Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu membalikkan keadaan pada perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke posisi 7.093,81 pada perdagangan Senin kemarin. Namun, penutupan ini menunjukkan perbaikan karena pada sesi I IHSG sempat terperosok nyaris 2% hingga menyentuh level terendah hari itu di 6.945,5.
Sebanyak 467 saham turun, 258 naik, dan 233 tidak bergerak. Nilai transaksi IHSGÂ kemarin hanya mencapai Rp 9,89 triliun yang melibatkan 15,89 miliar saham dalam 1,19 juta kali transaksi.
Adapun, investor asing kembali melakukan aksi jual dengan total outflow sebesar Rp686,13 miliar.Â
Sementara itu, sejumlah saham konglomerat mencoba mengangkat IHSG. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang naik 6,62% menyumbang 16,28 indeks poin.Selain itu emiten milik Toto Sugiri berkontribusi 9,42 indeks poin dan emiten milik Bakrie, Bumi Resources Minerals (BRMS) berkontribusi 7,47 poin.
Kinerja IHSG pada perdagangan kemarin bisa dibilang cukup baik bila dibandingkan dengan bursa di kawasan Asia. Nikkei di Jepang turun 2,79%, Kospi di Korea -2,97%, dan Hang Seng di Hong Kong -0,81%.
Beralih ke pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin kemarin ditutup melemah.
Pada sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah memang sudah terlihat sejak awal sesi. Rupiah dibuka melemah 0,06% di level Rp16.970/US$, lalu pelemahannya terus bertambah hingga penutupan.
Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di kawasan Teluk yang berpotensi berlangsung lebih lama. Situasi ini telah mendorong harga minyak naik dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi serta risiko perlambatan ekonomi global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pasar.
Menurutnya, instrumen baru ini diharapkan dapat menambah alternatif bagi perbankan dalam mengelola likuiditas valas sekaligus mendukung pendalaman pasar keuangan domestik.
"Sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut," kata Erwin.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street mayoritas tertekan oleh kenaikan lanjutan harga minyak dan penurunan tajam sektor teknologi, sementara pelaku pasar mengabaikan komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait inflasi.
Indeks S&P turun 0,39%, mencatat penurunan tiga sesi berturut-turut dan ditutup di 6.343,72. Posisi ini sekitar 9% di bawah level penutupan tertingginya. Penurunan dipimpin oleh sektor teknologi yang melemah lebih dari 1%. Sebaliknya, sektor keuangan dan utilitas justru mencatat kenaikan.
Indeks Nasdaq Composite melemah 0,73% ke 20.794,64. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 49,50 poin atau 0,11% ke 45.216,14.
Indeks volatilitas CBOE Volatility Index, yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street, sempat menembus level 30 selama sesi perdagangan.
Harga minyak AS juga naik di awal pekan, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 3,25% ke US$102,88 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 19 Juli 2022.
Sementara itu, Brent crude naik tipis 0,19% ke US$112,78 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan lonjakan sekitar 55%.
Ketua The Fed, Powell, mengatakan bahwa meskipun harga energi meningkat, ekspektasi inflasi masih terjaga dengan baik dalam jangka menengah-panjang.
Dia juga menyebut bank sentral mungkin pada akhirnya akan menghadapi pertanyaan soal langkah selanjutnya, namun menegaskan bahwa kondisi tersebut belum dihadapi saat ini karena dampak ekonominya belum jelas.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US 10-year Treasury) turun setelah pernyataan tersebut. Yield acuan terakhir turun 9 basis poin menjadi 4,35%.
Sementara itu, Presiden Donald Trump memberikan sedikit harapan kepada investor bahwa perang dengan Iran mungkin segera berakhir.
Dalam unggahan di Truth Social pada Senin, ia menyebut AS sedang dalam diskusi serius dengan rezim baru yang lebih rasional untuk mengakhiri operasi militer di Iran, serta menambahkan bahwa kemajuan besar telah dicapai.
Namun, Trump juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, maka AS akan mengakhiri 'kehadiran indah' di Iran dengan menghancurkan seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (serta mungkin fasilitas desalinasi), yang selama ini sengaja belum disentuh.
