan kepastian terkait stabilitas makroekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Memasuki perdagangan hari ini, fokus para investor akan langsung tertuju pada rilis data konsumsi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat, serta menanti data inflasi dari kawasan Eropa pada penutupan pekan besok.

Berikut adalah analisis komprehensif mengenai realisasi data ekonomi terbaru dari China, AS, dan Indonesia, serta jadwal rilis indikator makroekonomi krusial yang patut diwaspadai oleh pelaku pasar pada hari ini dan besok.

Perkembangan Perang

Amerika Serikat (AS) menyerang sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran pada Rabu setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai balasan, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi regional dan menyatakan tengah menghadapi "perang eksistensial" melawan AS.

Eskalasi terbaru terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata yang rapuh runtuh.

Permusuhan meningkat sejak Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu malam. Operasi militer yang berlangsung membuat kapal-kapal tidak dapat melintasi jalur yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Harga minyak Brent pun ditutup di level tertinggi dalam satu bulan, yakni US$84,95 per barel.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb. Menurut militer AS, serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Sementara itu, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya sedang menghadapi "perang eksistensial" dengan Amerika dan menyatakan keamanan Iran bergantung pada pengaturan di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik, jembatan, hingga fasilitas energi Iran jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Iran juga mengancam menutup jalur ekspor energi lain, termasuk memberi sinyal kemungkinan mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb melalui kelompok Houthi di Yaman.

Iran menegaskan saat ini tidak memiliki rencana melanjutkan perundingan dan memilih fokus pada pertahanan, meski tetap membuka peluang diplomasi di masa mendatang. Konflik yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi global, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dunia.

Testimoni Warsh


Chairman The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memberikan pandangan di hadapan Komite Perbankan Senat, menghadapi berbagai pertanyaan mengenai kondisi perekonomian dan bagaimana sejumlah faktor dapat memengaruhi arah suku bunga.

Pandangan tersebut merupakan bagian dari kewajiban yang diamanatkan Kongres bagi pimpinan bank sentral untuk menyampaikan laporan di Capitol Hill. Sehari sebelumnya, Warsh juga memberikan kesaksian di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS.

Dalam keterangannya, ia kembali menegaskan komitmen The Fed untuk memerangi inflasi, meski hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

FILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File PhotoFILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Sejumlah anggota parlemen berupaya memancing Warsh agar berkomentar mengenai isu fiskal dan politik. Namun, ia sebagian besar menghindari topik tersebut dan menegaskan pentingnya The Fed tetap berfokus pada mandat serta tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya.

Warsh menegaskan bank sentral tetap fokus mengembalikan inflasi ke target 2%, namun belum memberikan sinyal kapan suku bunga akan mulai dipangkas.

Warsh mengatakan tarif impor, konflik geopolitik, dan kebijakan pemerintah memang dapat memengaruhi harga, tetapi hal tersebut berada di luar kendali The Fed. Menurutnya, tugas bank sentral adalah memastikan kenaikan harga sementara tidak berubah menjadi inflasi yang berkepanjangan.

"Inflasi adalah sebuah pilihan. Pembuat kebijakan moneter harus memilih harga yang lebih rendah," kata Warsh, dikutip dari CNBC International.

Ia juga menegaskan keputusan suku bunga akan tetap didasarkan pada data ekonomi, bukan tekanan politik maupun gejolak pasar. Warsh menambahkan independensi The Fed sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung lapangan kerja.

Selain itu, Warsh menyoroti pesatnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), dengan belanja peralatan teknologi dan perangkat lunak naik hampir 25% dalam setahun terakhir, serta menilai pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi yang kuat.

Ekonomi China Kuartal II-2026 Melambat

Pada Rabu kemarin, Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut hanya tumbuh sebesar 4,3% secara tahunan pada Kuartal II-2026.

Pertumbuhan pada kuartal II-2026 menandai perlambatan yang cukup tajam dari pertumbuhan 5,0% yang dicatatkan pada kuartal sebelumnya, sekaligus meleset dari ekspektasi konsensus pasar yang memproyeksikan angka 4,5%.

