Ekonomi China Mulai Goyang, Awas IHSG-Rupiah Terancam Ikut Terguncang!
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Indeks menguat didorong kenaikan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, setelah pelaku pasar mencermati serangkaian data yang menunjukkan inflasi terus melandai.
Indeks S&P 500 naik 0,38% ke level 7.572,40, sementara Nasdaq Composite menguat 0,62% menjadi 26.269,23. Adapun Dow Jones Industrial Average menanjak 150,37 poin atau 0,29% ke posisi 52.658,64.
Investor tampak mengurangi eksposur pada saham-saham utama sektor semikonduktor dan mengalihkan dana ke sejumlah saham raksasa teknologi.
Amazon dan Alphabet masing-masing melonjak sekitar 3%, sementara Microsoft naik hampir 3%. Apple menguat 4% dan mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa.
Di sisi lain, saham-saham produsen chip bergerak melemah. Micron Technology anjlok 8%, Lam Research dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing turun 3%, sedangkan Intel merosot lebih dari 4%. ETF sektor semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) juga melemah lebih dari 1%.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi setelah Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan dalam pidatonya pada Rabu bahwa ada alasan yang menggembirakan untuk memperkirakan inflasi telah mencapai puncaknya dan akan terus menurun secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang.
Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) secara tak terduga turun 0,3% pada Juni dibanding bulan sebelumnya.
Padahal para ekonom memperkirakan tidak akan berubah. Secara tahunan, inflasi produsen tercatat sebesar 5,5%.
"Saya belum yakin data ini cukup untuk menghilangkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Jika target inflasi benar-benar 2%, maka angka-angka saat ini masih jauh di atas target tersebut," kata Melissa Brown, Global Head of Investment Decision Research di SimCorp, dikutip dari CNBC International.
"Pasar belakangan ini mungkin bereaksi berlebihan terhadap satu berita, baik positif maupun negatif."imbuhnya.
Laporan PPI tersebut menyusul data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis Selasa dan lebih rendah dari perkiraan.
Data tersebut memperkuat harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif tahun ini, sehingga pelaku pasar mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Meski probabilitas kenaikan suku bunga pada rapat The Fed bulan Juli telah menurun dalam beberapa hari terakhir, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga akan kembali dinaikkan pada akhir tahun.
Saat ini, mereka memperkirakan hampir 60% peluang bahwa suku bunga akan lebih tinggi 25 hingga 50 basis poin setelah rapat kebijakan pada Oktober.
(gls/gls) Addsource on Google