Pernyataan ini muncul setelah Trump pada Minggu mengatakan bahwa Teheran telah menerima sebagian besar dari rencana 15 poin AS untuk mengakhiri perang dan menyetujui tambahan 20 kapal minyak untuk melintasi selat tersebut.
"Investor tampaknya sudah terbiasa dengan anomali baru, di mana pasar cenderung melemah pada Kamis dan Jumat, dan menguat pada Senin dan Selasa," kata David Wagner, kepala ekuitas di Aptus Capital Advisors, dikutip dari CNBC International.
Wagner mencatat bahwa dalam 90 hari perdagangan terakhir, imbal hasil kumulatif pasar antara Kamis-Jumat tertinggal sekitar 7% dibandingkan periode Senin-Rabu, dengan hampir seluruh perbedaan terjadi sejak 28 Februari saat perang pecah.
"Ini seperti persiapan menghadapi berita buruk menjelang akhir pekan... investor melakukan lindung nilai dan mengurangi risiko, lalu kembali masuk di awal minggu. Hanya saja, pengurangan risiko ini sekarang terjadi lebih cepat dibanding beberapa minggu sebelumnya," ujarnya.
Wall Street baru saja melewati pekan yang negatif, dengan Dow dan Nasdaq masuk ke wilayah koreksi di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat merugikan ekonomi. Dow, Nasdaq, dan S&P 500 semuanya mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut.
Pasar akan tutup pada hari Jumat dalam rangka memperingati Good Friday, meskipun laporan tenaga kerja bulan Maret tetap dijadwalkan dirilis pada pagi hari tersebut.
Memasuki perdagangan hari ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari eksternal. Fokus utamanya datang dari perkembangan perang di Timur Tengah yang masih menekan harga energi, penguatan indeks dolar AS, hingga rilis data tenaga kerja dari Amerika Serikat (AS) dan Jepang.
Rangkaian sentimen ini penting dipantau karena akan sangat memengaruhi arah aset berisiko, nilai tukar, hingga ekspektasi suku bunga global. Di tengah perang yang belum mereda, lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas
Kondisi Terbaru perang di Timur Tengah
Pelaku pasar pada awal pekan ini akan lebih dulu mencermati perkembangan perang di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik yang telah memasuki pekan kelima masih menjadi sumber utama kegelisahan pasar global, terutama karena gangguan di Selat Hormuz belum sepenuhnya teratasi. Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin kembali memperingatkan Iran agar membuka jalur tersebut, di tengah ketidakpastian hasil pembicaraan diplomatik dan masih tingginya tensi militer.
Bagi pasar, perkembangan perang ini sangat penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur vital perdagangan energi dunia.
Gangguan yang berkepanjangan di kawasan itu terus memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah dan gas, terutama untuk Asia yang sangat bergantung pada arus energi dari Timur Tengah. Selama jalur ini belum benar-benar pulih, pasar akan terus memasukkan premi risiko yang tinggi ke harga energi.
Tekanan tersebut langsung tercermin pada harga minyak dunia. Pada perdagangan Senin (30/3/2026), harga Brent bergerak di kisaran US$114-116 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$100-102 per barel, menandakan volatilitas energi masih sangat tinggi. Kenaikan ini menunjukkan pasar masih melihat perang sebagai ancaman serius bagi pasokan global.
Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "sepenuhnya" menghancurkan pembangkit listrik Iran, sumur minyak, dan Pulau Kharg jika Selat Hormuz yang sangat strategis tidak segera dibuka kembali dan kesepakatan damai tidak segera tercapai.
"Amerika Serikat sedang dalam diskusi serius dengan rezim baru yang lebih rasional untuk mengakhiri operasi militer kami di Iran," kata Trump dalam unggahan di Truth Social.
Dia menambahkan jika kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, maka AS akan mengakhiri 'kehadiran indah' di Iran dengan meledakkan dan sepenuhnya menghancurkan seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin juga semua fasilitas desalinasi!), yang selama ini sengaja belum kami sentuh.
Pernyataan ini muncul saat konflik Iran memasuki minggu kelima dan pemerintahan Trump mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, pusat bahan bakar utama yang menjadi jantung industri minyak Iran.
Diperkirakan sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran melewati pulau tersebut sebelum tanker melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz. Pulau ini juga disebut memiliki kapasitas pemuatan sekitar 7 juta barel per hari.