Laju pertumbuhan kuartal kedua ini merupakan yang terlemah sejak Kuartal IV-2022. Tersendatnya roda ekonomi China secara mayoritas diakibatkan oleh lemahnya permintaan domestik, tertahannya investasi sektor swasta, serta krisis berkepanjangan di sektor properti yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Faktor-faktor penekan tersebut menutupi kinerja positif dari ketangguhan sektor ekspor, terutama yang berkaitan dengan AI-related exports.

Rilis terbaru ini membawa PDB China jatuh di bawah batas bawah rentang target pertumbuhan tahunan pemerintah Beijing yang dipatok pada 4,5%-5,0%.

Hal ini mempertegas bahwa pemulihan ekonomi berjalan tidak merata dan semakin memperkuat ekspektasi pasar akan adanya intervensi stimulus lanjutan dari bank sentral maupun otoritas fiskal setempat.

Secara kumulatif, PDB China untuk paruh pertama tahun 2026 tercatat tumbuh 4,7%.

Wakil Kepala NBS, Mao Shengyong, dalam pernyataan resminya mencatat bahwa perekonomian masih berada "dalam batas yang wajar" dan menunjukkan "ketahanan yang kuat," ditopang oleh manufaktur peralatan dan teknologi tinggi, sementara sektor jasa terus membukukan pertumbuhan yang solid di tengah tingginya ketidakpastian eksternal.

Perlambatan ini menjadi peringatan bahaya buat ekonomi Indonesia yang banyak menggantungkan perdagangan hingga investasi ke China. Perlambatan bisa berdampak tiga hal ke Indonesia:

1. Ekspor komoditas berisiko melemah

China masih menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan porsi 25,9%. Jika ekonomi China melambat, permintaan batu bara, baja, logam, dan nikel berpotensi turun sehingga menekan harga komoditas.

2. Investasi China lebih selektif
China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Pelemahan ekonomi dapat membuat investasi pada smelter, baterai, kendaraan listrik, dan hilirisasi menjadi lebih hati-hati.

3. Serbuan impor China berpotensi meningkat
Melemahnya permintaan domestik China bisa mendorong ekspor barang ke Indonesia. Konsumen diuntungkan lewat harga lebih murah, tetapi industri lokal menghadapi persaingan yang lebih ketat.

Konsumen China Masih Ogah Belanja

Di sisi lain, data konsumsi domestik China memberikan sedikit kejutan positif. Penjualan ritel China dilaporkan tumbuh 1,0% yoy pada bulan Juni 2026, berbalik arah (rebound) dari kontraksi 0,6% pada bulan Mei, dan berhasil mematahkan proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan penurunan lanjutan sebesar 0,1%.

Rincian sektoral menunjukkan pemulihan ini dimotori oleh lonjakan penjualan peralatan komunikasi yang meroket 16,5%, penjualan kosmetik yang naik 12,6%, produk tembakau dan alkohol yang meningkat 12,1%, serta produk makanan yang naik 7,9%.

Kendati demikian, keengganan konsumen untuk melakukan belanja barang bernilai tinggi masih sangat terasa.

Penjualan otomotif anjlok sedalam 16,1%, diikuti oleh penurunan pada penjualan peralatan rumah tangga (-8,7%), material bangunan (-10,5%), furnitur (-6,6%), produk minyak bumi (-5,1%), serta perhiasan emas dan perak (-3,4%).

Berdasarkan segmennya, pendapatan sektor katering meningkat 1,2%, sementara penjualan ritel barang naik 0,9%. Jika komponen otomotif dikecualikan, penjualan ritel sejatinya mencatatkan kenaikan yang cukup impresif sebesar 3,0%.

Secara bulanan (month-on-month), penjualan ritel naik 0,4%, membaik dari penurunan 0,2% pada periode sebelumnya. Sepanjang semester pertama tahun ini, total penjualan ritel China membukukan pertumbuhan 1,3%.

Realisasi PPI Amerika Serikat Juni 2026

Beralih ke Amerika Serikat, tekanan harga di tingkat pabrik atau produsen dilaporkan mulai mereda. Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada  Juni 2026 tercatat naik 5,5% yoy.

Angka ini merupakan laju terendah dalam tiga bulan terakhir, berada jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 6,2%, dan melandai dari revisi ke bawah angka bulan Mei yang berada di posisi 6,0% (direvisi dari sebelumnya 6,5%).

Mendinginnya PPI ini memperkuat narasi disinflasi di Amerika Serikat, menyusul rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) sebelumnya yang juga anjlok ke 3,5% akibat normalisasi harga energi pasca gencatan senjata AS-Iran.

Sebagai konteks historis, perubahan harga produsen di AS memiliki rata-rata 3,08% sejak tahun 1950 hingga 2026, dengan rekor tertinggi mencapai 19,57% pada November 1974 dan rekor terendah -6,86% pada Juli 2009.

Data PPI yang melunak ini memberikan ruang bernapas yang lebih luas bagi The Federal Reserve dalam mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga acuannya di sisa tahun ini.

Realisasi SULNI Mei 2026

Bank Indonesia (BI) kemarin melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 tetap dalam kondisi terkendali di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 444,4 miliar atau tumbuh 2,1% secara tahunan (yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 2,0% (yoy).

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, sementara ULN swasta masih mencatat kontraksi meski mulai melandai.

Secara lebih rinci, posisi ULN pemerintah pada Mei 2026 mencapai US$ 217,3 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Perkembangan ini didorong oleh masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan masih terjaganya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Pemanfaatan ULN pemerintah terus diarahkan untuk mendukung sektor-sektor produktif, dengan porsi terbesar digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22%, diikuti administrasi pemerintahan dan pertahanan sebesar 20,6%, jasa pendidikan 16,2%, dan konstruksi 11,5%.

Sementara itu, kenaikan ULN Bank Indonesia berasal dari meningkatnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market.

Hasil Rapat Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas pada Rabu (15/7/2026) membahas Koperasi Desa Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Istana Negara.

Koperasi Desa Merah Putih akan digunakan sebagai infrastruktur yang digunakan untuk penyaluran bantuan masyarakat, bantuan sosial, kemudian barang-barang subsidi.
Koperasi Desa Merah Putih juga akan menjadi offtaker atau pembeli dari komoditas yang dihasilkan masyarakat setempat. Khususnya ketika harga komoditas tersebut tengah anjlok seperti gabah, jagung, dan lain di bawah harga yang sudah ditentukan pemerintah.

Sementara terkait program MBG, dalam rapat disepakati bahwa akan menyelesaikan berbagai persoalan penyalahgunaan dan hambatan yang terjadi dalam kurun waktu 1 bulan.

Notaris dan PT Lebih Mahal di Jakarta

Pemerintah merevisi tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Kementerian Hukum melalui PP Nomor 30 Tahun 2026, yang menggantikan sebagian ketentuan dalam PP Nomor 45 Tahun 2024. Aturan yang diteken Presiden Prabowo Subianto pada 2 Juli 2026 ini mulai berlaku 1 Agustus 2026.

Salah satu perubahan terbesar adalah tarif pendirian Perseroan Terbatas (PT) dengan modal di atas Rp5 miliar, yang naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp5 juta. Sementara itu, tarif pendirian PT dengan modal hingga Rp25 juta tetap Rp300 ribu, dan modal Rp25 juta-Rp1 miliar tetap Rp600 ribu.

Selain itu, biaya perubahan anggaran dasar tanpa perubahan nama naik dari Rp1 juta menjadi Rp1,1 juta, sedangkan yang disertai perubahan nama naik dari Rp1,1 juta menjadi Rp1,2 juta. Tarif pemberitahuan perubahan anggaran dasar dan data perseroan juga disederhanakan menjadi Rp250 ribu untuk seluruh kategori.

Dalam aturan ini, notaris yang pindah wilayah jabatan ke Jakarta juga akan dikenakan tarif Rp500 juta, tertinggi dibanding daerah lain. Selain itu, biaya pengangkatan notaris baru naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp5 juta, sedangkan perpanjangan masa jabatan notaris usia 67-70 tahun dikenakan tarif Rp40 juta per tahun. Tarif beberapa layanan administrasi lainnya tetap tidak berubah.

OJK Siapkan Bursa Mineral

Pemerintah menargetkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Bursa ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat perdagangan mineral dunia.