Iran belum memberikan komentar atas pernyataan terbaru Trump. Sebelumnya pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dilaporkan menyebut proposal dalam rencana 15 poin dari AS sebagai "berlebihan dan tidak masuk akal". Para pemimpin Iran juga membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS.
Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut, dengan sejumlah insiden dilaporkan dalam beberapa minggu terakhir.
Trump pekan lalu mengatakan akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, yang membuat tenggat waktu bergeser hingga 6 April.
Harga minyak diperdagangkan lebih tinggi pada hari Senin, dengan patokan global Brent berada di jalur kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah.
Harga minyak AS juga naik di awal pekan, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 3,25% ke US$102,88 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 19 Juli 2022.
Sementara itu, Brent crude naik tipis 0,19% ke US$112,78 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan lonjakan sekitar 55%.
Kenaikan harga minyak ini penting dicermati karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi global, sekaligus mempersempit ruang pelonggaran suku bunga bank sentral. Bagi aset berisiko, lonjakan energi biasanya menjadi sentimen negatif karena meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya produksi, margin perusahaan, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Indeks dolar AS menguat, ruang penguatan rupiah makin sempit
Pasar juga akan mencermati pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang terus menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pada perdagangan Senin kemarin, DXY ditutup di 100,509 atau rekor tetringgi sejak Mei 2025.
Indeks kini berada di jalur penguatan bulanan terbesar sejak Juli 2025.
Penguatan dolar terjadi karena pasar kembali memburu aset aman setelah harapan berakhirnya perang di Timur Tengah dalam waktu dekat mulai memudar.
Meski Trump menyebut pemimpin baru Iran bersikap rasional, pasar tetap cemas karena pengerahan tambahan pasukan AS ke kawasan masih berlangsung, sementara Teheran juga menegaskan tidak akan menerima tekanan.
Bagi pasar negara berkembang, penguatan DXY menjadi sentimen yang sangat penting karena biasanya menekan mata uang lokal. Saat dolar menguat dan aset AS tetap menarik, arus dana global cenderung lebih selektif masuk ke emerging markets.
Artinya, ruang mata uang lain, termasuk rupiah, untuk menguat menjadi semakin terbatas, apalagi ketika tekanan eksternal juga datang dari lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.
Powell Sebut Inflasi AS Masih Terkendali
Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan The Fed belum perlu buru-buru bertindak meski perang Iran mendorong kenaikan harga energi.
Powell menyebut kebijakan saat ini "masih di posisi yang tepat" untuk wait and see, sambil memantau dampak konflik terhadap inflasi dan ekonomi.
Pernyataan ini meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga, yang sebelumnya sempat menguat.
Meski demikian, Powell mengakui ada "ketegangan" antara dua mandat The Fed: risiko pelemahan pasar tenaga kerja yang mendorong suku bunga rendah, versus tekanan inflasi yang justru mengarah sebaliknya.
Ia menegaskan ekspektasi inflasi masih "terjaga" untuk saat ini, meski dunia tengah menghadapi guncangan energi baru yang dampaknya belum pasti.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.
Data lowongan kerja AS
Pasar berikutnya akan menanti rilis data pembukaan lapangan kerja AS atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk periode Februari yang dijadwalkan terbit pada Selasa (31/3/2026). JOLTS merupakan salah satu indikator penting untuk membaca permintaan tenaga kerja di AS. Semakin tinggi jumlah lowongan kerja, semakin kuat gambaran pasar tenaga kerja, dan sebaliknya, pelemahan data ini bisa menjadi sinyal bahwa dunia usaha mulai menahan ekspansi.
Pada Januari, jumlah lowongan kerja tercatat mencapai 6,946 juta. Untuk Februari, konsensus pasar memperkirakan angkanya turun tipis ke sekitar 6,85 juta.
Penurunan lowongan kerja ini akan menjadi sinyal bahwa permintaan tenaga kerja dari dunia usaha mulai melandai.
Jika tren ini berlanjut, pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda menuju keseimbangan baru setelah sempat sangat ketat pada periode pascapandemi. Kondisi tersebut dapat membantu meredakan tekanan inflasi dari sisi upah dan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Federal Reserve atau The Fed dalam mengevaluasi arah kebijakan suku bunganya.