Bursa ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi harga, efisiensi perdagangan, akses pembiayaan, serta mendukung hilirisasi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan pemerintah memberikan mandat baru kepada OJK terkait pembentukan bursa mineral. Menurutnya bursa mineral akan menjadi satu ekosistem baru yang membutuhkan dukungan semua pemangku kepentingan.

"Ini sangat dahsyat potensinya, Indonesia adalah salah satu pusat (mineral dan komoditas) dan strategis, segala kemampuan kita sangat luar biasa," ungkapnya, dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026, Rabu (15/7/2026).

"Dengan OJK mengawasi, komoditas ini tentu bisa menjadi peluang semua, termasuk investor di Indonesia. Ini 1 Januari 2027, sudah harus operasi," tambah Friderica.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun mengatakan pembentukan bursa mineral dan komoditas dilakukan untuk mengukur tingkat harga yang digerakkan oleh pasar.

Selama ini, mineral dan komoditas Indonesia menurutnya under invoicing bukan hanya harga, tapi juga volume. Padahal, Indonesia merupakan negara penghasil mineral di dunia, bahkan Batu Bara mencakup 43% dalam perdagangan internasional.


Misbakhun menegaskan, Indonesia memiliki kekayaan kelapa sawit, emas, perak, tembaga, namun masih under invoicing, sehingga pemerintah ingin memperkuat tata kelola. "Selama ini under invoicing bukan cuma harga, tapi volume sehingga penerimaan pajak kurang, retribusi juga berkurang. Ini yang akan diperbaiki, harus direspons karena tata kelola," ujarnya.


Kehadiran bursa mineral juga merupakan salah satu respons terhadap peta geopolitik dan landsacpe keuangan yang mulai berubah.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat menyampaikan pemaparan dalam Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Rilis Penjualan Ritel Amerika Serikat

Pada perdagangan hari ini, Kamis (16/7/2026), fokus utama pelaku pasar global akan berpusat pada rilis data penjualan ritel Amerika Serikat untuk periode Juni 2026 yang dijadwalkan pada sesi perdagangan malam waktu Indonesia.

Data ini menjadi krusial untuk mengukur daya tahan belanja konsumen AS, yang merupakan tulang punggung utama perekonomian negara tersebut.

Pada rilis sebelumnya di bulan Mei 2026, penjualan ritel AS mencatatkan lonjakan tajam sebesar 6,9% yoy, sebuah akselerasi signifikan dari pertumbuhan 4,8% di bulan April, dan merupakan level tertinggi sejak Januari 2023.

Namun, pasar menyadari bahwa lonjakan bulan Mei lalu secara artifisial didorong oleh meroketnya penerimaan stasiun pengisian bahan bakar minyak sebesar 26,5% akibat krisis energi di Timur Tengah.

Dengan harga bahan bakar yang mulai ternormalisasi pada bulan Juni menyusul gencatan senjata, konsensus analis memperkirakan penjualan ritel AS hari ini akan mencatatkan moderasi pertumbuhan di level 6,7%.

Jobless Claims Pekan Kedua Juli 2026

Pasar pada hari ini juga akan mencermati rilis data klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims) Amerika Serikat untuk pekan yang berakhir pada 11 Juli 2026.

Pada rilis minggu sebelumnya untuk pekan yang berakhir 4 Juli, jumlah klaim pengangguran turun sebanyak 2.000 menjadi 215.000 klaim, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan menjadi 218.000 klaim.

Sementara itu, continuing claims naik 8.000 menjadi 1.814.000 pada pekan terakhir bulan Juni. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir Maret, meskipun masih di bawah ekspektasi 1.820.000.

Meski level tersebut sedikit lebih tinggi dari awal kuartal kedua, rangkaian data ini tetap mendukung pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih berada dalam tren pemutusan hubungan kerja yang rendah.

Di sisi lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai federal AS terpantau turun sebanyak 40 menjadi 404 klaim, sebuah metrik yang tengah diawasi ketat seiring dengan upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah aparatur negara.

Untuk rilis hari ini, konsensus pasar memperkirakan klaim pengangguran awal akan berada di kisaran 217.000 klaim.

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features