Tingkat pengangguran Jepang
Dari Asia, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data tingkat pengangguran Jepang untuk periode Februari yang dijadwalkan diumumkan pada hari ini, Selasa (31/3/2026).
Data ini penting karena kondisi pasar tenaga kerja menjadi salah satu petunjuk utama bagi arah konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang penting ekonomi Jepang. Selain itu, pergerakan pengangguran juga relevan untuk membaca ruang gerak kebijakan moneter Bank of Japan di tengah ketidakpastian global.
Sebagai pembanding, pada periode sebelumnya atau Januari 2026, tingkat pengangguran Jepang tercatat sebesar 2,7%, naik dari 2,6% pada Desember 2025. Jika tingkat pengangguran kembali meningkat, pasar bisa membaca bahwa daya serap tenaga kerja mulai melemah, sehingga berpotensi menahan laju permintaan domestik Jepang.
Pemerintah Umumkan Kebijakan Penting, Pertamina Rilis Harga BBM Non-Subsidi
Pemerintah Indonesia akan mengumumkan serangkaian kebijakan yang ditujukan merespons dampak ekonomi dari perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Sekertaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, pengumuman kebijakan itu akan dilakukan pada pukul 19.00 WIB, hari ini Selasa (31/3/2026).
"Semua kebijakan terkait dengan mitigasi risiko dinamika global (WFH, Penyesuaian Anggaran, B-50, dll), akan diumumkan besok," kata Susiwijono melalui keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).
Sebagaimana diketahui, sejumlah negara-negara tetangga RI telah lebih dulu mengumumkan kebijakan merespons gejolak ekonomi yang dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran. Perang itu dimulai dengan serangan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump ke Iran pada akhir Februari 2026.
PT PERTAMINA hari ini juga akan merilis harga untuk BBM non-subsidi yang berlaku per 1 April. Pengumuman rutin ini akan dirilis sekitar pukul 21.00-22.00 WIB.
Seperti diketahui, Pertamina melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh Indonesia, per 1 Maret 2026.
Produk BBM di SPBU Pertamina, di mana harga BBM jenis RON 92 atau Pertamax naik menjadi Rp 12.300 per liter dari sebelumnya di Februari yang hanya Rp 11.800 per liter. Kemudian Pertamax Green atau RON 95 menjadi Rp 12.900 per liter dari sebelumnya Rp 12.450 per liter.
Tak terkecuali juga dengan Pertamax Turbo menjadi Rp 13.100 per liter dari sebelumnya Rp 12.700 per liter. Lalu Dexlite menjadi Rp 14.200 per liter dari sebelumnya Rp 13.250 per liter. Dan Pertamina Dex menjadi Rp 14.500 per liter dari Rp 13.500 per liter.
Sementara itu, terpantau harga BBM Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan solar subsidi Rp 6.800 per liter.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Raker dan RDP Komisi II DPR RI dengan Menteri PAN RB RI,Kерala BKN RI, Kеpala LAN RI, Керala Arsip Nasional Republik Indonesia, dan Pimpinan Ombudsman RI.
-
RDPU Komisi III DPR RI dengan Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI), Forum Solidaritas Hakim Ad Hoc dan Pengurus Pusat Ikatan Panitera dan Sekretaris Pengadilan Indonesia (IPASPI)
-
Rapat Kerja Komisi II DPR RI dengan Menteri Agraria dan Tatа Ruang/Kepala BPN RI
-
RDP dan RDPU Komisi III DPR RI dengan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Kuasa Hukum Saudara Andrie Yunus (aktivis Kontra)
-
Pidato Gubernur The Fed Williams
- Penjualan Ritel Korea Selatan
- Tingkat Pengangguran Jepang
- Penjualan Ritel Jepang
- NBS PMI Manufaktur China
- Lowongan Kerja AS (JOLTS)
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Bank Mega mennggelar Pemaparan Public Expose 2026 Kinerja Tahun Buku 2025
- Rencana RUPS: JGLE, BAIK, PEVE, BUKA, BDMN, BAJA, & MMLP
- Tanggal DPS Dividen Tunai: PT Bank Central Asia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.